Jumat, 07 Januari 2011

Kasih Agape melandasi kesaksian dan pewartaan yang sejati

Kisah 7:59 Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." 60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

Stefanus dirajam karena dengan keras mengecam kedegilan hati bangsa Israel di hadapan tua-tua. Ia meninggal, namun sebelum itu ia berdoa agar Tuhan tidak menanggungkan dosa pembunuhan itu kepada para perajamnya.

Apa yang bisa saya pelajari dari kisah ini?
1. Stefanus tidak segan-segan menelanjangi kesalahan bangsa Israel di hadapan para pemimpinnya. Ia menceritakan kembali bagaimana nenek moyang mereka tidak menghormati dan tidak menghargai para nabi dan bahkan telah menganiaya dan membantai sebagian dari para nabi. Dan terakhir Stefanus mengatakan bahwa hal yang sama sekarang baru saja diulang oleh bangsa Israel: membunuh Yesus.

Dan sebagai akibatnya:

2. Stefanus menghadapi risiko dirajam.
Teguran keras Stefanus berbuah pada kematiannya secara dirajam. Kematian adalah risiko yang lazim dialami oleh orang yang berani berkata jujur dan blak-blakan mengenai kebobrokan masyarakatnya. Namun sikap Stefanus menghadapi risiko hukuman mati ini benar-benar sesuatu yang menarik untuk diamati: ia tidak mengutuki orang yang membunuhnya, sebaliknya, ia berdoa agar dosa pembunuhan itu tidak ditanggungkan kepada para pembunuhnya.

3. Sikap Stefanus ini menunjukkan sebuah kasih yang tulus kepada bangsa yang "dikecamnya." Dari sini kita tahu bahwa sikap keras Stefanus terhadap orang-orang tersebut sebelumnya dilandasi oleh kasih yang tulus. Ia tidak rela orang-orang itu binasa oleh pemberotakan mereka sendiri terhadap Yahwe. Sebab itu ia tida segan-segan mengecam sikap mereka.

Sekali pun tidak ada kepastian bahwa mereka akan mendengarkan kata-katanya, atau bahkan juga tidak ada kepastian bahwa setelah mereka melihat "kesaksiannya" dengan rela dirajam, mereka akan membuka hati untuk menerima tawaran keselamatan dalam nama Yesus atau Yashua, Stefanus tetap bersaksi, tetap berani berkata keras, tetap rela dirajam. Dari sini kelihatan bahwa:

4. kasih tulus atau kasih agape tidak berorientasi pada hasil sesaat, pada hasil yang segera bisa kelihatan  di depan mata. Kasih ini bersandar penuh pada kuasa Yahwe, pada rencana ajaib Yahwe, yang menjanjikan kemenangan pasti kepada mereka yang bersandar kepada-Nya. Sekali pun keadaan bertolak belakang sama sekali, kasih agape tetap percaya bahwa sesuatu yang tampaknya sia-sia tetap harus dikerjakan.

Perjuangan yang dilakukan tidak hanya sekadar untuk menikmati hasil kemenangan fisik yang kelihatan, namun untuk memenangkan pertempuran yang sesungguhnya melawan kuasa-kuasa di udara: Efesus 6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.


Tidak apa-apa kalau perjuangan kita tampaknya tidak membuahkan apa-apa, tetapi yakinlah bahwa ketika kita tetap maju dan tetap teguh dengan perjuangan kita, kita sedang mengalahkan penguasa-penguasa kegelapan.

Baca juga: Dalam Kristus ada belas kasih!

Related book on Amazon:
Eros, Agape and Philia: Readings in the Philosophy of Love


Tidak ada komentar:

Posting Komentar