Jumat, 25 Februari 2011

Syukur kepadaMu Tuhan

Matius 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Aku bersyukur kepada-Mu Yahwe atas keagunganMu, atas segala perintah-perintahMu, segala tuntunan-tuntunanMu. Hari ini aku merasakan dan belajar bagaimana Engkau memberikan kelegaan kepadaku. Ketika kami pasrah dan datang kepadaMu, hari ini benar-benar aku menikmati kelegaan yang berasal dariMu.

Memang Engkau telah memasang kuk pada pundakku, tetapi aku telah belajar dariMu, dari kelembutan dan kerendah-hatianMu, dan kuk itu pun terasa ringan. Hari ini aku menikmati ketenangan dariMu. Di tengah-tengah semua pergumulan hidupku. Di tengah-tengah beban dan persoalan hidupku.

Terimakasih Yahwe, atas semua anugerahMu. Hari ini aku bangun dengan kekuatan baru. Aku tahu berkat baru Kau limpahkan pada kami. Aku tahu rancangan yang indah sedang Engkau kerjakan bagi kehidupan kami. Aku tahu kemenangan sudah Engkau siapkan bagi kami. Aku tahu, Engkau tidak akan pernah membiarkan kami berjalan sendirian.

Yahwe hari ini aku bersandar kepadaMu. Hari ini aku serahkan hidup, jiwa, roh, dan seluruh pergumulan hidup keluarga kami kepadaMu. Aku tahu berkat-berkat dan kemenangan sedang menanti kami.

Terima kasih Yahwe. Karena hanya Engkaulah Tuhan. Segala hormat dan kemuliaan hanyalah untukMu.

Amin

Baca juga:
Pentingnya merenungkan Firman Tuhan siang dan malam.
Rancangan Tuhan rancangan damai sejahtera.
Kadang apa yang baik ternyata tidak dikehendaki Tuhan.

Rabu, 23 Februari 2011

Orang yang Tidak Kuat di Sekitar Kita

Tangan yang menolong
Roma 15:1. Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri. 

Menopang orang lain
Firman Tuhan di atas membuat saya terbelalak. Seakan-akan saya sudah melenceng jauh dan tiba-tiba ditarik, direnggut dengan paksa ke jalur. Yah! Jalur yang benar untuk orang yang mengaku Kristen adalah: tanggunglah kelemahan orang yang tidak kuat. Saya harus menanggung! Tidak seperti biasanya, malah memanfaatkan atau bahkan memperalat mereka yang tidak kuat, untuk .... persis ini juga yang ditegur Firman hari ini ... kesenangan atau keberuntungan kita sendiri.

Menolong Orang Lain
Saya jadi diingatkan akan pola hidup yang dipatenkan Yesus untuk para pengikut-Nya, ketika Dia meminta kita berjalan 2 mil ketika diminta 1 mil. Pada waktu itu, bangsa Yahudi sedang dijajah oleh bangsa Roma dan adalah sah bagi setiap orang Roma untuk meminta orang Yahudi berjalan 1 mil untuk membawakan bebannya. Terhadap keadaan penindasan dan ketidakadilan ini, ada 3 reaksi umum: (1) memberontak, (2) acuh, atau (3) melarikan diri. Tetapi Yesus menawarkan pilihan lain: melayani. Jelas sikap ini adalah sikap yang tidak umum dan aneh. Ini akan membuat sang penindas heran: "Orang ini benar-benar aneh, biasanya yang lain bersungut-sungut, tetapi yang satu ini kok malah melakukannya dengan sukacita, bahkan mau melakukan lebih.

Nah, demikian pula Firman Tuhan hari ini, melayani! Biasanya kita fokus: kemajuanku, perkembangan(karir, studi, pelayanan, kekayaan, relasi, dst)-ku, kesenanganku, kenyamananku, kebaikanku, keuntunganku. Tapi, ternyata kita hadir dengan hakekat untuk: melayani. Ternyata adalah menjadi tanggungjawabku, tugasku, untuk mencari kesenangan, astaga, bukan diriku, tetapi orang lain, demi kebaikan orang lain, demi untuk membangun orang lain. Apa urusannya kok membangun orang lain?

Siap Menolong
Nah, memang kita cenderung merasa tidak memiliki tanggung jawab atas orang lain. Sering karena situasi yang membuat kita tidak sempat. Mana sempat ... ngurusin diri sendiri, keluarga sendiri saja masih terasa kurang dan kurang, bagaimana aku harus ngurusin orang lain? Persis orientasi diri inilah yang membuat kita lupa akan kesejatian panggilan hidup kita.

Hidup Kristen adalah hidup karena Kristus, untuk Kristus dan dalam Kristus. Sebagai orang berdosa, kita layak mati. Roma 6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Yahwe ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Dosa menjadikan kita layak mati. Tetapi oleh kemurahan Tuhan, kita beroleh hidup yang kekal. Oleh karena kasih karunia dan kemurahan Yahwe ini, kita yang seharusnya mati tetapi menerima karunia hidup, sudah seharusnya menjalani hidup ini dengan penuh sukacita dan syukur ... dan karena sukacita atas karunia keselamatan itulah ... adalah efek normal dan wajar kalau kita juga ingin agar orang lain juga beroleh kasih karunia yang sama.

Membantu yang Lemah
Sebagaimana Kristus telah mengorbankan kesenangan-Nya demi keselamatan kita, sewajarnyalah kita berbagi sukacita dan mengorbankan kesenangan diri demi untuk kebaikan dan kebangunan orang lain. Hidup Yesus sepanjang hidupNya adalah untuk orang lain, untuk melayani orang lain, untuk menyelamatkan domba-domba yang hilang, untuk menyelamatkan orang lain. Hidup Kristen adalah juga hidup untuk membangun orang lain, untuk menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Hidup Kristen tidaklah untuk memberontak terhadap ketidakadilan orang lain, bukan untuk acuh terhadap kejahatan dunia, tidak untuk lari dari kenyataan dan tanggung jawab hidup, melainkan untuk bersaksi sebagai orang yang telah menerima kasih karunia keselamatan melalui hidup melayani.

Baca juga:
Hidup untuk melayani.
Kasih karunia keselamayan Yahwe.
Hidup untuk Kristus.



Senin, 21 Februari 2011

Yesus Memperhatikan Persembahan

Read Amazon books:

persembahan
Markus 12:41. Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Kantong Persembahan
Dari kutipan di atas, saya belajar beberapa hal penting berkaitan dengan persembahan:

1. Yesus memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
Ternyata Yesus memperhatikan bagaimana kita memberikan persembahan. Jadi ketika kita datang ke gereja, dan ketika saatnya kita melakukan persembahan, saat itu Yesus memperhatikan bagaimana kita masing-masing memberikan persembahan. Dari sini saya tahu bahwa bagi Yesus persembahan adalah hal yang penting, karena kalau tidak penting, Dia tidak akan memperhatikan bagaimana orang memberikan persembahan.

2. Bukan jumlah yang diperhatikan Yesus tetapi sikap hati.
Banyak orang kaya memberikan persembahan yang besar, tetapi Yesus justru fokus kepada janda miskin yang memberikan satu duit. Dan menariknya, meski hanya satu duit, Yesus mengatakan bahwa janda itu memberikan lebih banyak daripada kebanyakan orang kaya yang memberikan persembahan yang besar.

Persembahan Hati
Kok bisa? Jelas-jelas janda itu hanya memberikan satu duit. Kenapa dikatakan lebih besar? Nah, alasan yang diberikan Yesus adalah bahwa orang-orang kaya itu memberi dari kelimpahannya, sehingga meskipun persembahan mereka besar, tetapi bagi mereka jumlahnya mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan kekayaan mereka.

Sedangkan janda tersebut memberi dari kekurangannya, bahkan dikatakan "semua yang ada padanya," bahkan "seluruh nafkahnya."

Ternyata persembahan satu duit itu "berhasil" menyentuh hati Yesus. Karena yang satu duit itu diberikan dalam keadaan kekurangan.

Dari sini saya belajar: sebenarnya bagaimana seharusnya sikap kita ketika memberikan persembahan kepada Tuhan melalui gereja?
Persembahan Terbaik
1. Kita biasanya menunggu kelimpahan untuk memberikan persembahan, menunggu diberkati lebih besar. Tetapi justru Yesus menekankan bahwa saat yang tepat untuk memberikan persembahan adalah saat di mana kita dalam keadaan kekurangan, dalam keadaan miskin, ketika penghasilan atau gaji yang kita terima bahkan tidak cukup untuk nafkah kita. Itulah persembahan yang berkenan. Pelajaran ini penting karena kalau kita tidak bisa setia ketika dalam keadaan kekurangan, maka akan sulit untuk setia ketika dalam keadaan berkelimpahan.
2. Persembahan yang benar adalah dilakukan dengan mendahulukan Tuhan sebagai prioritas pertama dibandingkan dengan kebutuhan kita, bahkan kebutuhan pokok kita. Dalam kutipan di atas dikatakan: semua yang ada padanya, seluruh nafkahnya. Di sini kita pasti akan bertanya-tanya: bagaimana kita akan hidup kalau kita memberikan seluruh nafkah kita?
Tentu saja Tuhan tidak memaksudkan agar kita memberikan semua uang kita ke dalam kotak persembahan, tetapi yang bisa saya petik dari pelajaran ini adalah sikap hati kita saat memberikan persembahan:

Persembahan Roti Anggur
3. Sikap hati yang bergantung penuh pada kuasa dan penyelenggaraan serta kemurahan Tuhan. Ketika kita memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan, sikap hati kita adalah sikap hati yang tulus penuh syukur dan percaya penuh akan penyelenggaraan Tuhan. Sehingga kita memberi dengan sukacita. Janganlah ketika kita memberikan persembahan, hati kita khawatir akan apa yang akan kita makan, apa yang akan kita pakai, bagaimana masa depan kita, dsb. Tetapi berilah dengan penuh ungkapan syukur atas seluruh kebesaran dan kemurahan Tuhan di dalam hidup kita.

Tuhan ajar aku untuk lebih berserah kepadaMu.
Amin

Baca juga: 4 Pelajaran Yahwe untuk Tubuh.

Check other Amazon books!

The Whole Life Offering: Christianity as Philanthropy

Jumat, 18 Februari 2011

"Dilarang" Berbuat Baik

Hidup dalam tuntunan Roh
Hidup dalam Roh Kudus
Dalam Kisah Para Rasul beberapa kali terjadi di mana Roh Kudus "melarang" murid-murid untuk berbuat baik, dalam hal ini memberitakan Injil. Berikut ini contohnya:


Kisah Para Rasul 16:6-7. Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.


Dalam kutipan itu jelas bahwa mereka, para murid, yakni Paulus, Silas, dan Timotius, dilarang oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil di Asia dan di Bitinia. Tidak dijelaskan alasannya mengapa mereka tidak boleh ke daerah itu untuk memberitakan Injil. Tetapi yang jelas mereka dicegah atau tidak diizinkan.

Di sini kita belajar bahwa ketika orang Kristen hidup dalam tuntunan Roh, Roh akan membimbing kita dalam setiap langkah dan keputusan kita. Dan kadang, ketika menurut pandangan  kita, sebagai manusia, apa yang akan kita lakukan itu baik, bahkan untuk pekerjaan Tuhan, Roh Kudus tidak mengizinkan kita atau mencegah kita melakukannya. Jadi, apa yang baik dalam pandangan manusia, belum tentu berkenan di hati Tuhan, bahkan ketika kebaikan itu benar-benar akan kita lakukan untuk pekerjaan Tuhan.

Ketika kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, maka Tuhan akan menuntun langkah-langkah hidup kita. Dalam Kisah beberapa kali ditemukan bagaimana Roh Tuhan menuntun pekerjaan para rasul dan para murid dan para nabi di dalam pelayanan mereka. Dalam Kis 8:26-39 Roh Tuhan membimbing Filipus untuk menempuh jalan tertentu agar bertemu dengan sida-sida dari Etiopia yang rindu untuk mengenal Tuhan, untuk membaptisnya, dan kemudian Roh Tuhan bahkan membawa Filipus dalam sekejab ke tempat lain.

Hidup Menurut Roh Kudus
Dalam kisah pertobatan Saulus (Kis 9:10-17), Roh Tuhan juga menuntun Ananias untuk pergi ke rumah di mana Saulus berada untuk mendoakannya dan menyembuhkan matanya serta mencurahkan Roh Kudus dengan berdoa dan menumpangkan tangannya ke atas Saulus.

Roh Kudus juga melalui membimbing Petrus untuk membaptis Kornelius, seorang yang bukan Yahudi, dan melaluinya Roh Kudus juga tercurah kepada bangsa bukan Yahudi sehingga mereka juga berkata-kata dalam bahasa roh (Kis 10:1-48).

Milikilah hubungan yang intim dengan Roh Kudus dan biarlah hidupmu dituntun oleh-Nya dalam setiap langkahmu.


Baca juga: Hidup menurut Roh

Selasa, 15 Februari 2011

Kebebasan Finansial (3): Muliakanlah Tuhan dengan Hartamu

Sebelumnya kita telah membahas 2 prinsip penting untuk meraih kebebasan finansial. Yang pertama adalah pola pikir kita; yang kedua adalah memiliki hati yang bijaksana. Sekarang kita akan membahas poin 3 dalam prinsip hidup berkebebasan secara finansial. Prinsip yang ketiga adalah:

Muliakanlah Tuhan dengan hartamu!

Amsal 3:9 Muliakanlah Yahwe dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, 10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. 

Itulah nasehat dari orang yang sangat kaya raya, yakni raja Salomo, berkaitan dengan harta kita. Kalau sekarang ini banyak di antara kita mau membayar mahal untuk ikut seminar tentang strategi menuju kebebasan finansial, hari ini kita mendapatkan nasehat gratis dari orang yang dicatat dalam Kitab Suci sebagai orang yang paling kaya yang pernah hidup di dunia. Salah satu bukti kekayaan Salomo dinyatakan dalam ayat berikut:

1 Raja-Raja 10:27 Raja membuat banyaknya perak di Yerusalem sama seperti batu, dan banyaknya pohon kayu aras sama seperti pohon ara yang tumbuh di Daerah Bukit. 


Beranggung jawabkah kita?

Bertanggung jawabkah kita?
Penyembahan yang sejati tidak hanya melalui doa penyembahan dengan mengangkat lagu penyembahan, tetapi melalui cara hidup kita dalam setiap aspek hidup kita: bagaimana kita mempergunakan waktu, tenaga, pikiran termasuk keuangan kita.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar kita bisa memuliakan Tuhan dengan harta kita.

1. Bertanggung jawab secara keuangan untuk hidup kita pribadi.
Bagaimana kita mempergunakan uang untuk kepentingan pribadi kita? Apakah kita menggunakan uang untuk semakin memperbaiki kesehatan kita? mempertumbuhkan iman kita? memperkembangkan pribadi kita? atau malah sebaliknya: memperlemah kesehatan?

2. Bertanggung jawab secara keuangan untuk keluarga kita.
Kebutuhan Pokok Keluarga
Selain kebutuhan pribadi kita, kita juga bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga kita: makanan, sandang, dan papan. Ini harus menjadi prioritas pertama di dalam keluarga.

3. Bertanggung jawab secara keuangan untuk orang lain.
Mother Teresa - Menjadi Berkat
Kita juga dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Kejadian 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
Amsal 19:17. Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Yahwe, yang akan membalas perbuatannya itu. 
Kita dipanggil untuk menjadi berkat, baik untuk orang yang sudah diberkati secara finansial (karena Tuhan akan memberkati orang-orang yang memberkati Abrahan, yang adalah orang yang sudah diberkati Tuhan), maupun untuk orang yang lemah, dan dengan demikian kita memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatan baik kita.


4. Bertanggung jawab secara keuangan untuk rumah Tuhan.

Kita bertanggung jawab untuk menjaga persediaan makanan di rumah Tuhan tetap ada, supaya pekerjaan Tuhan tetap bisa dilakukan, dan dengan demikian Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada kita.
Maleakhi 3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Yahwe semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Kita bahkan harus mengutamakan pekerjaan Tuhan di atas kebutuhan kita pribadi. Dari 1 Raja-Raja 17:8-16 kita belajar bagaimana Tuhan mencurahkan berkat kepada janda di Sarfat yang atas perintah Tuhan melalui Elia berani mengorbankan kebutuhan bagi keberlangsungan hidup anak dan dirinya sendiri bagi hamba Tuhan.
1 Raja-Raja 17:8. Maka datanglah firman Yahwe kepada Elia: 9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." 10 Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." 11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti." 12 Perempuan itu menjawab: "Demi Yahwe, Tuhanmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." 13 Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. 14 Sebab beginilah firman Yahwe, Tuhan Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu Yahwe memberi hujan ke atas muka bumi." 15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. 16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman Yahwe yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Pembangunan Rumah Tuhan
Dari kisah janda Sarfat kita juga belajar bagaimana Tuhan bisa memberi berkat kepada kita bahkan melalui orang yang sangat berkekurangan. Bagaimana Tuhan akan memelihara dan memberkati kita kalau kita terlebih dahulu mengutamakan pekerjaan Tuhan juga ditekankan oleh Yesus sendiri:
Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.  


Berikut ini adalah salam satu pedoman yang ideal bagaimana kita bisa mengelola keuangan kita untuk memuliakan Tuhan:
Pertama: 20% keuangan kita dipersembahkan untuk pekerjaan Tuhan, yang terdiri dari
10% untuk perpuluhan
10% untuk menabur

Kedua: 80% sisanya, kita bagi untuk kebutuhan kita yang lain, misalnya sebagai berikut:
10% untuk tabungan, atau membayar hutang
30% untuk tempat tinggal, untuk biaya kontrak rumah, biaya perawatan rumah
10% untuk biaya transport
30% untuk lain-lain: sandang, pangan, membayar tagihan-tagihan rutin, membayar sekolah, dll

Baca posting sebelumnya:
Kebebasan Finansial (1): Memiliki Pola Pikir yang Benar
Kebebasan Finansial (2): Memiliki Hati yang Bijaksana




Senin, 14 Februari 2011

Dipanggil untuk Melayani

melayani
Tuhan yang Melayani
Filipi 2:5-10 5. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6. yang walaupun dalam rupa Yahwe, tidak menganggap kesetaraan dengan Yahwe itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 9 Itulah sebabnya Yahwe sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi


Melayani Satu Sama Lain
Gereja Filipi sedang menghadapi dua masalah, 1) masalah eksternal, yakni datangnya pengajaran-pengajaran yang palsu, dan 2) masalah internal, ketidakharmonisan di dalam jemaat.


Iblis hari-hari ini sedang merusak segala bentuk hubungan-- hubungan keluarga, hubungan di dunia kerja, hubungan di gereja, dst. Iblis tahu kalau ada keharmonisan, kalau ada kata sepakat, maka berkah-berkah akan tercurah dan nama Tuhan akan dimuliakan.


Mazmur 133:1-3 
1 Sungguh, alngkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan le leher jubahnya.
Melayani
Melayani Yesus
3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Matius 18:19-20
19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. 20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.

Kejadian 11:6
6 dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

Kerukunan bisa mendatangkan berkat yang luar biasa. Dengan rukun, segala sesuatu yang diusahakan akan tercapai.

Bagaimana kita bisa rukun?

(Fil 2:5) Dengan meniru Yesus: memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus.
Yesus adalah pribadi yang tidak egois. Banyak gereja yang lumpuh karena egois. Padahal kita dipanggil untuk hidup tidak hanya untuk diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk melayani orang lain. Seperti Yesus yang mau melayani.
Yesus pribadi yang rendah hati. Ia rela mengosongkan dirinya serupa dengan hamba. Taat sampai mati, meskipun sebenarnya Ia memiliki kuasa untuk melawan, namun Ia taat sampai mati.
Yesus rela berkorban. Yesus menjadi hamba yang setia, dan ia rela berkorban, bahkan mengorbankan diri-Nya dengan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

Nah, coba kita melihat pola hubungan kita dengan orang lain. Coba perhatikan, ketika kita bertemu orang lain, pertanyaan apa yang muncul di hati kita, apakah pertanyaan yang terasa tidak asing ini: aku bisa dapat apa ya dari orang itu? Kalau itu pertanyaan yang muncul, berarti kita sedang memanipulasi. Seperti Yesus, setiap kali bertemu orang lain, coba ajukan sebuah pertanyaan ini: apa yang bisa aku berikan kepada orang itu? Bukan sebaliknya. Bukannya menyedot, melainkan memberi. Dan ketika kita menikah, pertanyaan yang seharusnya muncul adalah: Apa yang bisa kulakukan agar istri atau suamiku bahagia, bukan sebaliknya: Aku ingin menikah dengan dia agar berbahagia.

Seperti juga Paulus. Paulus memiliki skala prioritas sebagai berikut: Pertama Tuhan, Kedua orang lain, ketiga baru diri sendiri.

Nah, agar kerukunan bisa terjadi, karena kita itu makhluk sosial, mahkluk komunitas, mata tidak terhindarkan kita akan saling menyakiti, entah sengaja maupun tidak. Akibatnya kita mengalami luka hati. Penting di sini untuk bisa mengampuni. kalau kita mengampuni, ada 5 keuntungan yang bisa kita dapatkan:
1. Kita mendapatkan keuntungan kejiwaan: jiwa dan emosi kita dipulihkan
2. Secara fisik kita menjadi lebih sehat. Ada sebuah penelitian di Universitas Michigan, bahwa wanita yang membenci orang lain (dan tidak mengampuni) memiliki kemungkinan 3 kali lebih besar untuk cepat mati, dan laki-laki yang membenci memiliki kemungkinan 6 kali lebih besar untuk cepat mati.
3. Secara hubungan kita dipulihkan
4. Secara spiritual kita diberkati.
5. Dari sudut pandang Kerajaan Sorga, hidup kita akan punya dampak bagi orang lain.


Jadi, marilah kita melayani




Baca juga: Cara Hidup Jemaat Pertama!







Minggu, 13 Februari 2011

Kuasa Berkat

Kuasa Berkat
Berkat Abraham
Kejadian 12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

Kejadian 27:27-29 Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: “Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN. Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.

Ishak memberkati Yakub dan Yakub diberkati menjadi bangsa yang besar. Ayah memberkati anaknya.

Tuhan Memberkati
Allah memberkati Abraham dan keturunannya. Kejadian 22:17-18Aku akan memberkati engkau
berlimpah-limpah ... Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” Allah memberkati Abraham untuk menjadi berkat bagi semua bangsa di bumi. Allah akan memberkati orang yang memberkati Abraham dan mengutuk orang yang mengutuk Abraham.

Kita, secara iman, juga merupakan keturunan Abraham (Galatia 3:29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah). Kita mewarisi berkat Abraham. Oleh sebab itu, banyak-banyaklah memberkati orang (siapa tahu orang itu juga keturunan Abraham) supaya kitra juga diberkati oleh Allah.

Sama seperti Iskah memberkati anaknya, kita juga bisa memberkati anak-anak kita. Ketika anak kita sudah tidur terpulas, berdoalah dan berkatilah mereka. Tumpangkan tangan atas mereka dan berdoalah untuk perjalanan hidupnya, studinya, pekerjaannya kelak, perjodohannya, keluarga yang kelak akan dibentuknya, pelayanan serta pertumbuhan rohaninya.
Berkat Melkisedek

Anda juga bisa memberkati orang lain, seperti yang dipesankan Paulus (Roma 12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”).

Semakin banyak memberkati, Allah juga akan semakin memberkati kita.

Berkatilah anak-anakmu dan biarlah mereka menerima janji-janji Allah dalam hidup Anda.



Sabtu, 12 Februari 2011

Meminta Percaya Menerima

Meminta Percaya Menerima
Percaya Segalanya Mungkin
Markus 11:24 Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
Matius 21:22 Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”
Yohanes 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Meminta dan Percaya
Kita telah diangkat menjadi anak-anak Yahwe oleh karena iman kita. Dengan demikian, kita adalah anak Raja di atas segala raja, Raja yang memiliki segalanya. Raja yang sangat kaya raya. Sebagai anak Raja, kita juga memiliki hak anak Raja. Semua yang menjadi milik Raja, juga menjadi milik kita. Dan oleh karena Raja, yang adalah Bapa kita, sangat mengasihi kita, maka apapun yang kita minta, kita percaya bahwa Raja akan mengabulkannya.

Jadi, ketika kita memiliki permohonan kepada Bapa, percayalah, bahwa di saat kita sedang berdoa, Bapa telah menyediakan apa yang kita doakan bagi kita. Percayalah dan bersikaplah bahwa kita telah mendapatkannya. Meskipun secara fisik kita belum menerimanya, namun percayalah bahwa kita sebenarnya sudah menerimanya. Maka kita akan benar-benar menerimanya.

Meminta Percaya Menerima
Percayalah Kita Sudah Menerimanya!

Bapaku yang di surga, Engkau Yahwe yang sangat baik dan selalu memberikan yang terbaik bagiku. Engkau mengetahui setiap kebutuhanku.
Oleh sebab itu, oleh karena kemurahan dan kasih-Mu, aku mohon ... (sebutkan permohonanmu). Dan aku percaya, saat ini juga Engkau telah menyediakannya bagiku.
Terima kasih Bapa, atas kemurahan-Mu.

Dalam nama Yesus saya berdoa dan mengucap syukur. Amin.


Baca juga: Kepastian Keselamatan dan Keberanian Bersaksi, klik di sini.


Read books from Amazon: