Jumat, 23 Juni 2017

Tuhan memberikan talenta kepada hamba-Nya menurut kesanggupannya. Ada yang karena kesanggupannya diberikan 5 talenta, ada yang 2, dan ada yang satu talenta. Yang menerima 5 talenta mengusahakannya sehingga beroleh laba 5 talenta, menjadi 10 talenta. Yang menerima 2 talenta mengusahakannya dan beroleh laba 2 talenta, menjadi 4 talenta.

Ketika tuannya datang, mereka yang menerima 5 itu berkata: "Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta."
Yang menerima 2 talenta berkata, "Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta."

Kedua hamba yang menerima 5 dan 2 talenta itu sebagai titipan kepercayaan. Mereka memahami talenta itu sebagai "yang dipercayakan" kepada mereka. Mereka menerima kepercayaan itu dan dengan penuh tanggung jawab menjaga kepercayaan itu dengan cara mengembangkan atau mengusahakan talenta itu sehingga beroleh laba menjadi dua kali lipat. Keduanya taat menerima kepercayaan itu dan menjalankan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya. Tanpa ragu-ragu mereka langsung menggunakan talenta itu untuk diusahakan dan dikembangkan. Keduanya tidak peduli apa yang akan terjadi ke depan seandainya talenta itu berhasil mereka lipat gandakan. Apakah akan diambil semua oleh tuannya? Ataukah mereka akan menerima sebagian? Keduanya tidak terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Keduanya langsung taat dan mengerjakan kepercayaan itu.

Sedangkan hamba yang menerima satu talenta itu berkata kepada tuannya, "Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!" Hamba ini diberi kepercayaan satu talenta, tetapi ia merasa tidak dipercaya dan, karena merasa tidak jelas dengan apa yang akan terjadi seandainya ia mengusahakan talenta itu, apakah akan menjadi miliknya, atau harus dikembalikan kepada tuannya, maka ia hanya menyembunyikan talenta itu. Hamba ini begitu digelisahkan dengan "nasib" masa depan dan ketidakpastian akan masa depan. Ia takut kalau seandainya ia berhasil mengupayakan talenta itu menjadi banyak, tuannya dengan kejam akan mengambil semuanya tanpa memberinya bagian. Dan kalau itu yang terjadi, ia tidak rela. Dihantui oleh kekhawatirannya yang didorong oleh ketamakan, ia memilih mendiamkan dan menyembunyikan talenta itu. Lebih baik tidak melakukan apa-apa daripada bersusah payah hanya untuk menguntungkan orang lain.

Kedua hamba yang menerima 5 dan 2 talenta adalah hamba-hamba yang ikhlas bekerja tanpa merisaukan apa yang akan mereka terima. Mereka menunjukkan ketaatan penuh kepada tuannya. Mereka bahkan tidak peduli seandainya mereka berhasil mengembangkan talenta itu menjadi berlipat-lipat tetapi akhirnya semuanya akan diambil oleh tuannya. Tugas mereka adalah mengusahakan agar talenta itu menghasilkan laba. Untuk siapakah laba itu? Apakah mereka akan mendapatkan bagian dari laba itu? Mereka tidak merisaukan pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka hanya taat menjalankan perintah tuannya.

Kedua hamba yang menerima 5 dan 2 talenta itu adalah hamba-hamba yang ikhlas berbagi. Mereka sadar betul bahwa talenta yang mereka terima itu adalah titipan. Bukan menjadi hak milik. Kepada siapa laba akan diberikan oleh tuannya, tidaklah menjadi persoalan penting bagi mereka. Yang penting adalah mereka melakukan perintah tuannya.
Sebaliknya, hamba yang menerima satu talenta tidak mau mengusahakannya karena ia tidak rela kalau hasil jerih payahnya akan diambil dari dirinya.


25:14    "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
25:15    Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
25:16    Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
25:17    Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
25:18    Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
25:19    Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
25:20    Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
25:21    Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
25:22    Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
25:23    Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
25:24    Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
25:25    Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
25:26    Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
25:27    Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
25:28    Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
25:29    Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.