Minggu, 26 Agustus 2012

4 Cara Lulus Ujian versi Hizkia

Dalam perjalanan hidup orang beriman, kadang YAHWE membiarkan datangnya ujian untuk menaikkan level orang beriman. Ujian itu bisa berupa ujian finansial, ujian hubungan perkawinan, ujian kesehatan, ujian karir dan lain sebagainya. Kita akan belajar bagaimana Hizkia lulus di dalam ujian hidupnya.

Kisah Hizkia bisa dibaca di 2 Raja-Raja 18-20, 2 Tawarikh 29-32, dan Yesaya 36-39. Hizkia berumur 25 tahun ketika menjadi raja dan memerintah selama 29 tahun. Ia anak Ahas dan ibunya adalah Abia anak Zakharia. Ia melakukan apa yang benar di mata YAHWE dan mengenai hal ini Kitab Suci mencatat: "di antara raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia" (2 Raj 18:5).

Langkah tahun pertama bulan pertama: membuka pintu-pintu rumah YAHWE dan memperbaikinya (2 Tawarikh 29:3), mendatangkan para imam dan orang-orang Lewi (ayat 3) untuk menguduskan diri dan rumah YAHWE (ayat 5) supaya jangan lengah berdiri di hadapan-Nya untuk melayani Dia, untuk menyelenggarakan kebaktian dan membakar korban bagi YAHWE (ayat 11). Hizkia mengikat perjanian dengan YAHWE (ayat 10). Setelah pengudusan rumah YAHWE selesai, Hizkia segera mengadakan korban penghapus dosa untuk keluarga raja, untuk tempat kudus, dan untuk Yehuda (ayat 20-24), mempersembahkan korban bakaran (ayat 27,29), menghidupkan pujian dan penyembahan kepada YAHWE (ayat 25-30), mengadakan korban sembelihan dan korban syukur (ayat 31), merayakan Paskah (2 Tawarikh 30), meremukkan tugu berhala (2 Tawarikh 31:1). Agar para imam dan orang Lewi bisa mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat YAHWE, Hizkia mengatur sumbangan untuk mereka dan menghidupkan kembali persepuluhan sampai sisanya bertimbun-timbun (2 Tawarikh 31:2-19).

Hizkia melakukan apa yang baik, yang jujur, dan yang benar di hadapan YAHWE (2 Taw 31:20). Ia mencari YAHWE, melayani YAHWE dan melaksanakan Taurat dan semuanya dilakukannya dengan segenap hati sehingga segala usahanya berhasil (ayat 21).

Namun, setelah kesetiaannya kepada YAHWE itu, ujian datang kepada raja Hizkia: Sanherib, raja Asyur datang menyerbut Yehuda (2 Tawarikh 32:1). Kadang, setelah usaha kita, kesetiaan kita kepada Tuhan, setelah daya upaya kita untuk hidup berkenan di hadapan-Nya, ujian datang menimpa kita, entah itu ujian keuangan, kesehatan, hubungan perkawinan, dan yang lainnya. Namun, dari Hizkia kita akan belajar, bahwa ujian yang diijinkan menimpa kita merupakan sarana yang digunakan YAHWE untuk membantu kita naik ke level selanjutnya, untuk menikmati berkat yang lebih luar biasa. Nah, bagaimana cara Hizkia bisa lulus di dalam ujiannya? Dari 2 Tawarikh 32 kita bisa belajar bagaimana Hizkia bisa lulus ujian.

Pertama, menutup semua celah yang akan memperkuat musuh (ayat 3-4)
Setelah mengetahui datangnya ujian atau kesulitan, yang dilakukan Hizkia adalah menutup semua mata air dan sungai yang mengalir dari tengah-tengah negeri itu (ayat 3-4). Ini dilakukannya untuk memperlemah musuh. Hal ini mengisyaratkan agar kita juga menutup semua celah yang akan memperkuat musuh atau iblis. Kita harus menutup semua kemungkinan kita jatuh ke dalam dosa. Entah itu godaan pornografi, godaan hidup konsumtif, godaan terhadap makanan yang mengancam kesehatan.

Kedua, membangun tembok-tembok dan menara kekuatan (ayat 5)
Sesudah menutup celah, Hiskia memperkuat tembok-tembok yang terbongkar dan mendirikan menara-menara serta membuat perisai dan lembing dalam jumlah yang besar. Setelah menutup celah, kita hendaknya juga memperkuat diri dan mempersiapkan senjata rohani untuk melawan musuh. Jadi, ujian yang datang kepada kita, hendaklah semakin memperkuat diri kita, bukan malah memperlemah kita. Ujian mengisyaratkan agar kita semakin hidup kudus dan berkenan di hadapan YAHWE.

Ketiga, memperkatakan perkataan iman (ayat 6)
Hizkia mengangkat panglima-panglima perang dan menyuruh mereka untuk menenangkan hati rakyat dengan mengatakan: "Kuakanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan  terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak daripada yang menyertai dia. Yang  menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah YAHWE, Elohim kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita." (ayat 7-8). Meskipun secara manusia posisi Hizkia jelas lebih lemah dibandingkan Sanherib, namun ia percaya dengan penuh iman akan kekuatan dan kesanggupan YAHWE di dalam membantu umat-Nya yang setia.

Nah pada bagian selanjutnya kita tahu bahwa musuh tidak akan tinggal diam dan berusaha memperlemah iman dengan mendaftar banyak bukti akan kekuatannya dan mengintimidasi umat YAHWE bahwa mereka tidak berdaya untuk melawannya. Musuh menyebutkan berbagai negara atau bangsa atau kerajan yang sudah tunduk kepada Asyur: Hamad, Arpad, Sefarwaim, Hena, Iwa, Samaria, Gozan, Haran, Rezef, bani Eden. Musuh juga memerlihatkan bahwa allah-allah bangsa-bangsa itu tidak berdaya menghadapi Asyur.

Nah di sini kita harus amat sangat waspada dan jangan sampai terpedaya oleh musuh. Intimidasi iblis kadang "benar-benar berdasar" dan didukung oleh fakta-fakta, yang menyudutkan kita, yang mengklaim bahwa ia jauh lebih kuat daripada kita, bahwa kita tidak berdaya dan tidak ada gunanya untuk melawannya. Namun kita belajar dari Hizkia bahwa, sekalipun fakta, kondisi, keadaan nyata yang ada, semuanya negatif, dan buktinya nyata ada, kita harus tetap positif, harus tetap memiliki harapan dan keyakinan akan kesanggupan YAHWE untuk memberikan pertolongan. Kita harus tetap memperkatakan kata-kata yang positif, perkataan iman, dan yakin bahwa YAHWE sanggup dan akan menolong tepat pada waktunya. Meskipun iblis selalu berusaha mengintimidasi diri kita, selalu menunjuk-nunjuk kesalahan dan kelemahan kita, kita harus tetap yakin dan percaya akan pertolongan-Nya.

Terhadap semua intimidasi ini Hizkia memerintahkan kepada rakyatnya untuk tidak untuk tidak mempedulikannya: Jangan kamu menjawab dia! (2 Raj 18:36). Meskipun juru minum agung berusaha memperjelas intimidasinya dengan menggunakan bahasa Yehuda yang dipahami oleh semua rakyat, bukannya bahasa Aram yang hanya dipahami oleh beberaa orang penting Yehuda, namun Hizkia memerintahkan agar intimidasi itu tidak usah didengarkan, tidak usah

Keempat, berseru dan berdoa kepada YAHWE (ayat 20).
Disamping semua usaha manusia yang sudah dilakukan, Hizkia berdoa dan berseru kepada YAHWE (ayat 20). Jadi, disamping usaha nyata yang sudah dan sedang kita lakukan, kita harus tetap berdoa dan berserah kepada YAHWE.

Dengan 4 langkah ini Hizkia bisa lulus ujian. Dan sebagai imbalannya, YAHWE sendiri yang berperang melawan bangsa Asyur, sehingga bangsa Asyur dikalahkan oleh YAHWE sendiri.


Yang dilakukan Hizkia ketika menghadapi intimidasi musuh:
meminta Yesaya untuk berdoa (2 Raj 19:4
membentangkan surat hujatan dihadapan YAHWE (2 Raj 19:14, Yesaya 37:14)
berdoa  (2 Raj 19:15, Yesaya 37:15): mengakui kedaulatan YAHWE, satu-satunya Elohim (Yesaya 37:16)
doanya didengarkan YAHWE (2 Raj 19:20).
YAHWE memagari kota (2 Raj 19:34, Yesaya 37:34)
sakit hampir mati (2 Raj 20:1, Yesaya 38:1) YAHWE memperpanjang umur 15 tahun (2 Raj 20:5-6, Yesaya 38:5)

Kesalahan hizkia:
memperlihatkan segenap harta bendanya kepada raja Babel yang datangmenjenguknya karena berita sakit (2 Raj 20:13


Baca juga:
Hidup Berkemenangan (2): Membangun Manusia Roh
Hidup Berkemenangan (1): Menjaga Hati


Tidak ada komentar:

Posting Komentar