Senin, 31 Januari 2011

Hati yang Beracun

Menjaga Hati
Hari ini saya diingatkan oleh Firman Tuhan akan pentingnya menjaga hati. Karena kalau hati kita tercemar, maka seluruh hidup kita juga tercemar. Kalau hati kita memendam kejengkelan, kebencian, maka dari mata kita juga akan terpancar kebencian. Bisa-bisa kita menjadi reaktif dan tidak proporsional ketika berhadapan dengan orang lain, bahkan yang tidak memiliki kesalahan sama sekali kepada kita.

Matius 6:22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. 

Jadi, ketika bangun pagi, hendaklah aku tidak pergi dengan membiarkan hati yang tercemar, oleh ketidakpuasan, oleh amarah, oleh kejengkelan kepada orang lain. Kalau hati kita bersih, maka dari mata kita akan terpancar ketulusan. Dan ketulusan itu menghangatkan kehidupan, menghangatkan hari.

Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. 

Tuhan tolong aku untuk selalu memelihara hatiku, hati yang mensyukuri kemurahan-Mu, mensyukuri semua kebaikan dan berkat-berkat-Mu, terlebih syukur atas karunia keselamatan-Mu, yang melayakkanku untuk memanggil Engkau Bapa. Biar sepanjang hari ini, aku mampu mengeluarkan hal-hal yang baik, supaya dari mulutku keluar kata-kata yang membangun, dari wajah dan mataku terpancar daya yang membangkitkan pengharapan dan kekuatan, biar hari ini aku menjadi berkat bagi orang lain.

Matius 12:33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. 34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. 35 Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. 

Jangan biarkan hatiku dikuasai oleh si jahat, jangan biarkan dari mulutku keluar kata-kata yang tidak pantas, jangan biarkan dari mataku terpancar kekecewaan dan kebencian, namun kasihMu. Bapa aku mau Engkau selalu menjadi Bapaku.

Baca juga: Hidup di dalam Dia!

Read Amazon books:





Minggu, 30 Januari 2011

Mencapai Kebebasan Finansial (1)

Kebebasan Finansial, financial freedom
Ayat emas:
2 Kor 8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. 

Kaya
Seberapa kaya agar seseorang bisa disebut orang kaya? Menurut survei, di dunia ini sangat jarang orang yang berani mengaku bahwa dirinya adalah orang kaya. Hanya 2% yang berani mengaku sebagai orang kaya. Padahal, Global Rich List London menampilkan data sebagai berikut:

Seandainya Anda memiliki penghasilan Rp 700.000 per bulan, Anda sudah termasuk dalam 50% orang terkaya di dunia.
Seandainya Anda memiliki penghasilan Rp 1 juta per bulan, Anda sudah termasuk dalam 30% orang terkaya di dunia.
Seandainya Anda memiliki penghasilan Rp 2 juta per bulan, Anda sudah termasuk dalam 15% orang terkaya di dunia.
Seandainya Anda memiliki penghasilan Rp 40 juta per bulan, Anda sudah termasuk dalam 1% orang terkaya di dunia.

Bebas Finansial
Artinya, kalau Anda memiliki penghasilan Rp 700.000 saja per bulan, Anda sudah mengalahkan separo penduduk dunia di dalam penghasilan. Kallau penghasilan Anda 1juta per bulan, penghasilan Anda sudah lebih tinggi dibandingkan 70% penduduk dunia lainnya. Kalau Rp 2 juta, Anda sudah lebih kaya daripada 85% penduduk dunia lainnya.

Pertanyaannya: bagaimana bisa orang tetap merasa belum kaya, padahal penghasilannya sudah lebih tinggi dibandingkan separo penduduk dunia, 70% penduduk dunia, bahkan 85% penduduk dunia? Kalau orang memiliki penghasilan Rp 1 jua per bulan, dan ditanya: apakah Anda orang kaya? Bisa dipastikan ia akan terperangah kaget: Ha! Saya orang kaya? Dan mungkin ia akan mengatakan: Kalau penghasilan saya 2 juta rp per bulan, mungkin saya bisa dikatakan kaya. Tetapi ketika kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka yang berpenghasilan Rp 2 juta per bulan, kita juga akan mendaatkan respon yang sama, dan orang itu akan mengatakan, mungkin kalau penghasilannya Rp 5 juta per bulan, ia bisa dikatakan kaya. Demikian seterusnya, bahkan yang berpenghasilan Rp 10 juta, 20 juta, 50 juta, dst.

Tuan atas Uang

Artinya apa: orang akan selalu merasa kebutuhannya jauh lebih besar daripada penghasilannya. Nah, lalu kapan kita bisa menikmati kebebasan finansial, berapa penghasilan yang dibutuhkan agar orang merasa kaya dan terbebas secara finansial? Firman Tuhan mengajarkan beberapa point agar kita bisa terbebas secara finansial. Untuk kali ini, kita akan belajar 1 poin saja.

Pola pikir:
"Sadari bahwa Tuhanlah sumber hidup kita, Tuhanlah pemilik segalanya di dalam hidup kita, Tuhanlah pemilik hidu kita."

Kebebasan Finansial
Cara kita memandang dan mengelola keuangan kita. Kita harus memiliki komitmen untuk memandang dan mengelola keuangan kita sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Kita harus mengubah cara berpikir kita mengenai keuangan.

Matius 9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.

Kanong anggur adalah cara berpikir kita, sedangkan anggur adalah berkat-berkat yang kita terima dari Tuhan. Agar bisa terbebas secara finansial, kita harus memandang keuangan kita sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Kalau kita sadar bahwa Tuhanlah pemilik hidup kita, maka:

1. Kita akan menikmati pemeliharaan Tuhan yang sempurna atas hidup kita. Tuhan menjamin hidup kita karena kita adalah biji mata-Nya.

Kantong Anggur
Matius 6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pulua akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."


Ulangan 32:10 Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. 


Mazmur 17:8. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu 


Zakharia 2:8 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu--sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya--: 

2. Kalau Tuhan sebagai pemilik hidup kita, kita akan gunakan keuangan kita sesuai dengan petunjuk Firman Tuhan. 
Di sini berbicara mengenai cara pengelolaan keuangan yang berkualitas. Manusia sifatnya terbatas, tetapi Tuhan tidak terbatas. Kita mungkin hebat daam mengelola keuangan kita, tetapi Tuhan jauh lebih hebat karena Dia tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dia bisa mengatur keuangan kita secara indah dan tepat. Kalau kita menggunakan keuangan kita sesuai dengan petunjuk Firman Tuhan, Tuhan bisa saja mendatangkan mujizat di dalam keuangan kita.

3. Kalau kita menempatkan Tuhan sebagai sumber hidup kita, kita akanmasuk kepada hubungan pribadi yang semakin intim dengan Tuhan.

Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 

Intim dengan Tuhan
Kalau hati kita menghamba kepada uang, kita akan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang. Dengan cara demikian, memang banyak orang bisa kaya raya di dunia ini. Tetapi apa gunanya semuanya itu kalau pada akhirnya kita kehilangan jiwa kita. Kalau sama-sama bekerja keras, sama-sama keluar keringat, namun pada akhirnya kita kehilangan semuanya itu, maka sia-sialah hidup kita.

Tetapi kalau kita mencari harta di sorga, dengan menempatkan Tuhan sebagai pemilik hidup kita, maka semakin hari kita akan semakin intim dengan Tuhan. Tuhan akan selalu memberkati dan mendatangkan kelimpahan di dalam hidup kita, mengerjakan mujizat di dalam hidup kita, dan pada akhirnya kita akan menerima kemuliaan di sorga.

Baca bagian selanjutnya .... Mencapai Kebebasan Finansial (2)

Baca juga:
Uang Alkitabiah
Pentingnya Merenungkan Firman Tuhan Siang dan Malam
Yahwe Memberiku Kekuatan

Read Amazon books:







Jumat, 28 Januari 2011

Memaafkan dan Melupakan

mengampuni, pengampunan, melupakan
Dibahasakan kembali dari Forgive & Forget  (Tim Jackson)


Saya tidak tahu bagaimana mengampuni dan melupakan. Dan saya menemukan bahwa saya tidak sendirian. Jika mengampuni membutuhkan melupakan, maka kita semua seperti berada di dalam sampan di atas sungai tanpa dayung. Sebaliknya, saya percaya pengampunan adalah perlu karena kita tidak bisa melupakan luka yang telah kita terima.

Seberapa sering Anda meminta maaf kepada seseorang untuk kesalahan yang Anda lakukan dan mendengar, "Oh, tidak usah dipikirkan. Tidak apa-apa." Jika tidak menimbulkan masalah besar, maka mungkin tidak perlu diampuni. Pikiran saya sederhana: Jika saya bisa melupakannya, pengampunan tidak diperlukan. Pengampunan adalah untuk hal-hal yang tidak bisa dilupakan.

Jika melupakan tidak mungkin, lalu bagaimana kita mengampuni hal-hal yang tidak bisa kita lupakan? Dan jika saya tidak bisa melupakan hal-hal yang seharusnya saya maafkan, maka bagaimana saya mengusahakan agar ketidakadilan yang telah menimpaku tidak menyebabkan luka yang sedemikian dalam, agar sakit hati, pengkhianatan, dan tekanan tidak lagi menguasaiku?


Pengampunan berarti saya tidak akan mengijinkan Anda dan apa yang telah Anda lakukan padaku untuk mengendalikanku lagi. Jenis pengampunan ini--yang diminta Yesus dari murid-murid-Nya, datang dari pemahaman yang mendalam bahwa orang yang telah melukai saya--tidak peduli siapa mereka atau apa yang mereka lakukan--tidak memiliki kekuatan untuk menghancurkan apa yang paling bernilai di dalam hidup saya.

Jika ada orang yang dalam cara yang entah bagaimana dapat menghilangkan atau merampok apa yang paling bernilai bagi hidup saya--pekerjaan saya, reputasi saya, pernikahan saya, apa saja--maka saya akan merasa dikendalikan oleh orang tersebut dan saya akan membenci orang itu karenanya. Saya akan melihat orang itu sebagai terus-menerus berdiri menghalangi jalanku dan menyabotase apa yang penting bagi hidupku.


Namun, jika aku tumbuh dengan belajar bagaimana merangkul kebenaran bahwa hidup saya tersembunyi di dalam Kristus di dalam Tuhan (Kolose 3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Tuhan), maka tidak ada yang bisa dilakukan orang lain yang akan menyebabkan aku kehilangan hidupku di dalam Kristus. Aku aman dalam kasih Tuhan (Roma 8:35-39). Jika saya memiliki sikap hati seperti itu, maka segala sesuatu akan menjadi berbeda.



Roma 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 36 Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." 37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. 38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.



Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tapi saya ingin menjadi orang yang lebih bisa mengampuni. Saya  tidak akan menjadi orang yang mudah mengampuni seperti yang saya inginkan. Dengan mudah saya bisa dendam seperti orang yang lain. Tetapi aku berkomitmen untuk belajar untuk lebih bisa mengampuni.  Mengapa? Karena Yesus sudah mengampuni dosa saya yang amat besar (Efesus 4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Tuhan di dalam Kristus telah mengampuni kamu.) Pengampunan saya belumlah seberapa dibandingkan dengan betapa besarnya pengampunan yang diberikan Yesus bagiku, yang telah menghapuskan semua pelanggaran dan kesalahanku. Mengikuti teladan-Nya telah membebaskanku untuk tidak dikendalikan oleh apa yang telah dilakukan orang lain terhadapku.  


Mengampuni dan tidak membiarkan diri dikendalikan oleh apa yang tidak bisa kita lupakan. . . itulah pengampunan.


Baca juga: Di dalam Kristus ada belas kasih!

Read Amazon books!
How To Forgive Ourselves Totally



Kamis, 27 Januari 2011

Hidup yang Sebenarnya: Tetap Hidup di dalam Dia (2)

Dibahasakan kembali dari Rooted And Established (Part Three)
Ayat yang dibahas:
Bangunan yang Kuat
Kolose 2:6-7 2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. 2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Sebelumnya kita belajar bahwa hidup dalam Tuhan berawal dari hubungan dengan Tuhan melalui Kristus dan bagaimana hubungan itu membuat kita bisa hidup di dalam Tuhan. Sekarang kita melihat dua kunci final bagi hidup yang berakar dan tertancap kuat di dalam Dia.

Dasar (ayat 7a)
Gaya hidup yang berakar dalam Tuhan tidak muncul begitu saja, secara tiba-tiba. Dibutuhkan syarat bahwa kita berakar kuat seperti pohon yang hijau dalam Mazmur 1. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dengan terancap kuat melalui tiga cara yang vital:
1) “di dalam Dia”- “berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia Hal ini berbicara mengenai kedalaman dan kualitas hubungan pribadi kita dengan-Nya, karena kita terus melanjutkan apa yang sudah kita mulai. Orang Kristen bukanlah seperti tanaman tumbleweeds "yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran (Ef. 4:14). "Kita juga tidak seperti tumbuhan  “transplants” yang berulang-ulang dipindah dari satu tanah ke tanah yang lain. Sekali kita berakar oleh iman dalam Kristus, tidak ada perlunya untu mengganti tanahnya. Akar menyerap dan membawa naik kesuburan sehingga pohon bisa bertumbuh. Akar juga memberi kekuatan dan kekokohan."


2) “bertambah teguh dalam iman.” Pondasi kita adalah di dalam Dia dan di dalam Firman yang diberikanNya kepada kita, karena tidak saja kita  ini seperti pohon, kita juga seperti bangunan yang sedang dibangun ... dan yang masih dalam tahap meletakkan dasar bangunan. "Ketika kita mempercayakan diri kepada Kristus untuk keselamatan kita, kita sedang dibangun di atas pondasi; sejak itu, kita bertumbuh dalam rahmat. Membuat pertumbuhan rohani artinya terus-menerus menambah ketiinggian bangunan bait kemuliaan Tuhan. 
3) “yang telah diajarkan kepadamu- Ingat kembali Mazmur 1. Alasan kenapa orang yang berbahagia adalah seperti pohon adalah karena akar-akarnya semakin mendalam. Kesepadanan dengan anak Tuhan (Mazmur 1:2) adalah bahwa kita seharusnya menjadi orang yang merenungkan Taurat-Nya (Firman) siang dan malam. Kita terus-menerus dan secara konsisten memberi makan jiwa kita dengan Firman Tuhan.
Hidup yang Berbuah
Paulus beralih dari gambaran berjalan (hidup di dalam) kepada analogi pohon kemudian kepada konsep bangunan—tetapi maksudnya tetap sama. Kehidupan kita harus berakar dan tertancap kuat di dalam Kristus kalau ingin efektif dan berbuah.
Hati (ayat.7b)
melimpah dengan syukur
Akhirnya, efektivitas kehidupan kita bagi Dia dan dalam cara yang mencerminkan Diri-Nya adalah bahwa kita mengakui bahwa semua yang kita miliki dan semua yang ada pada diri kita adalah karena rahmat-Nya dan semua berasal dari-Nya ... suatu sikap hati yang melimpah dengan syukur adalah sebuah ungkapan akan kesadaran bahwa apa yang kita miliki tidak ada yang tidak diberikan oleh Dia.


Kita diselamatkan oleh Dia, berakar dalam Dia, menyerap semua sumber kehidupan kita dari Dia—semua berkat kehidupan mendorong kita untuk mengucap syukur kepada-Nya!



Read Amazon books!





Selasa, 25 Januari 2011

Hidup yang Sebenarnya: Tetap Hidup di dalam Dia

Read Amazon books:


Pohon di tepi aliran sungai
Pohon cukup menarik untuk diamati. Pohon menyediakan bagi kita banyak hal: oksigen, buah, tempat tinggal, kayu, kertas -- pohon sangat penting untuk hidup kita di dunia. Tetapi ketika kita melihat pohon, kita hanya melihat sebagian dari pohon tersebut. Kita melihat batangnya dan cabang-cabangnya serta daun-daunnya, tetapi itu bukan bagian yang paling penting. Bagian yang paling penting adalah sistem akar. Agar sebatang pohon bisa tumbu sehat, akar-akarnya harus mengembang setidak-tidaknya sejauh bentangan tudung pohon tersebut. Pohon yang sistem akarnya lemah tidak akan menjadi kuat dan tidak akan mampu menahan angin atau badai. Sistem akar adalah kunci bagi kesehatan, kekuatan, dan stabilitas pohon. 
Mungkin itulah sebabnya Pemazmur menulis mengenai "orang yang berbahagia":
Mazmur 1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil
"Yang ditanam" atau dalam bahasa Inggrisnya “firmly planted” berbicara mengenai perlunya sistem akar yang sehat! Daun-daun dan buah tergantung pada pohon yang tertanam kuat di mana ia bisa bertumbuh dan menjadi subur.
Hal yang sama berlaku juga bagi "orang yang berbahagia" -- pertanyaannya adalah: Dari manakah kita mendapatkan sistem akar yang kuat? Bagaimanakah hal itu bisa terjadi?
Untuk mengerti jawabannya, kita bisa belajar dari Kolose, ketika Paulus mengajari jemaat itu apa artinya menjadi umat Tuhan dan tubuh Kristus. 
Kolose 2:6-7 2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. 2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Therefore as you have received Christ Jesus the Lord, so walk in Him, having been firmly rooted and now being built up in Him and established in your faith, just as you were instructed, and overflowing with gratitude. (Col.2:6-7)
Jadi langkah awalnya adalah ... 
Hubungan (ayat 6a)
Perhatikan bahwa Paulus memberikan persyaratan bagi kehidupan yang berakar kuat, yaitu hubungan yang hidup dan sejati dengan.
"Kamu telah menerima Kristus Yesus" 
Perhatikan, ini sangat penting. Kita menerima Kristus—kita tidak menerima kredo atau doktrin atau pandangan teologis. Kita menerima pribadi atau person Putera Tuhan. Secara otomatis, hal ini membuat pengalaman Kristen kita menjadi personal dan interpersonal.
Tanpa Kristus, hidup kita tidak ada substansi nyata. Tetapi bagaimana kita menerima-Nya? Mengenali kebutuhan kita, menaruh kepercayaan dan menyerahkan hidup kepadaNya, dan menjadikan-Nya sebagai tempat bertumpu, Sumber hidup dan tempat mengaduh. Dengan cara demikianlah kita menerima-Nya—dan dengan cara demikian kita masuk lebih dalam di dalam hubungan kita dengan-Nya. Semuanya tergantung pada-Nya.
Tantangan (ayat 6b)
Mbonceng Yesus
Memiliki hubungan dengan Kristus adalah satu hal—tetapi secara konsisten menghidupi hubungan tersebut adalah hal yang lain sama sekali. Paulus mengatakan bahwa karena kita memiliki hubungan dengan-Nya, hidup kita hendaklah  "tetap di dalam Dia." atau dalam bahasa Inggrisnya, "walk in Him."
Ini sangat penting, karena "tetap di dalam" atau "berjalan di dalam" mewakili kehidupan harian dari orang-orang percaya. Ketika menjalani hidup ini, kita sedang mengejawantahkan Kristus yang hidup dan meraja di dalam hidup dan diri kita. 
Gambaran berikut menyatakan kebenaran tersebut:
  • Roma 6:4 "kita akan hidup dalam hidup yang baru" (walk in newness of life)
  • 2 Kor 5:7 "hidup karena percaya, bukan karena melihat" (we walk by faith, not by sight)
  • Gal 5:16 "hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging" (walk by the Spirit, and you will not carry out the desire of the flesh.)
  • Ef 4:1 "supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu" (walk in a manner worthy of the calling with which you have been called)
  • Ef 5: 2 "hiduplah di dalam kasih" (walk in love)
  • Ef 5:15 "perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" (walk, not as unwise men but as wise)
  • 1 Yoh 1:7 "hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang" (walk in the Light as He Himself is in the Light)

Semuanya itu menjelaskan apa yang dikatakan Paulus tentang "tetap di dalam Dia" atau “walk in Him.” Dan sebenarnya kita hanya akan mampu hidup dalam kasih, terang, iman, dst. karena kita tetap di dalam Dia.
Berjalan bersama Yesus
Hal ini menegaskan bahwa kita hendaknya tidak hidup sebagai orang Kristen dalam cara yang "informasional" saja, bahwa informasi itu harus mempengaruhi membawa dampak nyata dalam kehidupan kita sehari lepas sehari.
Pilihan yang kita buat.
Sikap yang kita tunjukkan.
Hubungan yang kita bangun.

Itu semua bagian dari cara hidup kita ... tetap di dalam Dia.

Baca juga:

  • Pentingnya merenungkan Firman Tuhan siang dan malam.
  • Cara hidup Jemaat yang Pertama.
  • Rooted in Jesus Christ: Toward a Radical Ecclesiology




Read Amazon books!


Rooted in Jesus Christ: Toward a Radical Ecclesiology
Embraced by the Spirit: The Untold Blessings of Intimacy with God

Senin, 24 Januari 2011

Crop Circle dan Ketidakpastian Dunia

Crop circle yang terjadi di area persawahan di Sleman Yogyakarta mengundang banyak perhatian. Orang banyak berdatangan untuk menyaksikan sebuah fenomena aneh yang baru pertama kali terjadi di Indonesia itu. Warga setempat melaporkan bahwa Sabtu, 22 Januari, belum ada tanda-tanda aneh di lokasi. Tetapi sehari kemudian, Minggu  23 Januari, warga dibuat heboh dengan munculnya crop circle yang rapi dengan diameter sekitar 70 meter.

Ada beda pendapat berkaitan dengan munculnya crop circle itu. Beberapa pihak meyakini bahwa itu adalah buatan manusia, sementara yang lain mengatakan bahwa crop circle tersebut bukan buatan manusia, karena rebahan padi yang rapi ke satu arah itu sama sekali tidak rusak.

Terlepas dari benar-tidaknya kedua belah pihak mengenai keaslian crop circle tersebut, yang jelas ini memang merupakan fenomena yang aneh dan menarik. Aneh karena penduduk setempat tidak melaporkan adanya tanda-tanda aktivitas manusia sebelum munculnya fenomena tersebut.

Fenomena yang aneh seperti ini membuat banyak orang berspekulasi. Semuanya menjadi tidak pasti. Apa yang selama ini diyakini sebagai sebuah kebenaran, menjadi tidak pasti. Namun sebagai orang percaya, kita tahu bahwa bumi dan alam semesta ini memang tidak pasti.

Hanya ada satu yang pasti: Tuhanlah yang pasti. Matius 24:35 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Firman telah mengingatkan kita bahwa langit dan bumi ini akan berlalu. Matius 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Tetapi Firman Tuhan tinggal tetap dan semuanya akan tergenapi.

Tuhanlah yang menjadikan langit dan bumi. Kejadian 2:1. Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Hanya kepadaNyalah kita harus berpegang. Dan hanya dariNyalah kita mengharapkan berkat dan perlindungan. Mazmur 115:15 Diberkatilah kamu oleh TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.


Read Amazon Books!