A Bible Study By Reinhard Bonnke - Holy Spirit: Are you Flammable or Fireproof? - Part 1
TUHAN YANG AJAIB
Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu
itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan,
tolonglah, kita binasa." Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh
sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?" Matius 8: 23-27
MEGETHOS--Potensi yang Tak Terbendung
Melalui baptisan Roh Kudus, kita semua memiliki akses terhadap kuasa yang dapat membangkitkan orang mati, kuasa kebangkitan. Gereja yang tidak berdaya adalah aib. Roh Kudus selalu bertindak saat Anda bertindak untuk Tuhan. Jika Anda tidak bekerja untuk Tuhan, Anda tidak membutuhkan kuasa, dan tidak ada kuasa yang akan diberikan. Tapi begitu Anda dibaptis dalam Roh, potensi itu tidak terbendung.
PAULUS BERDOA UNTUK JEMAAT EFESUS (Efesus 1: 18-20)
Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga.
Agar "mata hatimu terang, agar kamu mengerti ... betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati." Paulus menggunakan sebuah kata di sini untuk menggambarkan kebesaran sumber daya yang ada - megethos. Bom nuklir diukur dalam "megaton." Tetapi Paulus lebih lagi dan berbicara tentang "hyper megethos" atau kebesaran super. Begitulah seharusnya kita mengukur keefektifan kita dalam pelayanan Kristen, dan itulah sumber yang tersedia bagi setiap pelayan Tuhan.
Kami harap Anda menikmati pelajaran Alkitab ini oleh Reinhard Bonnke. Tunggu pengajaran selanjutnya THE IMPOSSIBLE HAPPENS minggu depan.
Saatnya kudatang kepada-MU ya YAHWE, Tuhan Penyelamatku, Pelindung dan Penebusku. Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain.
Tampilkan postingan dengan label Roh Kudus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roh Kudus. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Februari 2018
Jumat, 15 Maret 2013
Pelayanan Menurut Tuntunan YAHWE
Kisah Para Rasul 12:24-13:12
Baca bagian sebelumnya!
Firman Tuhan semakin tersebar dan makin banyak didengar orang (Kis 12:24) oleh karena pewartaan pewartaan dan pelayaan para anggota jemaat pertama dan kesaksian mereka. Disebutkan bahwa dalam jemaat ada beberapa nabi dan pengajar. Dalam Pasal 13 disebutkan bahwa di Anthiokia sendiri ada beberapa nabi dan pengajar, meskipun tidak dirinci siapa yang nabi siapa yang pengajar: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes dan Saulus. Menarik untuk dicatat bahwa salah seorang nabi atau pengajar itu adalah teman raja wilayah Herodes. Jadi pewartaan jemaat pertama menyentuh juga kalangan atas, teman sepengasuhan raja.
Ayat 2 pasal 13 disebutkan juga dan diulang kembali bahwa jemaat itu beribadah dan berpuasa. Ibadah dan puasa adalah salah satu gaya hidup jemaat pertama. Salah satu dampaknya adalah hubungan yang erat dengan Roh Kudus dan kehidupan jemaat selalu dituntun oleh Roh Kudus. Saat itu pula Roh Kudus menuntun mereka agar Barnabas dan Saulus dikhususkan bagi tugas yang sudah ditentukan oleh Bapa YAHWE. Dan sesudah mereka mendapat tuntunan itupun Kitab Suci mencatat bahwa mereka masih berpuasa dan berdoa kembali (ayat 3) dan setelah mereka meletakkan tangan atas dua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. Sebuah teladan hidup menggereja yang amat baik: berdoa dan berpuasa untuk tugas misi khusus anggota jemaat dan mereka semua membekali misionaris itu dengan “meletakkan tangan” sebelum utusan itu berangkat pergi.
Tujuan kepergian Barnabas dan Saulus pun ditentukan oleh Roh Kudus (ayat 4). Dicatat bahwa keduanya dibantu oleh Yohanes (ayat 5). Dan dalam kisah selanjutnya ditunjukkan bagaimana tugas penginjilan berhadapan dengan kekuatan kegelapan yang berusaha menghalang-halangi orang untuk mengenal YAHWE, Tuhan yang benar. Di Pafos Barnabas dan Saulus, yang juga disebut Paulus (untuk pertama kalinya Saulus disebut dengan Paulus - ayat 9) dituntun untuk menginjili gubernur. Namun roh jahat, lewat tukang sihir yang bernama Baryesus, atau yang disebut Elimas, berusaha menghalang-halangi agar gubernur mereka agar gubernur itu tidak sampai beriman kepada YAHWE. Dikatakan bahwa Baryesus ini adalah kawan gubernur tersebut, Sergius Paulus. Tentu saja karena ia teman pasti memiliki pengaruh yang besar dan bisa benar-benar menjadi penghalang bagi Barnabas dan Paulus untuk mengenalkan Yeshua kepada gubernur.
Namun di sini kita melihat bagaimana orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh dan bergaul akrab dengan YAHWE menang berhadapan dengan musuh. Penuh dengan Roh Kudus (ayat 9), Paulus menelanjangi kerja iblis yang penuh dengan tipu muslihat dan kejahatan dan oleh kuasa Roh Kudus Paulus menimpakan kebutaan sementara pada Baryesus. Roh Kudus membuat pekerjaan Paulus dan Barnabas menjadi berhasil dengan menyatakan pekerjaan ajaib di hadapan gubernur. Melihat kuasa yang menyertai Paulus, gubernur menjadi percaya dan takjub akan ajaran YAHWE (ayat 12).
Dari penggalan kisah perjalanan Barnabas dan Paulus ini kita bisa belajar:
1. Pentingnya doa dan puasa dalam kehidupan jemaat. Doa dan puasa menjadi praktik hidup sehari-hari dan hal itu membuat hubungan jemaat dengan YAHWE menjadi intim.
2. Hubungan yang intim dengan YAHWE membuat mereka peka dengan tuntungan YAHWE melalui Roh Kudus-Nya.
3. Hubungan yang intim dengan YAHWE membuat Barnabas dan Paulus mengetahui isi hati YAHWE sehingga Paulus tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan musuh. Paulus dimampukan YAHWE untuk melakukan nubuat dan diberi kuasa untuk melakukan pekerjaan ajaib termasuk untuk menghajar musuh.
4. Hubungan yang intim dengan YAHWE dan ketaatan dengan YAHWE membuat setiap pekerjaan nabi dan pengajar menjadi berhasil.
Baca bagian selanjutnya.
Baca juga:
Keterlibatan YAHWE dalam Penginjilan Jemaat Mula-Mula
Karya Roh Kudus Tidak Terkungkung Oleh Tradisi dan Hukum
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Baca bagian sebelumnya!
Firman Tuhan semakin tersebar dan makin banyak didengar orang (Kis 12:24) oleh karena pewartaan pewartaan dan pelayaan para anggota jemaat pertama dan kesaksian mereka. Disebutkan bahwa dalam jemaat ada beberapa nabi dan pengajar. Dalam Pasal 13 disebutkan bahwa di Anthiokia sendiri ada beberapa nabi dan pengajar, meskipun tidak dirinci siapa yang nabi siapa yang pengajar: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes dan Saulus. Menarik untuk dicatat bahwa salah seorang nabi atau pengajar itu adalah teman raja wilayah Herodes. Jadi pewartaan jemaat pertama menyentuh juga kalangan atas, teman sepengasuhan raja.
![]() |
| Paulus menghardik Baryesus |
Tujuan kepergian Barnabas dan Saulus pun ditentukan oleh Roh Kudus (ayat 4). Dicatat bahwa keduanya dibantu oleh Yohanes (ayat 5). Dan dalam kisah selanjutnya ditunjukkan bagaimana tugas penginjilan berhadapan dengan kekuatan kegelapan yang berusaha menghalang-halangi orang untuk mengenal YAHWE, Tuhan yang benar. Di Pafos Barnabas dan Saulus, yang juga disebut Paulus (untuk pertama kalinya Saulus disebut dengan Paulus - ayat 9) dituntun untuk menginjili gubernur. Namun roh jahat, lewat tukang sihir yang bernama Baryesus, atau yang disebut Elimas, berusaha menghalang-halangi agar gubernur mereka agar gubernur itu tidak sampai beriman kepada YAHWE. Dikatakan bahwa Baryesus ini adalah kawan gubernur tersebut, Sergius Paulus. Tentu saja karena ia teman pasti memiliki pengaruh yang besar dan bisa benar-benar menjadi penghalang bagi Barnabas dan Paulus untuk mengenalkan Yeshua kepada gubernur.
Namun di sini kita melihat bagaimana orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh dan bergaul akrab dengan YAHWE menang berhadapan dengan musuh. Penuh dengan Roh Kudus (ayat 9), Paulus menelanjangi kerja iblis yang penuh dengan tipu muslihat dan kejahatan dan oleh kuasa Roh Kudus Paulus menimpakan kebutaan sementara pada Baryesus. Roh Kudus membuat pekerjaan Paulus dan Barnabas menjadi berhasil dengan menyatakan pekerjaan ajaib di hadapan gubernur. Melihat kuasa yang menyertai Paulus, gubernur menjadi percaya dan takjub akan ajaran YAHWE (ayat 12).
Dari penggalan kisah perjalanan Barnabas dan Paulus ini kita bisa belajar:
1. Pentingnya doa dan puasa dalam kehidupan jemaat. Doa dan puasa menjadi praktik hidup sehari-hari dan hal itu membuat hubungan jemaat dengan YAHWE menjadi intim.
2. Hubungan yang intim dengan YAHWE membuat mereka peka dengan tuntungan YAHWE melalui Roh Kudus-Nya.
3. Hubungan yang intim dengan YAHWE membuat Barnabas dan Paulus mengetahui isi hati YAHWE sehingga Paulus tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan musuh. Paulus dimampukan YAHWE untuk melakukan nubuat dan diberi kuasa untuk melakukan pekerjaan ajaib termasuk untuk menghajar musuh.
4. Hubungan yang intim dengan YAHWE dan ketaatan dengan YAHWE membuat setiap pekerjaan nabi dan pengajar menjadi berhasil.
Baca bagian selanjutnya.
Baca juga:
Keterlibatan YAHWE dalam Penginjilan Jemaat Mula-Mula
Karya Roh Kudus Tidak Terkungkung Oleh Tradisi dan Hukum
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Label:
Barnabas,
hidup menurut Roh,
ketaatan,
mukjizat,
Paulus,
penginjilan,
Roh Kudus,
Saulus,
tukang sihir
Jumat, 04 Januari 2013
Karya Roh Kudus Tidak Terkungkung Oleh Tradisi dan Hukum
Kisah Para Rasul 11:1-18
Baca bagian sebelumnya
Apa yang dikerjakan oleh Petrus sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul 10 di mana ia membaptis orang-orang bukan Yahudi, bangsa yang tidak bersunat, tersebar luas dan didengar oleh rasul-rasul dan saudara-saudara seiman di Yudea (ayat 1). Terhadap tindakan Petrus ini, ada yang langsung menerimanya, namun ada sekelompok orang yang disebut "orang-orang dari golongan yang bersunat" yang mempermasalahkannya. Bagi kelompok ini, masuk ke rumah orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka adalah larangan (ayat 3).
YAHWE amat mengerti bahwa pada saat itu orang-orang Yahudi amat ketat memegang adat-istiadat dan hukum yang berlaku, termasuk salah satunya adalah larangan untuk bergaul dengan orang bukan Yahudi yang tidak bersunat. Sebab itu YAHWE mempersiapkan hal baru ini dengan campur tangan ilahi-Nya. Sehingga terhadap dakwaan ini Petrus hanya tinggal menceritakan apa yang sudah dikerjakan YAHWE melalui dirinya. Ia menceritakan bagaimana YAHWE sendiri yang memerintahkan dan mengatur semua kejadian tersebut. YAHWE-lah yang berkendak bahwa keluarga Kornelius dibaptis karena YAHWE sendiri sudah megaruniakan Roh Kudus-Nya kepada keluarga Kornelius. Kalau YAHWE sudah membaptis mereka dengan Roh Kudus, maka pasti tidak ada halangan lagi bahwa mereka boleh dibaptis air.
Terhadap peristiwa ini kita belajar bahwa adalah mungkin bagi YAHWE untuk melakukan kebaruan di dalam tata cara hidup jemaat. Dalam Perjanjian Lama (Kejadian 17:14) dikatakan bahwa orang yang tidak disunat harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya. Sunat menjadi hal yang wajib dilakukan bagi umat Elohim. Namun dalam Perjanjian Baru YAHWE mengundang orang-orang yang tidak bersunat juga untuk menjadu umatNya. Ini merupakan sebuah perombakan besar-besaran terhadap apa yang selama ini menjadi pokok ajaran umat YAHWE. Dan perombakan ini dikerjakan sendiri oleh YAHWE, bukan oleh Petrus.
Kita juga belajar bahwa Roh Kudus kadang bertindak di luar hukum dan adat istiadat yang berlaku. Dan ketika tindakan Roh Kudus ini ditegaskan dengan campur tangan ilahi melalui tanda-tanda, maka kita harus terbuka dan siap menerima kebenaran baru yang dinyatakan oleh YAHWE. Kita tidak boleh terkungkung oleh hukum dan adat-istiadat manakala YAHWE sudah menyatakan kebaruan di dalam tata kehidupan kita.
Ketika YAHWE membuat kebaruan di dalam tata kehidupan hidup beriman kita, hendaknya kita bersikap seperti jemaat mula-mula setelah mendengar penjelasan Petrus, yang bisa dibaca pada ayat 18:
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Elohim, katanya, "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Elohim mengaruniakan pertobaan yang memimpin kepada hidup."
Baca bagian selanjutnya!
Baca juga:
Kornelius, Berkat bagi Orang yang Mencari YAHWE dengan Tulus
Risiko Menjadi Saksi Yahshua
Pertobatan Saulus: Yahshua yang Memanggil, Murid yang Menginjil
Keterlibatan YAHWE dalam Penginjilan Jemaat Mula-Mula
Baca bagian sebelumnya
Apa yang dikerjakan oleh Petrus sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul 10 di mana ia membaptis orang-orang bukan Yahudi, bangsa yang tidak bersunat, tersebar luas dan didengar oleh rasul-rasul dan saudara-saudara seiman di Yudea (ayat 1). Terhadap tindakan Petrus ini, ada yang langsung menerimanya, namun ada sekelompok orang yang disebut "orang-orang dari golongan yang bersunat" yang mempermasalahkannya. Bagi kelompok ini, masuk ke rumah orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka adalah larangan (ayat 3).
YAHWE amat mengerti bahwa pada saat itu orang-orang Yahudi amat ketat memegang adat-istiadat dan hukum yang berlaku, termasuk salah satunya adalah larangan untuk bergaul dengan orang bukan Yahudi yang tidak bersunat. Sebab itu YAHWE mempersiapkan hal baru ini dengan campur tangan ilahi-Nya. Sehingga terhadap dakwaan ini Petrus hanya tinggal menceritakan apa yang sudah dikerjakan YAHWE melalui dirinya. Ia menceritakan bagaimana YAHWE sendiri yang memerintahkan dan mengatur semua kejadian tersebut. YAHWE-lah yang berkendak bahwa keluarga Kornelius dibaptis karena YAHWE sendiri sudah megaruniakan Roh Kudus-Nya kepada keluarga Kornelius. Kalau YAHWE sudah membaptis mereka dengan Roh Kudus, maka pasti tidak ada halangan lagi bahwa mereka boleh dibaptis air.
Terhadap peristiwa ini kita belajar bahwa adalah mungkin bagi YAHWE untuk melakukan kebaruan di dalam tata cara hidup jemaat. Dalam Perjanjian Lama (Kejadian 17:14) dikatakan bahwa orang yang tidak disunat harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya. Sunat menjadi hal yang wajib dilakukan bagi umat Elohim. Namun dalam Perjanjian Baru YAHWE mengundang orang-orang yang tidak bersunat juga untuk menjadu umatNya. Ini merupakan sebuah perombakan besar-besaran terhadap apa yang selama ini menjadi pokok ajaran umat YAHWE. Dan perombakan ini dikerjakan sendiri oleh YAHWE, bukan oleh Petrus.
Kita juga belajar bahwa Roh Kudus kadang bertindak di luar hukum dan adat istiadat yang berlaku. Dan ketika tindakan Roh Kudus ini ditegaskan dengan campur tangan ilahi melalui tanda-tanda, maka kita harus terbuka dan siap menerima kebenaran baru yang dinyatakan oleh YAHWE. Kita tidak boleh terkungkung oleh hukum dan adat-istiadat manakala YAHWE sudah menyatakan kebaruan di dalam tata kehidupan kita.
Ketika YAHWE membuat kebaruan di dalam tata kehidupan hidup beriman kita, hendaknya kita bersikap seperti jemaat mula-mula setelah mendengar penjelasan Petrus, yang bisa dibaca pada ayat 18:
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Elohim, katanya, "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Elohim mengaruniakan pertobaan yang memimpin kepada hidup."
Baca bagian selanjutnya!
Baca juga:
Kornelius, Berkat bagi Orang yang Mencari YAHWE dengan Tulus
Risiko Menjadi Saksi Yahshua
Pertobatan Saulus: Yahshua yang Memanggil, Murid yang Menginjil
Keterlibatan YAHWE dalam Penginjilan Jemaat Mula-Mula
Label:
Ananias,
baptisan air,
baptisan Roh Kudus,
bukan Yahudi,
gereja perdana,
jemaat mula-mula,
jemaat pertama,
Kornelius,
Petrus,
Roh Kudus,
sunat
Minggu, 11 November 2012
Keterlibatan YAHWE dalam Penginjilan Jemaat Mula-Mula
Kisah Para Rasul 8:26-40
Baca bagian sebelumnya
Pada bagian sebelumnya kita belajar beberapa aspek kehidupan jemaat mula-mula berkaitan dengan mujizat, penginjilan, pembaptisan air dan pembaptisan Roh Kudus, dan pertobatan. Pada bagian ini kita akan melihat bahwa YAHWE turut campur tangan secara ilahi dalam karya penginjilan.
Bagian ini mengisahkan bagaimana YAHWE menuntun Filipus untuk menginjili seorang sida-sida Etiopia yang akhirnya menyerahkan dri untuk dibaptis. Campur tangan ilagi itu dalam hal berikut ini:
1. A: yat 26Kemudian berkatalah seorang malaikat YAHWE kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Dikatakan di sini "seorang malaikat" yang "berkata-kata" kepada Filipus. Malaikat itu menyuruh Filipus untuk berjalan ke selatan ke Gaza. Mengapa? Tidak dikatakan. Dalam ayat selanjutnya kita mengerti bahwa ternyata di jalan tersebut seorang sida-sida sedang pulang dari ibadahnya di Yerusalem dan sedang membaca kitab nabi Yesaya.Setelah menuruti perintah YAHWE melalui malaikat-Nya Filipus akhirnya menemukan sida-sida tersebut. Selanjutnya YAHWE memberi perintah kepada Filipus:
2. Ayat 29: Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" Perintah YAHWE selanjutnya amat sangat jelas: Filipus diperintahkan untuk mendekati kereta di mana sida-sida itu berada. Dan filipus menemukan bahwa sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya.Selanjutnya, tanpa petunjuk langsung dari YAHWE, Filipus sudah mengerti apa yang dikehendaki YAHWE karena kebetulan apa yang dibaca sida-sida itu persis mengenai YAHSHUA, inti dari karya penginjilan yang sedang diembannya. Filipus tahu bahwa YAHWE menghendaki agar ia menginjili sida-sida tersebut dan Filipus tahu bahwa YAHWE menghendaki agar sida-sida itu menerima keselamatan.
Nah, menarik untuk memperhatikan bagaimana Filipus bisa masuk ke dalam penginjilan terhadap sida-sida tersebut. Filipus memulai dengan sebuah pertanyaan: Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" (ayat 30). Dari sini kita belajar bagaimana menjalankan tugas penginjilan. Pertama, kita harus peka dan taat kepada tuntunan YAHWE. Kedua, kita harus peka terhadap keadaan orang yang akan kita injili, sehingga kita bisa menentukan jalan masuk yang paling tepat. Kita bisa memulai dengan pertanyaan yang mengena dengan situasi yang dihadapi oleh orang yang bersangkutan. Kita juga bisa membangkitkan rasa ingin tahu orang tersebut. Dalam kisah ini sida-sida itu akhirnya ganti bertanya: Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?" (ayat 34). Nah ketika orang mulai terbuka dan ingin tahu, maka jalan penginjilan sudah terbuka dengan lebar. Dan sebagai hasil dari pekerjaan penginjilan ini, sida-sida itu akhirnya minta untuk dibaptis (ayat 36-38).
3. Ayat 39: Dan setelah mereka keluar dari air, Roh YAHWE tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Pada ayat ini kita tahu bahwa keterlibatan YAHWE tidak hanya melalui tuntutan dengan perantaraan malaikat, Roh-Nya, atau suara-Nya, namun keterlibatan YAHWE dalam ayat ini sudah sangat "fisik": YAHWE melarikan Filipus, YAHWE membuat Filipus tiba-tiba menghilang dari hadapan sida-sida. Pada ayat 40 kita diberitahu bahwa YAHWE membawa Filipus ke Asdod untuk tugas yang sama: penginjilan.
Dari bagian kisah para rasul ini kita belajar bahwa kita perlu membangun hubungan yang intim dengan YAHWE agar semakin peka dengan tuntutan YAHWE. Kita perlu membuka diri kepada-Nya dan membiarkan Dia melakukan apa pun yang Dia mau atas hidup kita.
Baca bagian selanjutnya.
Baca juga:
Pemberitaan Injil dalam Masa Penganiayaan
Pembelaan Iman Stefanus di Hadapan Mahkamah Agama
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Baca bagian sebelumnya
Pada bagian sebelumnya kita belajar beberapa aspek kehidupan jemaat mula-mula berkaitan dengan mujizat, penginjilan, pembaptisan air dan pembaptisan Roh Kudus, dan pertobatan. Pada bagian ini kita akan melihat bahwa YAHWE turut campur tangan secara ilahi dalam karya penginjilan.
Bagian ini mengisahkan bagaimana YAHWE menuntun Filipus untuk menginjili seorang sida-sida Etiopia yang akhirnya menyerahkan dri untuk dibaptis. Campur tangan ilagi itu dalam hal berikut ini:
1. A: yat 26Kemudian berkatalah seorang malaikat YAHWE kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Dikatakan di sini "seorang malaikat" yang "berkata-kata" kepada Filipus. Malaikat itu menyuruh Filipus untuk berjalan ke selatan ke Gaza. Mengapa? Tidak dikatakan. Dalam ayat selanjutnya kita mengerti bahwa ternyata di jalan tersebut seorang sida-sida sedang pulang dari ibadahnya di Yerusalem dan sedang membaca kitab nabi Yesaya.Setelah menuruti perintah YAHWE melalui malaikat-Nya Filipus akhirnya menemukan sida-sida tersebut. Selanjutnya YAHWE memberi perintah kepada Filipus:
2. Ayat 29: Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" Perintah YAHWE selanjutnya amat sangat jelas: Filipus diperintahkan untuk mendekati kereta di mana sida-sida itu berada. Dan filipus menemukan bahwa sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya.Selanjutnya, tanpa petunjuk langsung dari YAHWE, Filipus sudah mengerti apa yang dikehendaki YAHWE karena kebetulan apa yang dibaca sida-sida itu persis mengenai YAHSHUA, inti dari karya penginjilan yang sedang diembannya. Filipus tahu bahwa YAHWE menghendaki agar ia menginjili sida-sida tersebut dan Filipus tahu bahwa YAHWE menghendaki agar sida-sida itu menerima keselamatan.
Nah, menarik untuk memperhatikan bagaimana Filipus bisa masuk ke dalam penginjilan terhadap sida-sida tersebut. Filipus memulai dengan sebuah pertanyaan: Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" (ayat 30). Dari sini kita belajar bagaimana menjalankan tugas penginjilan. Pertama, kita harus peka dan taat kepada tuntunan YAHWE. Kedua, kita harus peka terhadap keadaan orang yang akan kita injili, sehingga kita bisa menentukan jalan masuk yang paling tepat. Kita bisa memulai dengan pertanyaan yang mengena dengan situasi yang dihadapi oleh orang yang bersangkutan. Kita juga bisa membangkitkan rasa ingin tahu orang tersebut. Dalam kisah ini sida-sida itu akhirnya ganti bertanya: Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?" (ayat 34). Nah ketika orang mulai terbuka dan ingin tahu, maka jalan penginjilan sudah terbuka dengan lebar. Dan sebagai hasil dari pekerjaan penginjilan ini, sida-sida itu akhirnya minta untuk dibaptis (ayat 36-38).
3. Ayat 39: Dan setelah mereka keluar dari air, Roh YAHWE tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Pada ayat ini kita tahu bahwa keterlibatan YAHWE tidak hanya melalui tuntutan dengan perantaraan malaikat, Roh-Nya, atau suara-Nya, namun keterlibatan YAHWE dalam ayat ini sudah sangat "fisik": YAHWE melarikan Filipus, YAHWE membuat Filipus tiba-tiba menghilang dari hadapan sida-sida. Pada ayat 40 kita diberitahu bahwa YAHWE membawa Filipus ke Asdod untuk tugas yang sama: penginjilan.
Dari bagian kisah para rasul ini kita belajar bahwa kita perlu membangun hubungan yang intim dengan YAHWE agar semakin peka dengan tuntutan YAHWE. Kita perlu membuka diri kepada-Nya dan membiarkan Dia melakukan apa pun yang Dia mau atas hidup kita.
Baca bagian selanjutnya.
Baca juga:
Pemberitaan Injil dalam Masa Penganiayaan
Pembelaan Iman Stefanus di Hadapan Mahkamah Agama
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Label:
baptisan air,
Filipus,
gereja perdana,
jemaat mula-mula,
jemaat pertama,
malaikat,
penginjilan,
Roh Kudus,
sida-sida Etiopia,
tanda
Kamis, 18 Oktober 2012
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Kisah Para Rasul 6:8-15
Baca bagian sebelumnya!
Pada bagian sebelumnya kita belajar bagaimana jemaat mula-mula amat memperhatikan pelayanan meja di samping pelayanan Firman. Bahwa pembagian kepada orang-orang yang membutuhkan, para janda, merupakan bagian penting di dalam efektivitas penginjilan. Kini kita akan melihat bagaimana salah satu pelayan meja tersebut ditampilkan di dalam Kitab Suci, yakni Stefanus:
6:8 Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. 6:9 Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini--anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria--bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, 6:10 tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. 6:11 Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: "Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Elohim." 6:12 Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. 6:13 Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: "Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, 6:14 sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa YAHSHUA, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita." 6:15 Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.
Stefanus, salah satu pelayan meja yang terpilih dalam kisah ini digambarkan sebagai penuh karunia dan kuasa, mengadakan mujizat dan tanda di antara orang banyak. Berarti, selain membagi-bagikan berkat jasmani kepada para janda, Stefanus juga melayani jemaat dengan mendatangkan mujizat. Mungkin itu menyembuhkan sakit-penyakit, mengusir setan, dsb. Tidak tertutup kemungkinan juga bahwa Stefanus juga mewartakan Injil saat ia menjalankan tugasnya sebagai pelayan meja.
Apa yang dikerjakan Stefanus ini tampaknya mengundang tanda tanya dan kecemburuan di pihak beberapa jemaat Yahudi. Mereka mencoba mempertanyakan tindakan Stefanus dan bersoal jawab dengannya. Namun mereka dikatakan tidak sanggup melawan hikmat dan Roh yang mendorongnya berbicara. Dari sini kita tahu bahwa seorang pelayan yang baik bahkan dalam bidang yang tidak rohani sekali pun perlu diperlengkapi dengan perlengkapan rohani yang memadai. Ia harus memiliki hubungan yang intim dengan YAHWE yang mencurahkan Roh Kudus-Nya kepadanya. Ia juga harus siap melayani orang yang sakit, mengusir setan, dan memberikan kesaksian di depan orang banyak.
Demikian pula, kita perlu diperlengkapi dengan hubungan yang intim dengan YAHWE di dalam setiap bentuk pelayanan kita. Kita perlu peka terhadap gerakan Roh dan membiarkan hati dan hidup kita dituntun oleh Roh. Hubungan yang intim dengan Roh Kudus menjadikan diri kira penuh karunia dan kuasa, dan diberikan kemampuan untuk melakukan mujizat dan tanda-tanda di depan orang banyak. Dan ketika kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita perbuat, Roh Kudus akan memampukan kita untuk menyampaikan hikmat dan kehendak Bapa. Perkataan kita akan penuh hikmat dan kuasa.
Baca bagian selanjutnya!
Baca juga:
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Ketaatan Para Rasul Berhadapan dangan Otoritas Agama dan Dunia
Mukjizat Menjadi Unsur Utama dalam Pelayanan dan Penginjilan
Motivasi Pelayanan: Belajar dari Ananis dan Safira
Pada bagian sebelumnya kita belajar bagaimana jemaat mula-mula amat memperhatikan pelayanan meja di samping pelayanan Firman. Bahwa pembagian kepada orang-orang yang membutuhkan, para janda, merupakan bagian penting di dalam efektivitas penginjilan. Kini kita akan melihat bagaimana salah satu pelayan meja tersebut ditampilkan di dalam Kitab Suci, yakni Stefanus:
![]() |
| Stefanus di Hadapan Tua-Tua |
Stefanus, salah satu pelayan meja yang terpilih dalam kisah ini digambarkan sebagai penuh karunia dan kuasa, mengadakan mujizat dan tanda di antara orang banyak. Berarti, selain membagi-bagikan berkat jasmani kepada para janda, Stefanus juga melayani jemaat dengan mendatangkan mujizat. Mungkin itu menyembuhkan sakit-penyakit, mengusir setan, dsb. Tidak tertutup kemungkinan juga bahwa Stefanus juga mewartakan Injil saat ia menjalankan tugasnya sebagai pelayan meja.
Apa yang dikerjakan Stefanus ini tampaknya mengundang tanda tanya dan kecemburuan di pihak beberapa jemaat Yahudi. Mereka mencoba mempertanyakan tindakan Stefanus dan bersoal jawab dengannya. Namun mereka dikatakan tidak sanggup melawan hikmat dan Roh yang mendorongnya berbicara. Dari sini kita tahu bahwa seorang pelayan yang baik bahkan dalam bidang yang tidak rohani sekali pun perlu diperlengkapi dengan perlengkapan rohani yang memadai. Ia harus memiliki hubungan yang intim dengan YAHWE yang mencurahkan Roh Kudus-Nya kepadanya. Ia juga harus siap melayani orang yang sakit, mengusir setan, dan memberikan kesaksian di depan orang banyak.
Demikian pula, kita perlu diperlengkapi dengan hubungan yang intim dengan YAHWE di dalam setiap bentuk pelayanan kita. Kita perlu peka terhadap gerakan Roh dan membiarkan hati dan hidup kita dituntun oleh Roh. Hubungan yang intim dengan Roh Kudus menjadikan diri kira penuh karunia dan kuasa, dan diberikan kemampuan untuk melakukan mujizat dan tanda-tanda di depan orang banyak. Dan ketika kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita perbuat, Roh Kudus akan memampukan kita untuk menyampaikan hikmat dan kehendak Bapa. Perkataan kita akan penuh hikmat dan kuasa.
Baca bagian selanjutnya!
Baca juga:
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Ketaatan Para Rasul Berhadapan dangan Otoritas Agama dan Dunia
Mukjizat Menjadi Unsur Utama dalam Pelayanan dan Penginjilan
Motivasi Pelayanan: Belajar dari Ananis dan Safira
Label:
gereja perdana,
hikmat,
jemaat mula-mula,
jemaat pertama,
karunia,
kuasa,
mukjizat,
Roh Kudus,
Stefanus,
tanda
Senin, 15 Oktober 2012
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Kisah Para Rasul 5:26-42
Baca bagian sebelumnya!
Pada bagian sebelumnya kita belajar bahwa tanda-tanda dan mukjizat dan perbuatan ajaib menyertai kehidupan para rasul. YAHWE secara ajaib ikut campur tangan di dalam kehidupan para rasul. Pada bagian ini kita akan belajar tentang ketaatan kepada YAHWE diperhadapkan dengan otoritas dunia, pemimpin agama.
Petrus dan para rasul sudah ditangkap dan dipenjara, namun dilepaskan secara ajaib oleh malaikat dan atas perintah YAHWE mereka mengajar di Serambi Salomo. Para rasul itu sebelumnya telah mendapat larangan dari Mahkamah Agama untuk tidak mengajar orang banyak dalam nama YAHShUA. Namun mereka taat kepada YAHWE yang menyuruh mereka untuk tetap mengajarkan firman yang hidup. Mereka kemudian ditangkap kembali dan Mahkamah Agama menegaskan bahwa mereka tidak boleh mengajar dalam nama YAHShUA. Terhadap larangan yang disampaikan Imam Besar itu Petrus mengatakan:
Kis 5:29 "Kita harus lebih taat kepada Elohim dari pada kepada manusia. 5:30 Elohim nenek moyang kita telah membangkitkan Yahshua, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. 5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Elohim sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. 5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Elohim kepada semua orang yang mentaati Dia."
Kita melihat sebuah keberanian yang luar biasa yang ditunjukkan oleh Petrus. Tentu kita masih ingat bagaimana Petrus pernah menyangkal YAHSHUA sebelum penyaliban itu t erjadi. Namun kini, Petrus bukan saja menolak larangan untuk memberitakan firman hidup namun juga mengungkapkan sebuah kebenaran di depan para imam dan Mahkamah Agama bahwa mereka telah bersalah karena telah membunuh YAHSHUA yang sebenarnya adalah Pemimpin dan Juruselamat yang diutus YAHWE untuk pertobatan Israel. Petrus juga mengatakan bahwa mereka adalah saksi. Petrus mengatakan "kami" artinya ia sendiri dan Roh Kudus. Kita menjadi tahu bahwa sumber keberanian yang luar biasa tersebut adalah kekuatan dari Roh Kudus yang menyertai Petrus.
Tentu saja perkataan Petrus itu amat menusuk hati para imam karena tanpa basa basi Petrus menuding kesalahan mereka. Jika bukan karena nasehat Gamaliel, seorang ahli Taurat yang dihormati, Petrus dan para rasukl yang lain pastilah sudah dibunuh oleh Mahkamah Agama. Akhirnya mereka disesah (ayat 40). Dan apa reaksi Petrus dan rasul-rasul yang lain?
5:41 Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama YAHSHUA. 5:42 Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang YAHSHUA yang adalah Mesias.
Terhadap penyesahan yang mereka terima, mereka merasa senang karena telah dianggap layak untuk ikut menderita penghinaan oleh karena nama YAHSHUA.Bukannya mengikuti apa yang diperintahkan oleh para imam dalam Mahkamah Agama, Petrus dan para rasul setiap hari mengajar orang banyak dan memberitakan Injil tentang YAHSHUA.
Hari ini kita belajar bahwa memberitakan firman hidup, memberitakan Injil tentang YAHSHUA, memberitakan nama YAHSHUA adalah wujud dari ketaatan kita kepada YAHWE. Kita akan dimampukan untuk taat ketika kita membiarkan hidup kita dituntun oleh Roh Kudus, ketika pengurapan YAHWE melalui Roh Kudus-Nya ada pada kita, ketika kita menjadi saksi bersama Roh Kudus. Kita juga harus sadar bahwa memberitakan nama YAHSHUA memiliki risiko langsung terhadap hidup kita. Petrus dan para rasul telah disesah, dan bahkan nyaris dibunuh, karena mereka memberitakan nama YAHSHUA.
Bersama Roh Kudus kita akan lebih bisa taat kepada YAHWE dan bahkan diberi kekuatan untuk menentang otoritas yang jahat yang jelas-jelas menghalangi kehendak YAHWE.
Baca bagian selanjutnya!
Baca juga:
Ketaatan Para Rasul Berhadapan dangan Otoritas Agama dan Dunia
Mukjizat Menjadi Unsur Utama dalam Pelayanan dan Penginjilan
Motivasi Pelayanan: Belajar dari Ananis dan Safira
Cara Hidup Jemaat Pertama: Semua Milik Semua
Cara Hidup Jemaat yang Pertama
Baca bagian sebelumnya!
Pada bagian sebelumnya kita belajar bahwa tanda-tanda dan mukjizat dan perbuatan ajaib menyertai kehidupan para rasul. YAHWE secara ajaib ikut campur tangan di dalam kehidupan para rasul. Pada bagian ini kita akan belajar tentang ketaatan kepada YAHWE diperhadapkan dengan otoritas dunia, pemimpin agama.
Petrus dan para rasul sudah ditangkap dan dipenjara, namun dilepaskan secara ajaib oleh malaikat dan atas perintah YAHWE mereka mengajar di Serambi Salomo. Para rasul itu sebelumnya telah mendapat larangan dari Mahkamah Agama untuk tidak mengajar orang banyak dalam nama YAHShUA. Namun mereka taat kepada YAHWE yang menyuruh mereka untuk tetap mengajarkan firman yang hidup. Mereka kemudian ditangkap kembali dan Mahkamah Agama menegaskan bahwa mereka tidak boleh mengajar dalam nama YAHShUA. Terhadap larangan yang disampaikan Imam Besar itu Petrus mengatakan:
Kis 5:29 "Kita harus lebih taat kepada Elohim dari pada kepada manusia. 5:30 Elohim nenek moyang kita telah membangkitkan Yahshua, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. 5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Elohim sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. 5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Elohim kepada semua orang yang mentaati Dia."
Kita melihat sebuah keberanian yang luar biasa yang ditunjukkan oleh Petrus. Tentu kita masih ingat bagaimana Petrus pernah menyangkal YAHSHUA sebelum penyaliban itu t erjadi. Namun kini, Petrus bukan saja menolak larangan untuk memberitakan firman hidup namun juga mengungkapkan sebuah kebenaran di depan para imam dan Mahkamah Agama bahwa mereka telah bersalah karena telah membunuh YAHSHUA yang sebenarnya adalah Pemimpin dan Juruselamat yang diutus YAHWE untuk pertobatan Israel. Petrus juga mengatakan bahwa mereka adalah saksi. Petrus mengatakan "kami" artinya ia sendiri dan Roh Kudus. Kita menjadi tahu bahwa sumber keberanian yang luar biasa tersebut adalah kekuatan dari Roh Kudus yang menyertai Petrus.
Tentu saja perkataan Petrus itu amat menusuk hati para imam karena tanpa basa basi Petrus menuding kesalahan mereka. Jika bukan karena nasehat Gamaliel, seorang ahli Taurat yang dihormati, Petrus dan para rasukl yang lain pastilah sudah dibunuh oleh Mahkamah Agama. Akhirnya mereka disesah (ayat 40). Dan apa reaksi Petrus dan rasul-rasul yang lain?
5:41 Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama YAHSHUA. 5:42 Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang YAHSHUA yang adalah Mesias.
Terhadap penyesahan yang mereka terima, mereka merasa senang karena telah dianggap layak untuk ikut menderita penghinaan oleh karena nama YAHSHUA.Bukannya mengikuti apa yang diperintahkan oleh para imam dalam Mahkamah Agama, Petrus dan para rasul setiap hari mengajar orang banyak dan memberitakan Injil tentang YAHSHUA.
Hari ini kita belajar bahwa memberitakan firman hidup, memberitakan Injil tentang YAHSHUA, memberitakan nama YAHSHUA adalah wujud dari ketaatan kita kepada YAHWE. Kita akan dimampukan untuk taat ketika kita membiarkan hidup kita dituntun oleh Roh Kudus, ketika pengurapan YAHWE melalui Roh Kudus-Nya ada pada kita, ketika kita menjadi saksi bersama Roh Kudus. Kita juga harus sadar bahwa memberitakan nama YAHSHUA memiliki risiko langsung terhadap hidup kita. Petrus dan para rasul telah disesah, dan bahkan nyaris dibunuh, karena mereka memberitakan nama YAHSHUA.
Bersama Roh Kudus kita akan lebih bisa taat kepada YAHWE dan bahkan diberi kekuatan untuk menentang otoritas yang jahat yang jelas-jelas menghalangi kehendak YAHWE.
Baca bagian selanjutnya!
Baca juga:
Ketaatan Para Rasul Berhadapan dangan Otoritas Agama dan Dunia
Mukjizat Menjadi Unsur Utama dalam Pelayanan dan Penginjilan
Motivasi Pelayanan: Belajar dari Ananis dan Safira
Cara Hidup Jemaat Pertama: Semua Milik Semua
Cara Hidup Jemaat yang Pertama
Label:
ahli Taurat,
Gamaliel,
Imam Besar,
kesaksian,
ketaatan,
nama YAHSHUA,
Petrus,
Roh Kudus,
saksi,
taat
Senin, 20 Agustus 2012
Pola Kesaksian Gereja Mula-Mula
Baca bagian sebelumnya!
Pada awal pasal 1 Kisah Para Rasul, Yesus mengatakan bahwa "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kis 1:8). Dalam Pasal 2 apa yang dikatakan Yesus benar-benar terjadi. Petrus, yang pada waktu penangkapan Yesus sempat menyangkal-Nya sampai 3 kali, kini berani berdiri dan bersaksi mengenai Yesus. Kalau dahulu Petrus takut kalau orang mengetahui bahwa ia adalah murid Yesus, sekarang Petrus berani mengakuinya di hadapan ribuan orang. Dengan suara nyaring Petrus bahkan membuka kesaksiannya dengan kata-kata ini: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu sekalian yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkaraanku ini" (ayat 14). Sebuah pembukaan kotbah yang amat sangat keras dan berani.
Bahkan tidak hanya sekadar mengakui bahwa ia adalah murid-Nya, tetapi malah berani mengecam para pembunuh Yesus dan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus. Jadi benar bahwa Roh Kudus yang diberikan YAHWE memberikan keberanian untuk bersaksi. Dahulu Petrus takut dikenali jadi dirinya sebagai murid Yesus, sekarang ia berani membela dan membenarkan apa yang terjadi dalam dirinya dan murid-murid Yesus yang lain.
Pada pasal 2 Kisah Para Rasul, seperti juga telah kita pelajari pada bagian sebelumnya, menjadi semakin jelas bahwa Gereja Mula-Mula kuat berdasar pada Kitab Suci. Petrus mencoba menjelaskan keanehan atau mukjizat yang sedang terjadi pada para rasul dan murid Yesus dengan mengingat Yoel 2:28-32: "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu. Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu. Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas." Petrus mencoba menjelaskan bahwa mukjizat yang sekarang mereka saksikan adalah penggenapan dari Kitab Suci. Bahwa YAHWE akan mencurahkan Roh-Nya dan mengadakan banyak mukjizat, orang akan bernubuat, mendapat penglihatan, dan bermimpi. Selanjutnya Petrus juga mengacu kepada Kitab Suci ketika menjelaskan mengapa Yesus disalib, mati, namun akhirnya bangkit (Mazmur 16:8-11), dan duduk di sebelah kanan YAHWE (Mazmur 110:1), menjadi Tuhan dan Kristus.
Di akhir kotbah Petrus, dicatat bahwa orang-orang akhirnya membuka hati dan bertanya kepada Petrus: apa yang harus kami perbuat? Dan di akhir kesaksian itu, ada kira-kira 3000 orang meminta dirinya dibaptis. Sebuah kesaksian atau penginjilan yang benar-benar efektif.
Dari sini kita belajar mengenai pola kesaksian Gereja Perdana.
Pertama, kesaksian mereka digerakkan oleh Roh Kudus yang memberikan keberanian kepada para murid dan
Kedua, Roh Kudus melengkapi kesaksian mereka dengan perbuatan-perbuatan ajaib,
Ketiga, para murid menjelaskan dan membela iman mereka dengan mengacu kepada Kitab Suci.
Jadi hendaklah kita sebagai murid Kristus menjadi saksi kesalamatan-Nya. Pertama dengan membiarkan Roh Kudus tercurah atas diri kita dan memberikan keberanian kepada kita, serta melengkapi kesaksian kita dengan perbuatan ajaib-Nya. Nah pada ayat 38-39 dinyatakan bagaimana kita bisa menerima Roh Kudus: bertobat, memberi diri dibaptis dalam nama Yesus agar dosa kita diampuni, untuk menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kitalah janji itu diberikan, juga bagi anak-anak kita dan bagi keturunan kita. Bagian ini mestinya meyakinkan kita bahwa YAHWE rindu mencurahkan Roh-Nya kepada kita, anak-anak kita, keturunan kita, karena kepada kitalah janji itu diberikan, untuk menjadi saksi keselamatan-Nya.
Baca juga:
Pentakosta, Ciri-Ciri Pekerjaan Roh Kudus
Gereja Mula-Mula Mendasarkan Diri pada Kitab Suci
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati ...
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Gereja Mula-Mula Mendasarkan Diri pada Kitab Suci
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati ...
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Label:
bersaksi,
gereja perdana,
jemaat mula-mula,
jemaat pertama,
Kitab Suci,
mukjizat,
murid Yesus,
Roh Kudus
Kamis, 16 Agustus 2012
Pentakosta, Ciri-Ciri Pekerjaan Roh Kudus
Kita semua orang percaya tahu bahwa Pentakosta, sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2, adalah peristiwa di mana para rasul dan murid Yesus mengalami kepenuhan Roh Kudus. Nah bagaimana hal itu terjadi dan apa dampaknya?
Saat itu semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba dari langit turunlah suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (ayat 1-4) Jadi Roh itu hinggap pada semua orang percaya. Roh itu membuat mereka yang menerimanya "mulai berkata-kata" dalam "bahasa-bahasa lain" seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka. Jadi mereka tidak asal berkata-kata, tetapi Roh-lah yang membuat mereka berkata-kata, dan berkata-kata dalam bahasa yang bukan bahasa orang itu sendiri.
Pada ayat 5-6 dicatat bahwa waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari berbagai daerah dan mereka berkerumun karena mendengar bunyi itu. Jadi peristiwa Pentakosta itu pasti amat dahsyat. Tiupan angin keras itu pasti terdengar sampai jarak yang cukup jauh dan berlangsung cukup lama sehingga orang-orang sempat datang dan berkerumun di tempat di mana murid-murid dan para rasul tinggal. Pekerjaan Roh Kudus ternyata juga mendorong orang lain untuk datang berkerumun. Jadi YAHWE lewat Roh-Nya mendorong orang lain atau menyiapkan orang lain, untuk datang dan mendengarkan para murid, untuk menerima berita kebenaran.
Kemudian orang-orang tersebut mendengar para rasul tersebut, yang semuanya orang Galilea (ayat 7) berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri-sendiri (ayat 6), yang membuat semua orang heran dan tercengang-cengang (ayat 7, 12). Jadi pekerjaan Roh itu ajaib, membuat para rasul berbicara dalam satu bahasa namun banyak orang lain yang berbahasa lain bisa mendengar mereka berbicara dalam bahasa mereka masing-masing dan mengerti apa yang dikatakan para rasul tersebut. Lewat pekerjaan Roh itu YAHWE ingin membuat orang lain heran dan tercengang atas perbuatan ajaib yang sanggup dikerjakan YAHWE.
Roh Kudus itu membuat mereka yang mengalami kepenuhan atas-Nya berkata-kata "tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan YAHWE" (ayat 11). Jadi, inti dari pekerjaan Roh Kudus adalah:
(1) untuk memberikan kekuatan dan keberanian bagi penerimanya untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan YAHWE, untuk melakukan penginjilan,
(2) namun sekaligus pada waktu yang bersamaan memberikan dorongan atau inspirasi kepada mereka yang akan menerima penginjilan, menyiapkan lahan, menyiapkan hati mereka yang belum percaya, untuk mau datang dan mendengar, untuk bisa mengerti kabar gembira yang akan mereka terima dari para penginjil, para saksi.
(3) Roh yang sama juga sekaligus melengkapi para saksi dengan perbuatan-perbuatan ajaib yang membuat penerima berita sukacita heran, tercengang-cengan, dan akhirnya menerima pewartaan para saksi.
Baca juga:
Pelajaran Pertama dari Kisah Para Rasul
Gereja Mula-Mula Mendasarkan Diri pada Kitab Suci
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati Berdoa Bersama
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Cara Hidup Jemaat yang Pertama
Label:
bahasa Roh,
baptisan Roh Kudus,
Pentakosta,
Roh Kudus
Minggu, 12 Agustus 2012
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Hidup Kristen adalah hidup menurut Kristus atau mengikuti ajaran Kristus. Tentu saja banyak cara atau banyak tradisi atau bahkan keyakinan dalam menerapkan "hidup Kristen" atau "gaya hidup Kristiani" yang bisa ditemui saat ini.
Namun semestinya hidup Kristen atau gaya hidup Kristiani harus tetap bersumber pada Kitab Suci. Dan dengan demikian, amat sangatlah penting untuk belajar dari orang-orang pertama yang menyebut diri atau disebut dirinya sebagai orang Kristen, yakni mereka menghayati hidup Kristen pada mula-mula atau jemaat perdana atau jemaat pertama atau jemaat mula-mula.
Dengan demikian, kita bisa menggali dan menelusuri bagaimana orang Kristen seharusnya hidup dengan membaca Kisah Para Rasul. Kalau kita mau serius menjadi orang Kristen atau menadi pengikut Kristus, apapun latar belakang kelompok atau denominasi kita, maka haruslah kita belajar dari para rasul sendiri.
Membaca Kisah Para Rasul, mulai dari pasal 1, bagian awal dari pasal 1, amat sangat jelas ditekankan bahwa hidup Kristiani haruslah berdasar atau digerakkan oleh Roh Kudus. Sekali lagi: hidup kristiani kita, segala langkah dan gerak aktivitas Kristiani kita, harus didasarkan atau digerakkan atau diinspirasikan oleh Roh Kudus. Dalam Kisah 1 ayat 4 dengan jelas dinyatakan bahwa Yesus melarang mereka untuk melakukan apapun sebelum mereka menerima Roh Kudus, atau yang disebut janji Bapa, atau yang disebut dengan "dibabtis dengan Roh Kudus".
Kisah Para Rasul 1:4-5 Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka. Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang - demikian kata-Nya - "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus."
Perhatikan kata "melarang", Yesus melarang para murid untuk pergi, melainkan untuk "tinggal menantikan janji Bapa", janji yang telah sebelumnya disampaikan sendiri dari Yesus (telah kamu dengar dari pada-Ku), yakni bahwa Yesus akan membaptis mereka dengan Roh Kudus ... sebelum mereka melakukan pelayanan apapun.
Di bagian selanjutnya kita juga belajar bahwa para murid "merisaukan" sesuatu tentang pemulihan kerajaan bagi Israel. Namun sekali lagi Yesus meminta mereka untuk tidak memikirkan yang lain namun menegaskan bahwa kalau mereka sudah menerima atau kalau Roh Kudus sudah turun atas mereka, mereka akam menjadi saksiNya sampai ke ujung bumi.
Kisah Para Rasul 1:6-8: Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi ISrael?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut uasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Yesus melarang mereka pergi, Yesus juga "melarang" mereka memikirkan yang lain, bahkan yang sangat mulia (pemulihan kerajaan Israel), namun menyuruh mereka fokus untuk menerima Roh Kudus. Karena Roh Kudus itu akan memberi mereka kuasa untuk menjadi saksiNya.
Jelas, Roh Kudus dan kuasanya itu amat sangat penting bagi pelayanan para rasul dan jemaat perdana. Dengan Roh Kudus, mereka jadi tahu apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang seharusnya menjadi fokus dari pelayanan mereka. Bukannya memikirkan kerajaan duniawi Israel, namun menjadi saksi Kristuslah yang harus menjadi fokus mereka.
Pertanyaannya: Apakah Anda sudah melayani? Apakah Anda terlibat dalam kegiatan gereja? Kalau sudah, apa yang mendasari gerak dan pelayanan Anda? Sudahkah Roh Kudus tinggal dalam diri Anda? Sudahkah Anda menerima Roh Kudus yang dijanjikan Bapa?
Sudahkah Anda "tinggal" dan "menantikan janji Bapa"? Ataukah Anda langsung terjun ke lapangan tanpa dibekali kuasa dari Roh Kudus. Kalau begitu: jangan-jangan Anda hanya sedang peduli dengan "misi" Anda sendiri, sebagaimana para rasul waktu itu hanya memikirkan sesuatu yang duniawi, pemulihan kerajaan Israel. Padahal mereka diminta untuk menjadi saksi Kristus. Apa motivasi Anda melayani, menjadi saksi Kristus? Atau mengejar ambisi duniawi Anda (memulihkan kerajaan Anda?)?
Saatnya untuk bertanya kembali kepada diri Anda sendiri. Saatnya untuk diam tinggal dan menantikan janji Bapa. Lakukanlah itu sebelum Anda lari untuk melayani. Tanpanya, barangkali Anda hanya sedangg mengejar ambisi pribadi Anda sendiri.
Baca juga:
Cara Hidup Jemaat yang Pertama
Label:
gereja perdana,
janji Bapa,
janji Tuhan,
jemaat mula-mula,
jemaat pertama,
kuasa,
Roh Kudus,
saksi
Sabtu, 25 Desember 2010
Pelajaran Pertama dari Kisah Para Rasul
Tuhan Yesus menjanjikan kita baptisan Roh Kudus.
Kisah 1:5 Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
Kalau itu janji Yesus, maka baptisan Roh Kudus menjadi hak setiap orang yang beriman kepada Yesus.
Dan apa efek dari baptisan Roh Kudus ini?
Kisah 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
Kalau kita sudah menerima baptisan Roh Kudus, Yesus bilang kita akan menerima kuasa. Kuasa? Kuasa untuk menjadi saksi Yesus.
Pertanyaannya: apakah aku sudah memiliki kuasa itu? Apakah aku sudah menerima baptisan Roh Kudus? Bagaimana aku bisa menerima baptisan Roh Kudus? Jawabannya ada dalam:
Kisah 1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
Jadi aku harus bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan anggota keluarga, dengan saudara-saudara beriman yang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)





