Minggu, 26 Agustus 2012

4 Cara Lulus Ujian versi Hizkia

Dalam perjalanan hidup orang beriman, kadang YAHWE membiarkan datangnya ujian untuk menaikkan level orang beriman. Ujian itu bisa berupa ujian finansial, ujian hubungan perkawinan, ujian kesehatan, ujian karir dan lain sebagainya. Kita akan belajar bagaimana Hizkia lulus di dalam ujian hidupnya.

Kisah Hizkia bisa dibaca di 2 Raja-Raja 18-20, 2 Tawarikh 29-32, dan Yesaya 36-39. Hizkia berumur 25 tahun ketika menjadi raja dan memerintah selama 29 tahun. Ia anak Ahas dan ibunya adalah Abia anak Zakharia. Ia melakukan apa yang benar di mata YAHWE dan mengenai hal ini Kitab Suci mencatat: "di antara raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia" (2 Raj 18:5).

Langkah tahun pertama bulan pertama: membuka pintu-pintu rumah YAHWE dan memperbaikinya (2 Tawarikh 29:3), mendatangkan para imam dan orang-orang Lewi (ayat 3) untuk menguduskan diri dan rumah YAHWE (ayat 5) supaya jangan lengah berdiri di hadapan-Nya untuk melayani Dia, untuk menyelenggarakan kebaktian dan membakar korban bagi YAHWE (ayat 11). Hizkia mengikat perjanian dengan YAHWE (ayat 10). Setelah pengudusan rumah YAHWE selesai, Hizkia segera mengadakan korban penghapus dosa untuk keluarga raja, untuk tempat kudus, dan untuk Yehuda (ayat 20-24), mempersembahkan korban bakaran (ayat 27,29), menghidupkan pujian dan penyembahan kepada YAHWE (ayat 25-30), mengadakan korban sembelihan dan korban syukur (ayat 31), merayakan Paskah (2 Tawarikh 30), meremukkan tugu berhala (2 Tawarikh 31:1). Agar para imam dan orang Lewi bisa mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat YAHWE, Hizkia mengatur sumbangan untuk mereka dan menghidupkan kembali persepuluhan sampai sisanya bertimbun-timbun (2 Tawarikh 31:2-19).

Hizkia melakukan apa yang baik, yang jujur, dan yang benar di hadapan YAHWE (2 Taw 31:20). Ia mencari YAHWE, melayani YAHWE dan melaksanakan Taurat dan semuanya dilakukannya dengan segenap hati sehingga segala usahanya berhasil (ayat 21).

Namun, setelah kesetiaannya kepada YAHWE itu, ujian datang kepada raja Hizkia: Sanherib, raja Asyur datang menyerbut Yehuda (2 Tawarikh 32:1). Kadang, setelah usaha kita, kesetiaan kita kepada Tuhan, setelah daya upaya kita untuk hidup berkenan di hadapan-Nya, ujian datang menimpa kita, entah itu ujian keuangan, kesehatan, hubungan perkawinan, dan yang lainnya. Namun, dari Hizkia kita akan belajar, bahwa ujian yang diijinkan menimpa kita merupakan sarana yang digunakan YAHWE untuk membantu kita naik ke level selanjutnya, untuk menikmati berkat yang lebih luar biasa. Nah, bagaimana cara Hizkia bisa lulus di dalam ujiannya? Dari 2 Tawarikh 32 kita bisa belajar bagaimana Hizkia bisa lulus ujian.

Pertama, menutup semua celah yang akan memperkuat musuh (ayat 3-4)
Setelah mengetahui datangnya ujian atau kesulitan, yang dilakukan Hizkia adalah menutup semua mata air dan sungai yang mengalir dari tengah-tengah negeri itu (ayat 3-4). Ini dilakukannya untuk memperlemah musuh. Hal ini mengisyaratkan agar kita juga menutup semua celah yang akan memperkuat musuh atau iblis. Kita harus menutup semua kemungkinan kita jatuh ke dalam dosa. Entah itu godaan pornografi, godaan hidup konsumtif, godaan terhadap makanan yang mengancam kesehatan.

Kedua, membangun tembok-tembok dan menara kekuatan (ayat 5)
Sesudah menutup celah, Hiskia memperkuat tembok-tembok yang terbongkar dan mendirikan menara-menara serta membuat perisai dan lembing dalam jumlah yang besar. Setelah menutup celah, kita hendaknya juga memperkuat diri dan mempersiapkan senjata rohani untuk melawan musuh. Jadi, ujian yang datang kepada kita, hendaklah semakin memperkuat diri kita, bukan malah memperlemah kita. Ujian mengisyaratkan agar kita semakin hidup kudus dan berkenan di hadapan YAHWE.

Ketiga, memperkatakan perkataan iman (ayat 6)
Hizkia mengangkat panglima-panglima perang dan menyuruh mereka untuk menenangkan hati rakyat dengan mengatakan: "Kuakanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan  terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak daripada yang menyertai dia. Yang  menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah YAHWE, Elohim kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita." (ayat 7-8). Meskipun secara manusia posisi Hizkia jelas lebih lemah dibandingkan Sanherib, namun ia percaya dengan penuh iman akan kekuatan dan kesanggupan YAHWE di dalam membantu umat-Nya yang setia.

Nah pada bagian selanjutnya kita tahu bahwa musuh tidak akan tinggal diam dan berusaha memperlemah iman dengan mendaftar banyak bukti akan kekuatannya dan mengintimidasi umat YAHWE bahwa mereka tidak berdaya untuk melawannya. Musuh menyebutkan berbagai negara atau bangsa atau kerajan yang sudah tunduk kepada Asyur: Hamad, Arpad, Sefarwaim, Hena, Iwa, Samaria, Gozan, Haran, Rezef, bani Eden. Musuh juga memerlihatkan bahwa allah-allah bangsa-bangsa itu tidak berdaya menghadapi Asyur.

Nah di sini kita harus amat sangat waspada dan jangan sampai terpedaya oleh musuh. Intimidasi iblis kadang "benar-benar berdasar" dan didukung oleh fakta-fakta, yang menyudutkan kita, yang mengklaim bahwa ia jauh lebih kuat daripada kita, bahwa kita tidak berdaya dan tidak ada gunanya untuk melawannya. Namun kita belajar dari Hizkia bahwa, sekalipun fakta, kondisi, keadaan nyata yang ada, semuanya negatif, dan buktinya nyata ada, kita harus tetap positif, harus tetap memiliki harapan dan keyakinan akan kesanggupan YAHWE untuk memberikan pertolongan. Kita harus tetap memperkatakan kata-kata yang positif, perkataan iman, dan yakin bahwa YAHWE sanggup dan akan menolong tepat pada waktunya. Meskipun iblis selalu berusaha mengintimidasi diri kita, selalu menunjuk-nunjuk kesalahan dan kelemahan kita, kita harus tetap yakin dan percaya akan pertolongan-Nya.

Terhadap semua intimidasi ini Hizkia memerintahkan kepada rakyatnya untuk tidak untuk tidak mempedulikannya: Jangan kamu menjawab dia! (2 Raj 18:36). Meskipun juru minum agung berusaha memperjelas intimidasinya dengan menggunakan bahasa Yehuda yang dipahami oleh semua rakyat, bukannya bahasa Aram yang hanya dipahami oleh beberaa orang penting Yehuda, namun Hizkia memerintahkan agar intimidasi itu tidak usah didengarkan, tidak usah

Keempat, berseru dan berdoa kepada YAHWE (ayat 20).
Disamping semua usaha manusia yang sudah dilakukan, Hizkia berdoa dan berseru kepada YAHWE (ayat 20). Jadi, disamping usaha nyata yang sudah dan sedang kita lakukan, kita harus tetap berdoa dan berserah kepada YAHWE.

Dengan 4 langkah ini Hizkia bisa lulus ujian. Dan sebagai imbalannya, YAHWE sendiri yang berperang melawan bangsa Asyur, sehingga bangsa Asyur dikalahkan oleh YAHWE sendiri.


Yang dilakukan Hizkia ketika menghadapi intimidasi musuh:
meminta Yesaya untuk berdoa (2 Raj 19:4
membentangkan surat hujatan dihadapan YAHWE (2 Raj 19:14, Yesaya 37:14)
berdoa  (2 Raj 19:15, Yesaya 37:15): mengakui kedaulatan YAHWE, satu-satunya Elohim (Yesaya 37:16)
doanya didengarkan YAHWE (2 Raj 19:20).
YAHWE memagari kota (2 Raj 19:34, Yesaya 37:34)
sakit hampir mati (2 Raj 20:1, Yesaya 38:1) YAHWE memperpanjang umur 15 tahun (2 Raj 20:5-6, Yesaya 38:5)

Kesalahan hizkia:
memperlihatkan segenap harta bendanya kepada raja Babel yang datangmenjenguknya karena berita sakit (2 Raj 20:13


Baca juga:
Hidup Berkemenangan (2): Membangun Manusia Roh
Hidup Berkemenangan (1): Menjaga Hati


Sabtu, 25 Agustus 2012

Penyembuhan Menjadi Bagian Integral Gereja Mula-Mula

Baca bagian sebelumnya!

Pada bagian sebelumnya (Kisah 2:41-47) kita belajar bagaimana cara hidup jemaat yang pertama. Mulai pasal 3 Kitab Suci mencatat dan kita melihat kasus bagaimana hidup keseharian anggota jemaat pertama itu.

Pasal 3 dimulai dengan "Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul 3 petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Tuhan." Pada bagian akhir pasal 2 kita tahu bahwa jemaat pertama berkumpul tiap-tiap hari di Bait Elohim (Kis 2:46). Pada pasal 3 ayat 1 kita mendapat tambahan informasi waktu dan acara dari "perkumpulan tiap-tiap hari" itu, yakni sekitar pukul 3 petang dan itu adalah waktu sembahyang.

Nah, ayat 2 mengatakan: "Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Elohim ... untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke Bait Elohim." Jadi pada zaman para rasul dulu, mengemis di gedung gereja itu tampaknya wajar. Kalau sekarang orang lumpuh diusung dan ditaruh di perempatan jalan, zaman dulu ditaruh di pintu masuk gedung gereja, untuk meminta-minta. Orang itu meminta sedekah kepada orang yang lewat untuk memasuki Bait Elohim, termasuk Petrus dan Yohanes.

Karena tiap-tiap hari orang itu ada di situ, kita bisa mengandaikan bahwa Petrus dan Yohanes sudah sangat hafal akan keadaan orang itu, bahkan mungkin ketika mereka masih bersama-sama dengan Yesus. Kalau demikian, di sini ada fakta yang menarik untuk dicatat: kalau dulu mereka tidak tergerak oleh keadaan orang lumpuh itu, sekarang, setelah dibaptis oleh Roh Kudus, mereka tergerak untuk melakukan sesuatu. Petrus dan Yohanes menatapnya dan berkata: "Lihatlah kepada kami! ... Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kis 3:4-6). Petrus kemudian membantu orang itu berdiri. Orang lumpuh itu seketika itu bisa berjalan, melompat-lompat dan mengikuti Petrus dan Yohanes, seluruh rakyat melihat dan memuji Elohim, mereka tercengang tentang apa yang telah terjadi (ayat 8-10).

Dari sini kita belajar:
1. Roh Kudus menggerakkan dan menuntun Petrus dan Yohanes, orang yang sudah dibaptis Roh, untuk melakukan sesuatu, yang sebelumnya tidak mereka lakukan sebelum menerima baptisan Roh Kudus
2. Orang yang menerima baptisan Roh Kudus memiliki Roh Kudus itu di dalam dirinya, "apa yang kupunyai",  dan apa yang dipunyai itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
3.  Ini adalah mukjizat penyembuhan pertama yang dicatat sesudah pembaptisan Roh Kudus. Artinya, mukjizat penyembuhan menjadi bagian integral dari orang yang sudah menerima pembaptisan Roh Kudus. Hal ini menjadi kepenuhan dari janji Yesus mengenai kuasa penyembuhan kepada para murid di bagian akhir Injil Markus, bahwa orang beriman akan menumpangkan tangan atas orang sakit dan orang itu akan sembuh.
4. Orang lumpuh itu tidak meminta kesembuhan kepada Petrus, tetapi sedekah. Namun Petrus menyembuhkannya. Baptisan Roh Kudus memampukan Petrus untuk melihat kebutuhan seseorang melampaui apa yang dinyatakan. Di sini kita melihat bagaimana mukjizat dikerjakan orang orang percaya, tanpa orang sakit itu meminta untuk disembuhkan. Dan itu terjadi karena Roh Kudus yang meluap-luap di dalam diri orang percaya dan mendorongnya untuk membagikan apa yang ada dalam dirinya kepada orang lain.

Baca bagian selanjutnya

Baca juga:
Cara Hidup Jemaat yang Pertama
Pelajaran Pertama dari Kisah Para Rasul!
Pentakosta, Ciri-Ciri Pekerjaan Roh Kudus
Gereja Mula-Mula Mendasarkan Diri pada Kitab Suci
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati ...
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana

Senin, 20 Agustus 2012

Pola Kesaksian Gereja Mula-Mula

Check Amazon books on evangelization:
Share Jesus Without Fear Recovering Jesus - The Witness of the New Testament Announcing the Reign of God: Evangelization and the Subversive Memory of Jesus

Baca bagian sebelumnya!

Pada awal pasal 1 Kisah Para Rasul, Yesus mengatakan bahwa "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kis 1:8). Dalam Pasal 2 apa yang dikatakan Yesus benar-benar terjadi. Petrus, yang pada waktu penangkapan Yesus sempat menyangkal-Nya sampai 3 kali, kini berani berdiri dan bersaksi mengenai Yesus. Kalau dahulu Petrus takut kalau orang mengetahui bahwa ia adalah murid Yesus, sekarang Petrus berani mengakuinya di hadapan ribuan orang. Dengan suara nyaring Petrus bahkan membuka kesaksiannya dengan kata-kata ini: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu sekalian yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkaraanku ini" (ayat 14). Sebuah pembukaan kotbah yang amat sangat keras dan berani.

Bahkan tidak hanya sekadar mengakui bahwa ia adalah murid-Nya, tetapi malah berani mengecam para pembunuh Yesus dan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus. Jadi benar bahwa Roh Kudus yang diberikan YAHWE memberikan keberanian untuk bersaksi. Dahulu Petrus takut dikenali jadi dirinya sebagai murid Yesus, sekarang ia berani membela dan membenarkan apa yang terjadi dalam dirinya dan murid-murid Yesus yang lain.

Pada pasal 2 Kisah Para Rasul, seperti juga telah kita pelajari pada bagian sebelumnya, menjadi semakin jelas bahwa Gereja Mula-Mula kuat berdasar pada Kitab Suci. Petrus mencoba menjelaskan keanehan atau mukjizat yang sedang terjadi pada para rasul dan murid Yesus dengan mengingat Yoel 2:28-32"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu. Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu. Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas." Petrus mencoba menjelaskan bahwa mukjizat yang sekarang mereka saksikan adalah penggenapan dari Kitab Suci. Bahwa YAHWE akan mencurahkan Roh-Nya dan mengadakan banyak mukjizat, orang akan bernubuat, mendapat penglihatan, dan bermimpi. Selanjutnya Petrus juga mengacu kepada Kitab Suci ketika menjelaskan mengapa Yesus disalib, mati, namun akhirnya bangkit (Mazmur 16:8-11), dan duduk di sebelah kanan YAHWE (Mazmur 110:1), menjadi Tuhan dan Kristus.

Di akhir kotbah Petrus, dicatat bahwa orang-orang akhirnya membuka hati dan bertanya kepada Petrus: apa yang harus kami perbuat? Dan di akhir kesaksian itu, ada kira-kira 3000 orang meminta dirinya dibaptis. Sebuah kesaksian atau penginjilan yang benar-benar efektif.

Dari sini kita belajar mengenai pola kesaksian Gereja Perdana.
Pertama, kesaksian mereka digerakkan oleh Roh Kudus yang memberikan keberanian kepada para murid dan
Kedua, Roh Kudus melengkapi kesaksian mereka dengan perbuatan-perbuatan ajaib,
Ketiga, para murid menjelaskan dan membela iman mereka dengan mengacu kepada Kitab Suci.

Jadi hendaklah kita sebagai murid Kristus menjadi saksi kesalamatan-Nya. Pertama dengan membiarkan Roh Kudus tercurah atas diri kita dan memberikan keberanian kepada kita, serta melengkapi kesaksian kita dengan perbuatan ajaib-Nya. Nah pada ayat 38-39 dinyatakan bagaimana kita bisa menerima Roh Kudus: bertobat, memberi diri dibaptis dalam nama Yesus agar dosa kita diampuni, untuk menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kitalah janji itu diberikan, juga bagi anak-anak kita dan bagi keturunan kita. Bagian ini mestinya meyakinkan kita bahwa YAHWE rindu mencurahkan Roh-Nya kepada kita, anak-anak kita, keturunan kita, karena kepada kitalah janji itu diberikan, untuk menjadi saksi keselamatan-Nya.


Baca juga:

Check Amazon books on evangelization:
At the Heart of the Gospel: Reclaiming the Body for the New Evangelization From Maintenance to Mission: Evangelization and the Revitalization of the Parish The New Evangelization: Overcoming the Obstacles
The Evangelization Equation: The Who, What, and How Leading Kids to Jesus: How to Have One-on-One Conversations about Faith The Christian & Witnessing (Ten Basic Steps Toward Christian Maturity)

Kamis, 16 Agustus 2012

Pentakosta, Ciri-Ciri Pekerjaan Roh Kudus

This Happy Gift of Tongues The Fire that Speaks: Understanding the Baptism of the Holy Spirit Christ's Basic Bodies: Embracing God's Presence, Power, and Purposes in Holistic Small Group Life, Cell Groups, Home Groups, Life Groups, and Biblical Communities


Kita semua orang percaya tahu bahwa Pentakosta, sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2, adalah peristiwa di mana para rasul dan murid Yesus mengalami kepenuhan Roh Kudus. Nah bagaimana hal itu terjadi dan apa dampaknya?

Saat itu semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba dari langit turunlah suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (ayat 1-4) Jadi Roh itu hinggap pada semua orang percaya. Roh itu membuat mereka yang menerimanya "mulai berkata-kata" dalam "bahasa-bahasa lain" seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka. Jadi mereka tidak asal berkata-kata, tetapi Roh-lah yang membuat mereka berkata-kata, dan berkata-kata dalam bahasa yang bukan bahasa orang itu sendiri.

Pada ayat 5-6 dicatat bahwa waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari berbagai daerah dan mereka berkerumun karena mendengar bunyi itu. Jadi peristiwa Pentakosta itu pasti amat dahsyat. Tiupan angin keras itu pasti terdengar sampai jarak yang cukup jauh dan berlangsung cukup lama sehingga orang-orang sempat datang dan berkerumun di tempat di mana murid-murid dan para rasul tinggal. Pekerjaan Roh Kudus ternyata juga mendorong orang lain untuk datang berkerumun. Jadi YAHWE lewat Roh-Nya mendorong orang lain atau menyiapkan orang lain, untuk datang dan mendengarkan para murid, untuk menerima berita kebenaran.

Kemudian orang-orang tersebut mendengar para rasul tersebut, yang semuanya orang Galilea (ayat 7) berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri-sendiri (ayat 6), yang membuat semua orang heran dan tercengang-cengang (ayat 7, 12). Jadi pekerjaan Roh itu ajaib, membuat para rasul berbicara dalam satu bahasa namun banyak orang lain yang berbahasa lain bisa mendengar mereka berbicara dalam bahasa mereka masing-masing dan mengerti apa yang dikatakan para rasul tersebut. Lewat pekerjaan Roh itu YAHWE ingin membuat orang lain heran dan tercengang atas perbuatan ajaib yang sanggup dikerjakan YAHWE.

Roh Kudus itu membuat mereka yang mengalami kepenuhan atas-Nya berkata-kata "tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan YAHWE" (ayat 11). Jadi, inti dari pekerjaan Roh Kudus adalah:

(1) untuk memberikan kekuatan dan keberanian bagi penerimanya untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan YAHWE, untuk melakukan penginjilan,

(2) namun sekaligus pada waktu yang bersamaan memberikan dorongan atau inspirasi kepada mereka yang akan menerima penginjilan, menyiapkan lahan, menyiapkan hati mereka yang belum percaya, untuk  mau datang dan mendengar, untuk bisa mengerti kabar gembira yang akan mereka terima dari para penginjil, para saksi.

(3) Roh yang sama juga sekaligus melengkapi para saksi dengan perbuatan-perbuatan ajaib yang membuat penerima berita sukacita heran, tercengang-cengan, dan akhirnya menerima pewartaan para saksi.


Baca juga:
Pelajaran Pertama dari Kisah Para Rasul
Gereja Mula-Mula Mendasarkan Diri pada Kitab Suci
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati Berdoa Bersama
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Cara Hidup Jemaat yang Pertama


Check Amazon books on Holy Spirit:
  An Essential Guide to Baptism in the Holy Spirit: Foundations on the Holy Spirit Gifts of the Spirit
A Handbook On Holy Spirit Baptism They Speak with Other Tongues Filled with the Spirit: Understanding God's Power in Your Life

Rabu, 15 Agustus 2012

Gereja Mula-Mula Mendasarkan Diri pada Kitab Suci

Kisah Para Rasul 1:15-26
Judas: The Definitive Collection of Gospels and Legends About the Infamous Apostle of Jesus In the Footsteps of Judas and Other Defectors

Baca bagian sebelumnya!

Pada 2 bagian sebelumnya dalam pembahasan kita mengenai gereja perdana atau jemaat mula-mula, kita belajar bahwa gereja pertama mendasarkan pelayanan mereka pada Roh Kudus dan mereka bertekun dan sehati dalam doa bersama untuk menantikan kedatangan Roh Kudus. Di bagian akhir dari pasal 1 ini, kita belajar bahwa gereja mula-mula mengambil tindakan dengan selalu mengacu kepada petunjuk Kitab Suci.Kita juga belajar bahwa ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang akan menjabat fungsi pelayanan tertentu.

Pada waktu itu Petrus memimpin pemilihan pengganti Yudas dengan mengawali proses itu sambil mengatakan: "Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu." Jadi di sini jelas bahwa Petrus mengajak jemaat untuk mencari pengganti Yudas karena Kitab Suci sudah menyatakannya kepada mereka. Tindakan Petrus itu mengacu kepada Mazmur 109:8 (Biarlah umurnya berkurang, biarlah jabatannya diambil orang lain).

Juga perlu dicatat bahwa Petrus mengatakan "haruslah genap nas Kitab Suci". Ini menegaskan bahwa ketika kita belajar Kitab Suci, membaca atau mendengar, hal itu tidak hanya untuk menambah pengetahuan, namun terlebih-lebih kita harus menggenapinya, harus melakukan apa yang sudah menjadi Firman Yahwe.


Dalam memahami situasi yang dihadapi kemudian mencari dasar dari Kitab Suci untuk mengambil tindakan terhadap situasi yang ada, tidak jarang kita salah menafsirkan atau salah mengerti atau salah memilih bagian Kitab Suci. Hal inipun terjadi pada Petrus. Pada ayat 20 Petrus mengutip "Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya..." Tampaknya di sini Petrus mengutip Mazmur 69:26 yang berbunyi "Biarlah perkemahan mereka menjadi sunyi, dan biarlah kemah-kemah mereka tidak ada penghuninya." Memang Petrus kurang akurat dalam mengutip nas tersebut, dari "mereka" menjadi "nya". Tetapi justru hal ini semestinya membesarkan hati kita bahwa yang penting bukan keakuratan kita dalam mengutip dan menerapkan nas atau ayat Kitab Suci tetapi semangat dasar kita untuk selalu mengacu kepada Kitab Suci dalam mengambil tindakan.

Dari bagian akhir Kisah 1 kita juga belajar bahwa untuk mengangkat seseorang untuk menduduki jabatan tertentu di dalam pelayanan rohani, gereja mula-mula menerapkan suatu persyaratan. Untuk jabatan rasul, Petrus memberikan syarat berikut (ayat 21-22): "seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya." Dari sini kita belajar bahwa kita tidak bisa menyerahkan jabatan pelayanan rohani kepada sembarang orang. Harus ada kriteria-kriteria tertentu yang membuatnya layak untuk jabatan tersebut.


Baca juga:
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati Berdoa Bersama
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Cara Hidup Jemaat yang Pertama
Doa Sepakat




Matias pengganti Yudas Iskariot Injil Yudas
Lukisan Matias Pengganti Yudas

Senin, 13 Agustus 2012

Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati Berdoa Bersama

Kisah Para Rasul 1:9-26

The Church That Prays Together: Inside the Prayer Life of 10 Dynamic Churches When Couples Pray Together: Creating Intimacy and Spiritual Wholeness
A Family That Prays Together, Stays Together A Family That Prays Together, Stays Together
Baca bagian sebelumnya.

Sebelumnya, dari Kisah 1:1-8, kita sudah belajar bahwa hidup Kristiani adalah hidup yang bersumber dan digerakkan oleh Roh Kudus. Sekarang pada bagian selanjutnya kita belajar bahwa hidup Kristiani adalah hidup yang bertekun dan sehati dalam doa.


Sesudah Yesus berpesan agar para murid menantikan janji Bapa, Yesus naik ke surga. Dan 2 malaikat berpesan bahwa "Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." (ayat 11). Kedatangan kembali Yesus menjadi bagian pokok iman Kristiani karena Dia, yang ditolak oleh umat-Nya, oleh bangsa Yahudi, dan sekarang ini juga masih ditolak oleh banyak orang, suatu saat akan datang dalam kemuliaan-Nya, menyatakan kuasa-Nya, dan membuktikan bahwa Dialah Tuhan yang berkuasa atas semesta ini. Dan tugas para rasul dan semua murid Kristus, orang Kristen, adalah menjadi saksi bahwa Yesus adalah Tuhan, Penyelamat, dan Raja yang akan datang ke dunia, menjadi Hakim atas seluruh umat manusia. Sebelum kedatangan-Nya kembali, kita, orang Kristen, setiap orang yang menyebut diri pengikut Kristus, apapun latar belajang denominasi kita, memiliki tugas yang sama, menjadi saksi, mewartakan Dia yang sudah datang ke dunia, disalib untuk menebus dosa manusia, naik ke sorga, namun suatu ketika akan datang sebagai Raja.

Sesudah itu para murid kembali ke kota, "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus." (ayat 14). Dikatakan di sini, "mereka semua" "bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama". Mereka diperintahkan untuk tinggal dan menantikan janji Bapa akan kedatangan Roh Kudus. Dan yang mereka lakukan untuk menantikan janji Bapa itu adalah bertekun berdoa, bersama-sama, tetapi tidak hanya bersama-sama, melainkan yang lebih penting adalah "sehati". Mereka menyatukan hati, fokus, seia sekata, sepakat, memohon satu hal yang sama, penggenapan janji Bapa.

Kita belajar di sini akan kekuatan doa yang dilakukan dengan bertekun bersama-sama dan sehati. Dalam ayat 15 diinformasikan bahwa jumlah mereka kira-kira seratus dua puluh orang. Dan mereka semua sehati, bertekun, bersama-sama berdoa, untuk satu permohonan yang sama. Jadi masing-masing dari mereka tidak sedang berdoa sendiri-sendiri, untuk permohonannya masing-masing, melainkan berdoa bersama-sama, bukan hanya bersama-sama namun masing-masing memikirkan pergumulannya sendiri-sendiri atau kepentingannya sendiri-sendiri, namun mereka sehati, satu tujuan, satu permohonan, yakni turunnya Roh Kudus atas mereka.


Baca juga:
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana


A Family That Prays Together, Stays Together A Family That Prays Together, Stays Together
A Family That Prays Together, Stays Together A Family That Prays Together, Stays Together