Manakala kamu berdoa, katakanlah:
Bapa kami yang di surga
dikuduskanlah Nama-Mu
datanglah kerajaan-Mu
jadilah kehendak-Mu
seperti di dalam surga
juga di atas bumi.
Berikanlah kepada kami hari ini,
roti kami sehari-hari
dan amnpunkanlah kepada kami
dosa-dosa kami
karena kami pun mengampunkan
kepada setiap orang
yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami
ke dalam pencobaan
tetapi luputkanlah kami
dari yang jahat.
Ketika kita berdoa, Tuhan Yeshua mengajarkan, agar pertama-tama kita menyatakan, mengakui akan adanya Bapa yang ada di surga. Ini sebuah pernyataan, pengakuan, klaim bahwa kita ini anak-Nya, bahwa Tuhan yang ada di surga itu adalah Bapa kita. Kita adalah anak-Nya, anak dari Tuhan pencipta kita dan seluruh dunia. Pernyataan ini, pengakuan ini menegaskan bahwa ada hubungan yang intim antara kita dengan Tuhan kita. Kita sudah diangkat dan diberi hak untuk menjadi anak-Nya, untuk menyebut Pencipta kita itu adalah Bapa kita. Inilah identitas kita: anak Tuhan Pencipta langit dan bumi serta segala semesta.
Yang kedua kita diminta memproklamirkan kekudusan Nama-Nya. Menyerukan kekudusan Tuhan tampaknya menjadi cara yang berkenan kepada Tuhan di dalam menyembah-Nya. Bandingkan dengan Wahyu 4:8:
Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan
di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak
berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus,
kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan
yang akan datang."
atau Yesaya 6:3:
Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus,
kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"
Yang ketiga, kita diminta untuk memohon agar kerajaan-Nya datang. Yesus sendiri selalu mengatakan bahwa kerajaan sorga sudah dekat. Dan kita diminta bertobat oleh karenanya. Kerajaan sorga itu seperti apa? Yesus memberikan banyak sekali gambaran mengenai apa itu kerajaan sorga melalui perumpamaan-perumpamaan. Misalnya, kerajaan sorga diumpamakan seperti "seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah" (Matius 13:45) atau "seumpama harta yang terpendam di ladang" (Matius 13:44) yang menunjukkan sesuatu yang sangat berharga sehingga orang rela menjual segala miliknya untuk memiliki mutiara itu;
atau "seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya" (Matius 18:23) yang memperlihatkan tentang kemurahan pengampunan yang harus menjadi pedoman hidup;
atau "seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya" (Matius 22:2) yang memperlihatkan pentingnya untuk datang ke pesta dengan pakaian yang layak, dan lain sebagainya. Kerajaan sorga juga "seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan" (Matius 13:47) yang memperlihatkan bahwa ada pemisahan antara orang jahat dan orang benar; atau "seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki" (Matius 25:1) yang memperlihatkan pentingnya untuk bersiap-siap dan berjaga-jaga (membawa cadangan minyak);
atau "seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya" (Matius 13:24) yang memperlihatkan bahwa orang-orang jahat itu hidup di tengah-tengah orang jahat;
atau "seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya" (Matius 20:1) yang memperlihatkan kewenangan Tuhan untuk memberikan upah yang sama kepada semua pekerjanya;
atau "seumpama biji sesawi" (Matius 13:31) atau "seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya" (Matius 13:33) yang memperlihatkan bahwa orang benar atau orang beriman harus bermanfaat bagi orang lain; atau "seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka" (Matius 25:14) yang memperlihatkan pentingnya untuk mengembangkan talenta yang kita miliki.
Kita juga diminta untuk memohon agar kehendak-Nya jadi, yakni keadaan di atas bumi seperti di dalam sorga.
Kita juga diminta untuk meminta roti kebutuhan hidup kita sehari-hari. Ini berarti seharusnya kita berdoa meminta roti ini setiap hari.
Kita diminta untuk memohon ampun atas dosa kita tetapi sekaligus kita juga diminta untuk mengampuni orag lain, sebagai syarat pengampunan itu: "seperti kami juga mengampuni".
Terakhir, kita diminta untuk meminta Tuhan menjauhkan kita dari pencobaan dan melupuskan kita dari "yang jahat". Pencobaan itu ada dan "yang jahat" itu ada, tetapi kita bisa memohon kepada Tuhan agar kita tidak dibawa ke dalam pencobaan dan diluputkan dari yang jahat. Dan karena kita diminta untuk meminta roti setiap hari, itu berarti kita juga diminta untuk memohon dijauhkan dari pencobaan dan diluputkan dari yang jahat ini juga setiap hari.
Saatnya kudatang kepada-MU ya YAHWE, Tuhan Penyelamatku, Pelindung dan Penebusku. Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain.
Tampilkan postingan dengan label berdoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berdoa. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 Januari 2018
Jika kamu berdoa
Label:
berdoa,
bertekun dalam doa,
cobaan,
doa,
harta sorga,
kasih Bapa,
kejahatan,
Kerajaan Elohim,
kudus
Rabu, 02 Desember 2015
Ruginya Membenci dan Adilnya Mengampuni
Salah satu hal paling utama yang digunakan setan untuk membuat kita berhenti maju dan bertumbuh secara rohani adalah tersinggung, kepahitan, benci, kemarahan, dan tidak mengampuni.
Sebagai anak Tuhan, kita perlu belajar untuk membuang kebencian, kemarahan, dan kekecewaan itu dari hati kita. Kita perlu belajar mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12: 21: Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!) dan tidak membiarkan hidup kita dikendalikan oleh perasaan kebencian dan kemarahan sehingga kita kalah oleh kejahatan.
Contoh bagaimana anak Tuhan berhasil mengalahkan kejahatan dengan kebaikan adalah saat Stefanus dirajam.
Stefanus
Kisah 7: 59-60
Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.
Stefanus adalah diaken atau pelayan jemaat yang salah satu tugasnya adalah melayani pembagian untuk janda-janda. Artinya ia adalah orang yang karena tugasnya pasti dikenal sebagai orang yang selalu berbuat kebaikan. Tetapi oleh karena rasa iri hati ada sekelompok orang Yahudi yang membuat tuduhan palsu terhadap Stefanus dan menghadapkannya ke sidang Mahkamah Agama. Oleh karena tersinggung oleh ucapan Stefanus kritikan Stefanus, mereka akhirnya menyeret Stefanus dan melemparinya dengan batu sampai mati.
Ini adalah sebuah adegan di mana kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ia telah berbuat baik melayani jemaat tetapi akhirnya difitnah dan kemudian dilempari dengan batu. Stefanus bisa saja mengutuki orang-orang yang dengan sengaja dan licik mencelakakan dirinya. Tetapi hal itu tidak dilakukannya.
Mengapa?
Karena ia tahu hukum yang berlangsung di alam roh, sebuah kebenaran yang setiap anak Tuhan mestinya mengetahui dan menaatinya.
Tuhan tidak pernah membiarkan begitu saja ketika anak-anak-Nya diperlakukan dengan salah. Ketika seseorang berbuat jahat kepada kita, sesungguhnya tanpa sadar, mereka sedang memosisikan diri mereka sendiri dalam posisi yang berbahaya. Bapak YAHWEH tidak akan membiarkannya begitu saja. Stefanus berdoa supaya orang-orang itu tidak perlu menanggung akibat dari perbuatan mereka.
Demikian pula seharusnya kita, kita harus mendoakan mereka yang berbuat salah atau menjahati kita supaya mereka tidak perlu menanggung akibatnya. Sebab kalau tidak, Bapa pasti akan bertindak.
Lalu kalau kita berdoa untuk mereka yang berbuat jahat, di manakah keadilan bagi mereka? Bagaimana dengan kerugian yang sudah kita alami yang diakibatkan oleh mereka? Mereka mungkin telah membuat kita mengalami kerugian yang amat besar, bahkan merenggut masa depan kita, menghancurkan hidup kita, membuat hidup kita yang selama ini baik-baik saja, berjalan mulus, dan semua persiapan masa depan kita yang kita lakukan dengan penuh kesungguhan dan kehati-hatian menjadi hancur gara-gara ulah mereka? Kita mungkin menjadi kehilangan kebahagiaan, damai sejahtera, mengalami luka hati yang sangat mendalam, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, atau bahkan kehilangan orang-orang yang amat sangat berarti dan kita cintai.
Selain itu, memang sangat tidak mudah untuk melupakan kejahatan dan kelicikan orang lain terhadap kita, orang-orang yang dengan sengaja telah berbuat jahat, merugikan kita, melukai hati kita, menghancurkan masa depan kita. Kita cenderung merasa bahwa situasinya baru akan adil kalau mereka menerima balasannya, bahwa hidup kita baru akan merasa nyaman ketika kita melihat kejahatan mereka terbalaskan, ketika mereka mengalami kehancuran yang bahkan lebih mengerikan daripada kita. Hal itu "normal" bagi mereka yang belum mengenal Bapa YAHWEH dan belum mengetahui hukum roh. Tetapi kita harus mengetahui rahasia yang tersimpan hanya bagi anak-anak-Nya yang dikasihinya. Untuk itu mari kita melihat contoh bagaimana hukum ini dinyatakan di dalam kisah Ayub.
Ayub
Bencana yang menimpa Ayub
Ayub 1:1-3
Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan YAHWEN dan menjauhi kejahatan. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
Tiba-tiba semua itu lenyap seketika: kambing, unta, lembu, keledai, budak dan bahkan anaknya. Mereka dirampas, dibunuh, dan tertimpa bencana. Tetapi Ayub adalah orang yang saleh dan takut akan YAHWEH. Mengetahui semua,
Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:20-21)
Dan Kitab Suci mencatat: Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1:22)
Ayub orang benar dan anak YAHWEH. Semua responsnya terhadap apa yang menimpanya membuktikan hal itu. Ia benar di hadapan YAHWEH. Bahkan ketika sakit-penyakit menguasainya, barah membusuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya, dan istrinya memintanya untuk mengutuki Tuhannya, katanya, "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Elohimmu dan matilah!", Ayub menjawabnya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Elohim, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Ayub kehilangan semuanya: harta, anak, kesehatan, dan terakhir istrinya malah mengutukinya. Namun Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayub 2:11).
Ayub mengalami semua "bencana" dan "ketidakadilan" ini. Ia yang selama ini taat kepada YAHWEH dan melakukan apa yang benar di hadapan-Nya, mendapatkan balasan yang sebaliknya. Dan ketika ia mengharapkan penghiburan dari orang-orang terdekatnya, ketiga sahabat, Elifas, Bildad, dan Sofar, mereka malah menyalahkannya dan menuduhnya melakukan yang jahat di mata Tuhan. Bagi mereka, tidak ada kemalangan yang menimpa orang benar karena mereka meyakini bahwa kemalangan ditimbulkan oleh manusia itu sendiri. Demikian pun Ayub, mereka meyakini bahwa Ayub telah berbuat salah sehingga semua kemalangan ini menimpanya.
Keluh kesah Ayub
Dalam kisah Ayub, Ayub harus bergumul lama sebelum ia bisa melihat kebenaran hukum roh ini. Mulai pasal 3 sampai dengan 37, Ayub berkeluh kesah atas semua kemalangan yang menimpanya. Suatu respons yang sangat bisa kita pahami. Bagaimana tidak. Ayub yang selama ini hidup benar dan taat kepada YAHWEH, kenapa tiba-tiba ia bisa menerima kemalangan yang sangat dahsyat. Ayub bingung dan tidak bisa memahami situasi yang dialaminya. Ia mengungkapkan kebingungannya, penderitaan dan keputusasaannya kepada Tuhan. Ia mengutuki hidup dan kelahirannya, mengapa Tuhan memberinya hidup kalau ia dilahirkan hanya untuk menderita. Ia ingin segera mati saja.
Sekian banyak pasal "dihabiskan oleh Ayub" untuk berkeluh kesah, dan selama itu pula, TUHAN tidak berurusan sama sekali dengan ketiga sahabatnya yang menyakiti hatinya. Mereka tetap baik-baik saja.
Jawaban Tuhan atas keluh kesah Ayub
Tuhan akhirnya menjawab keluh kesah Ayub di Pasal 38-42. Tuhan mengungkapkan kedaulatan-Nya kepada Ayub. Tuhan mencelikkan mata Ayub akan ketidaktahuan manusia atas banyak hal dan kemahakuasaan-Nya atas segala sesuatu. Tuhan menegur Ayub karena telah mempertanyakan keadilan-Nya.
Penyesalan dan pertobatan Ayub
Ayub 42:2-6
Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberi tahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.
Teguran Tuhan membuat Ayub sadar akan kesalahannya. Pertama Ayub sadar akan kedaulatan YAHWEH, Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu dan apa yang dikerjakan-Nya dalam hidupnya adalah baik. Ayub sadar bahwa apa yang terjadi dalam dirinya adalah dalam rencana Tuhan yang tidak akan pernah gagal. Ayub sadar bahwa pengertiannya akan YAHWEH selama ini masih salah. Ia masih fokus kepada diri sendiri dan berkat jasmani yang semestinya diterimanya karena kesalehan dan ketaatannya. Kini ia sadar bahwa Tuhan harus disembah dan dimuliakan bukan karena Ia pemberi berkat namun karena Ia memang layak untuk disembah dan ditaati, apa pun yang terjadi secara duniawi. Akhirnya Ayub menyesal dan bertobat. Ia sadar bahwa ia telah berkata-kata secara ngawur tentang Tuhan. Ia sadar bahwa YAHWEH tidak bisa diselami oleh pikiran manusia. Pembenaran diri dan kesombongan rohaninya telah membuatnya bersalah dalam memandang Tuhan.
Rahasia kebenaran hukum roh dari kisah Ayub
Seluruh kisah Ayub ini mengungkapkan sebuah rahasia dan kebenaran yang amat penting bagi kita, anak-anak Tuhan.
Dalam hal ini, ketiga sahabat Ayub bertindak salah dan menuduh Ayub, seorang yang benar di hadapan YAHWEH. YAHWEH tidak akan membiarkan orang yang berbuat salah kepada anak-Nya berlalu begitu saja. Akan ada risiko yang menunggu mereka yang menyalahi orang yang benar di hadapan YAHWEH. Tetapi anak Tuhan, orang yang benar di hadapan YAHWEH, juga harus bersikap dan memberikan respons secara benar. Ketika orang benar belum memberikan respons secara benar terhadap kejadian yang menimpa dirinya, Tuhan terlebih dahulu berurusan dengannya sebelum berurusan dengan mereka yang bersalah kepadanya. Sebelum kita sebagai anak Tuhan menunjukkan sikap hati yang benar di hadapan-Nya, sebelum kita bertumbuh dewasa di dalam roh, kita akan melihat bahwa orang yang menganiaya kita akan kelihatan baik-baik saja, bahkan mungkin semakin menerima berkat dari Tuhan. Kita sebagai anak-Nya harus bersikap benar.
1. Menyalahi anak Tuhan sama saja dengan menyalahi Tuhan
Orang yang menyalahi orang benar, anak Tuhan, sama saja dengan menyalahi Tuhan. Tuduhan sahabat Ayub kepadanya bagi Tuhan adalah tuduhan kepada-Nya karena Ayub adalah orang benar di hadapan-Nya. Hal ini terlihat dari ayat berikut ini:
Ayub 42: 5
maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku."
Sahabat-sahabat Ayub tidak langsung menyalahi Tuhan, mereka hanya menuduh Ayub. Namun bagi Tuhan, tuduhan yang ditujukan kepada orang benar atau anak Tuhan adalah sama dengan tuduhan kepada Tuhan. Perkataan yang tidak benar yang ditujukan kepada Ayub dianggap Tuhan sebagai ditujukan juga kepada-Nya, "...karena kamu tidak berkata benar tentang Aku".
2. Kesalahan terhadap orang benar tidak akan didiamkan oleh Tuhan tetapi pasti akan mendapatkan hukuman
Dan sekarang, karena Ayub sudah bersikap benar, sudah menjadi lebih dewasa secara rohani, maka Tuhan baru berurusan dengan mereka yang menyalahi Ayub. Sebelumnya Tuhan tidak pernah menyinggung kesalahan ketiga sahabat Ayub ini, tetapi setelah Ayub bertobat, Tuhan kemudian berurusan dengan mereka, ""Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu."
3. Penderitaan yang dialami anak Tuhan adalah kesempatan untuk menjadi lebih dewasa secara rohani
4. Setelah anak Tuhan bersikap benar, Tuhan akan menghukum mereka yang menyalahi orang benar
5. Hanya orang benar, anak Tuhan yang sudah lebih dewasa yang bisa membebaskan hukuman yang akan menimpa orang yang bersalah kepadanya
Tuhan murka kepada ketiga sahabat Ayub dan hanya doa Ayub yang bisa "menyelamatkan" mereka. Hal ini jelas dari ayat berikut:
Ayub 42: 8
Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.
Di sini ditekankan bahwa sangat penting bagi anak Tuhan atau orang benar untuk mendoakan orang yang bersalah kepadanya karena hanya permohonan orang benar itulah yang dapat membebaskan hukuman kepada orang yang bersalah kepadanya.
Lalu di mana letak keadilannya? Kenapa orang yang bersalah tidak dibiarkan mendapatkan hukuman dan malah kita harus mendoakan pengampunan dosa bagi mereka yang menyalahi kita?
Jawaban terhadap pertanyaan di atas, tentang keadilan, ditemukan di ayat berikut:
Ayub 42:9-10
Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub. Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.
Kedua ayat ini dengan jelas memperlihatkan bahwa hanya doa Ayub yang akan didengarkan Tuhan. Dan Tuhan hanya mendengarkan doa anak-Nya yang sudah terlebih dahulu bertumbuh menjadi lebih dewasa secara rohani, yakni sesudah ia sendiri bertobat dan mau mengampuni kesalahan mereka yang bersalah kepadanya.
6. Doa yang dinaikkan oleh hati yang belum beres, belum mengampuni, tidak akan didengarkan Tuhan
7. Berkat yang lebih besar disediakan bagi anak Tuhan yang sudah semakin dewasa
Sesudah Ayub bertobat, mau mengampuni sahabat-sahabatnya dengan mendoakan mereka, dan sesudah doanya diterima oleh Tuhan, maka Tuhan memberikan kepada Ayub berkat dua kali lipat daripada sebelumnya.
Kemarahan yang menjadi dosa
Ayub, dalam segala penderitaannya, tidak pernah menyalahkan Tuhan. Ia mengajukan keluh kesahnya secara jujur kepada Tuhan. Tetapi ia tidak pernah menyalahkan Tuhan.
Hal ini juga dilakukan oleh Daud. Dalam Mazmur kelihatan bagaimana di saat Daud mengalami penderitaan, ia berkeluh kesah di hadapan Tuhan.
Dari sini kita belajar untuk bersikap benar saat menghadapi situasi sulit. Kecewa, marah, mungkin merupakan reaksi wajar manusia saat mengalami penderitaan, aniaya, fitnahan, dan situasi buruk lainnya. Tetapi Kitab Suci mengajarkan agar kita tidak membiarkan kemarahan dan kekecewaan kita menjadi dosa.
Kedua ayat berikut ini memberikan gambaran perbedaan antara marah yang menjadi dosa dan marah yang tidak mendatangkan dosa.
Efesus 4:26-27
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
Amsal 29:11
Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.
Baca juga:
Biarkan YAHWE Mencurahkan Berkat-NYA Saat Saudara Mengampuni
Pembelaan Iman Stefanus di Hadapan Mahkamah Agama
Sang Pendakwa
Nyanyian Syukur Atas Keselamatan
Pembalasan
Sebagai anak Tuhan, kita perlu belajar untuk membuang kebencian, kemarahan, dan kekecewaan itu dari hati kita. Kita perlu belajar mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12: 21: Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!) dan tidak membiarkan hidup kita dikendalikan oleh perasaan kebencian dan kemarahan sehingga kita kalah oleh kejahatan.
Contoh bagaimana anak Tuhan berhasil mengalahkan kejahatan dengan kebaikan adalah saat Stefanus dirajam.
Stefanus
Kisah 7: 59-60
Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.
Stefanus adalah diaken atau pelayan jemaat yang salah satu tugasnya adalah melayani pembagian untuk janda-janda. Artinya ia adalah orang yang karena tugasnya pasti dikenal sebagai orang yang selalu berbuat kebaikan. Tetapi oleh karena rasa iri hati ada sekelompok orang Yahudi yang membuat tuduhan palsu terhadap Stefanus dan menghadapkannya ke sidang Mahkamah Agama. Oleh karena tersinggung oleh ucapan Stefanus kritikan Stefanus, mereka akhirnya menyeret Stefanus dan melemparinya dengan batu sampai mati.
Ini adalah sebuah adegan di mana kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ia telah berbuat baik melayani jemaat tetapi akhirnya difitnah dan kemudian dilempari dengan batu. Stefanus bisa saja mengutuki orang-orang yang dengan sengaja dan licik mencelakakan dirinya. Tetapi hal itu tidak dilakukannya.
Mengapa?
Karena ia tahu hukum yang berlangsung di alam roh, sebuah kebenaran yang setiap anak Tuhan mestinya mengetahui dan menaatinya.
Tuhan tidak pernah membiarkan begitu saja ketika anak-anak-Nya diperlakukan dengan salah. Ketika seseorang berbuat jahat kepada kita, sesungguhnya tanpa sadar, mereka sedang memosisikan diri mereka sendiri dalam posisi yang berbahaya. Bapak YAHWEH tidak akan membiarkannya begitu saja. Stefanus berdoa supaya orang-orang itu tidak perlu menanggung akibat dari perbuatan mereka.
Demikian pula seharusnya kita, kita harus mendoakan mereka yang berbuat salah atau menjahati kita supaya mereka tidak perlu menanggung akibatnya. Sebab kalau tidak, Bapa pasti akan bertindak.
Lalu kalau kita berdoa untuk mereka yang berbuat jahat, di manakah keadilan bagi mereka? Bagaimana dengan kerugian yang sudah kita alami yang diakibatkan oleh mereka? Mereka mungkin telah membuat kita mengalami kerugian yang amat besar, bahkan merenggut masa depan kita, menghancurkan hidup kita, membuat hidup kita yang selama ini baik-baik saja, berjalan mulus, dan semua persiapan masa depan kita yang kita lakukan dengan penuh kesungguhan dan kehati-hatian menjadi hancur gara-gara ulah mereka? Kita mungkin menjadi kehilangan kebahagiaan, damai sejahtera, mengalami luka hati yang sangat mendalam, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, atau bahkan kehilangan orang-orang yang amat sangat berarti dan kita cintai.
Selain itu, memang sangat tidak mudah untuk melupakan kejahatan dan kelicikan orang lain terhadap kita, orang-orang yang dengan sengaja telah berbuat jahat, merugikan kita, melukai hati kita, menghancurkan masa depan kita. Kita cenderung merasa bahwa situasinya baru akan adil kalau mereka menerima balasannya, bahwa hidup kita baru akan merasa nyaman ketika kita melihat kejahatan mereka terbalaskan, ketika mereka mengalami kehancuran yang bahkan lebih mengerikan daripada kita. Hal itu "normal" bagi mereka yang belum mengenal Bapa YAHWEH dan belum mengetahui hukum roh. Tetapi kita harus mengetahui rahasia yang tersimpan hanya bagi anak-anak-Nya yang dikasihinya. Untuk itu mari kita melihat contoh bagaimana hukum ini dinyatakan di dalam kisah Ayub.
Ayub
Bencana yang menimpa Ayub
Ayub 1:1-3
Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan YAHWEN dan menjauhi kejahatan. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
Tiba-tiba semua itu lenyap seketika: kambing, unta, lembu, keledai, budak dan bahkan anaknya. Mereka dirampas, dibunuh, dan tertimpa bencana. Tetapi Ayub adalah orang yang saleh dan takut akan YAHWEH. Mengetahui semua,
Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:20-21)
Dan Kitab Suci mencatat: Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1:22)
Ayub orang benar dan anak YAHWEH. Semua responsnya terhadap apa yang menimpanya membuktikan hal itu. Ia benar di hadapan YAHWEH. Bahkan ketika sakit-penyakit menguasainya, barah membusuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya, dan istrinya memintanya untuk mengutuki Tuhannya, katanya, "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Elohimmu dan matilah!", Ayub menjawabnya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Elohim, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Ayub kehilangan semuanya: harta, anak, kesehatan, dan terakhir istrinya malah mengutukinya. Namun Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayub 2:11).
Ayub mengalami semua "bencana" dan "ketidakadilan" ini. Ia yang selama ini taat kepada YAHWEH dan melakukan apa yang benar di hadapan-Nya, mendapatkan balasan yang sebaliknya. Dan ketika ia mengharapkan penghiburan dari orang-orang terdekatnya, ketiga sahabat, Elifas, Bildad, dan Sofar, mereka malah menyalahkannya dan menuduhnya melakukan yang jahat di mata Tuhan. Bagi mereka, tidak ada kemalangan yang menimpa orang benar karena mereka meyakini bahwa kemalangan ditimbulkan oleh manusia itu sendiri. Demikian pun Ayub, mereka meyakini bahwa Ayub telah berbuat salah sehingga semua kemalangan ini menimpanya.
Keluh kesah Ayub
Dalam kisah Ayub, Ayub harus bergumul lama sebelum ia bisa melihat kebenaran hukum roh ini. Mulai pasal 3 sampai dengan 37, Ayub berkeluh kesah atas semua kemalangan yang menimpanya. Suatu respons yang sangat bisa kita pahami. Bagaimana tidak. Ayub yang selama ini hidup benar dan taat kepada YAHWEH, kenapa tiba-tiba ia bisa menerima kemalangan yang sangat dahsyat. Ayub bingung dan tidak bisa memahami situasi yang dialaminya. Ia mengungkapkan kebingungannya, penderitaan dan keputusasaannya kepada Tuhan. Ia mengutuki hidup dan kelahirannya, mengapa Tuhan memberinya hidup kalau ia dilahirkan hanya untuk menderita. Ia ingin segera mati saja.
Sekian banyak pasal "dihabiskan oleh Ayub" untuk berkeluh kesah, dan selama itu pula, TUHAN tidak berurusan sama sekali dengan ketiga sahabatnya yang menyakiti hatinya. Mereka tetap baik-baik saja.
Jawaban Tuhan atas keluh kesah Ayub
Tuhan akhirnya menjawab keluh kesah Ayub di Pasal 38-42. Tuhan mengungkapkan kedaulatan-Nya kepada Ayub. Tuhan mencelikkan mata Ayub akan ketidaktahuan manusia atas banyak hal dan kemahakuasaan-Nya atas segala sesuatu. Tuhan menegur Ayub karena telah mempertanyakan keadilan-Nya.
Penyesalan dan pertobatan Ayub
Ayub 42:2-6
Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberi tahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.
Teguran Tuhan membuat Ayub sadar akan kesalahannya. Pertama Ayub sadar akan kedaulatan YAHWEH, Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu dan apa yang dikerjakan-Nya dalam hidupnya adalah baik. Ayub sadar bahwa apa yang terjadi dalam dirinya adalah dalam rencana Tuhan yang tidak akan pernah gagal. Ayub sadar bahwa pengertiannya akan YAHWEH selama ini masih salah. Ia masih fokus kepada diri sendiri dan berkat jasmani yang semestinya diterimanya karena kesalehan dan ketaatannya. Kini ia sadar bahwa Tuhan harus disembah dan dimuliakan bukan karena Ia pemberi berkat namun karena Ia memang layak untuk disembah dan ditaati, apa pun yang terjadi secara duniawi. Akhirnya Ayub menyesal dan bertobat. Ia sadar bahwa ia telah berkata-kata secara ngawur tentang Tuhan. Ia sadar bahwa YAHWEH tidak bisa diselami oleh pikiran manusia. Pembenaran diri dan kesombongan rohaninya telah membuatnya bersalah dalam memandang Tuhan.
Rahasia kebenaran hukum roh dari kisah Ayub
Seluruh kisah Ayub ini mengungkapkan sebuah rahasia dan kebenaran yang amat penting bagi kita, anak-anak Tuhan.
Dalam hal ini, ketiga sahabat Ayub bertindak salah dan menuduh Ayub, seorang yang benar di hadapan YAHWEH. YAHWEH tidak akan membiarkan orang yang berbuat salah kepada anak-Nya berlalu begitu saja. Akan ada risiko yang menunggu mereka yang menyalahi orang yang benar di hadapan YAHWEH. Tetapi anak Tuhan, orang yang benar di hadapan YAHWEH, juga harus bersikap dan memberikan respons secara benar. Ketika orang benar belum memberikan respons secara benar terhadap kejadian yang menimpa dirinya, Tuhan terlebih dahulu berurusan dengannya sebelum berurusan dengan mereka yang bersalah kepadanya. Sebelum kita sebagai anak Tuhan menunjukkan sikap hati yang benar di hadapan-Nya, sebelum kita bertumbuh dewasa di dalam roh, kita akan melihat bahwa orang yang menganiaya kita akan kelihatan baik-baik saja, bahkan mungkin semakin menerima berkat dari Tuhan. Kita sebagai anak-Nya harus bersikap benar.
1. Menyalahi anak Tuhan sama saja dengan menyalahi Tuhan
Orang yang menyalahi orang benar, anak Tuhan, sama saja dengan menyalahi Tuhan. Tuduhan sahabat Ayub kepadanya bagi Tuhan adalah tuduhan kepada-Nya karena Ayub adalah orang benar di hadapan-Nya. Hal ini terlihat dari ayat berikut ini:
Ayub 42: 5
maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku."
Sahabat-sahabat Ayub tidak langsung menyalahi Tuhan, mereka hanya menuduh Ayub. Namun bagi Tuhan, tuduhan yang ditujukan kepada orang benar atau anak Tuhan adalah sama dengan tuduhan kepada Tuhan. Perkataan yang tidak benar yang ditujukan kepada Ayub dianggap Tuhan sebagai ditujukan juga kepada-Nya, "...karena kamu tidak berkata benar tentang Aku".
2. Kesalahan terhadap orang benar tidak akan didiamkan oleh Tuhan tetapi pasti akan mendapatkan hukuman
Dan sekarang, karena Ayub sudah bersikap benar, sudah menjadi lebih dewasa secara rohani, maka Tuhan baru berurusan dengan mereka yang menyalahi Ayub. Sebelumnya Tuhan tidak pernah menyinggung kesalahan ketiga sahabat Ayub ini, tetapi setelah Ayub bertobat, Tuhan kemudian berurusan dengan mereka, ""Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu."
3. Penderitaan yang dialami anak Tuhan adalah kesempatan untuk menjadi lebih dewasa secara rohani
4. Setelah anak Tuhan bersikap benar, Tuhan akan menghukum mereka yang menyalahi orang benar
5. Hanya orang benar, anak Tuhan yang sudah lebih dewasa yang bisa membebaskan hukuman yang akan menimpa orang yang bersalah kepadanya
Tuhan murka kepada ketiga sahabat Ayub dan hanya doa Ayub yang bisa "menyelamatkan" mereka. Hal ini jelas dari ayat berikut:
Ayub 42: 8
Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.
Di sini ditekankan bahwa sangat penting bagi anak Tuhan atau orang benar untuk mendoakan orang yang bersalah kepadanya karena hanya permohonan orang benar itulah yang dapat membebaskan hukuman kepada orang yang bersalah kepadanya.
Lalu di mana letak keadilannya? Kenapa orang yang bersalah tidak dibiarkan mendapatkan hukuman dan malah kita harus mendoakan pengampunan dosa bagi mereka yang menyalahi kita?
Jawaban terhadap pertanyaan di atas, tentang keadilan, ditemukan di ayat berikut:
Ayub 42:9-10
Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub. Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.
Kedua ayat ini dengan jelas memperlihatkan bahwa hanya doa Ayub yang akan didengarkan Tuhan. Dan Tuhan hanya mendengarkan doa anak-Nya yang sudah terlebih dahulu bertumbuh menjadi lebih dewasa secara rohani, yakni sesudah ia sendiri bertobat dan mau mengampuni kesalahan mereka yang bersalah kepadanya.
6. Doa yang dinaikkan oleh hati yang belum beres, belum mengampuni, tidak akan didengarkan Tuhan
7. Berkat yang lebih besar disediakan bagi anak Tuhan yang sudah semakin dewasa
Sesudah Ayub bertobat, mau mengampuni sahabat-sahabatnya dengan mendoakan mereka, dan sesudah doanya diterima oleh Tuhan, maka Tuhan memberikan kepada Ayub berkat dua kali lipat daripada sebelumnya.
Kemarahan yang menjadi dosa
Ayub, dalam segala penderitaannya, tidak pernah menyalahkan Tuhan. Ia mengajukan keluh kesahnya secara jujur kepada Tuhan. Tetapi ia tidak pernah menyalahkan Tuhan.
Hal ini juga dilakukan oleh Daud. Dalam Mazmur kelihatan bagaimana di saat Daud mengalami penderitaan, ia berkeluh kesah di hadapan Tuhan.
Dari sini kita belajar untuk bersikap benar saat menghadapi situasi sulit. Kecewa, marah, mungkin merupakan reaksi wajar manusia saat mengalami penderitaan, aniaya, fitnahan, dan situasi buruk lainnya. Tetapi Kitab Suci mengajarkan agar kita tidak membiarkan kemarahan dan kekecewaan kita menjadi dosa.
Kedua ayat berikut ini memberikan gambaran perbedaan antara marah yang menjadi dosa dan marah yang tidak mendatangkan dosa.
Efesus 4:26-27
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
Amsal 29:11
Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.
Baca juga:
Biarkan YAHWE Mencurahkan Berkat-NYA Saat Saudara Mengampuni
Pembelaan Iman Stefanus di Hadapan Mahkamah Agama
Sang Pendakwa
Nyanyian Syukur Atas Keselamatan
Pembalasan
Label:
berdoa,
berkat,
kebencian,
kemarahan,
makna penderitaan,
mengampuni,
pemulihan,
pengampunan
Minggu, 22 Juni 2014
Kualifikasi untuk Menerima Hikmat Tuhan
Diterjemahkan dari Qualifications to Receive God’s Wisdom
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Matius 7:7-8)
Janji-janji dalam ayat ini terbatas hanya untuk orang-orang percaya yang memenuhi kualifikasi tertentu. Pertama, "setiap orang" adalah mereka yang berasal dari Bapa. Mereka yang bukan anak-anak Tuhan tidak bisa datang kepada-Nya sebagai Bapa mereka.
Kedua, orang yang mengklaim janji ini harus hidup dalam ketaatan kepada Bapa-Nya. "Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." (1 Yohanes 3:22).
Ketiga, motivasi kita dalam meminta pasti benar. "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa," kata Yakobus, "karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yakobus 4:3). Tuhan tidak mewajibkan diri-Nya untuk menjawab permintaan daging yang egois dari anak-anak-Nya.
Akhirnya, kita harus tunduk pada kehendak-Nya. Jika kita berusaha untuk melayani Tuhan dan mamon (Matius 6:24), kita tidak bisa mengklaim janji ini. "Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya." (Yakobus 1:7-8).
Kualifikasi lain yang mungkin adalah ketekunan, seperti yang ditunjukkan oleh perintah untuk meminta, mencari, dan mengetuk. Maksudnya adalah ketekunan dan keteguhan: "Terus meminta; teruslah mencari; dan terus mengetuk."
Jika Saudara memenuhi kualifikasi-kualifikasi tersebut, pastikan Saudara mengambil keuntungan dari akses Saudara kepada Tuhan.
Tanyakan pada Diri Saudara Sendiri
Tak satu pun dari kita bisa memenuhi seluruh kualifikasi luhur itu, tapi Tuhan tahu jika hati kita lembut dan tulus di hadapan-Nya, benar-benar mencari kemuliaan-Nya di atas keuntungan pribadi kita. Dalam situasi apa pun di mana saudara paling membutuhkan bimbingan dan penyediaan-Nya hari ini, mintalah dalam iman sambil berserah diri.
Baca juga:
Bapa YAHWE Berkenan kepada Orang yang Tidak Tahu Malu
Mazmur 3: YAHWE Pasti Memberi Pertolongan
Meminta Percaya Menerima
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Matius 7:7-8)
Janji-janji dalam ayat ini terbatas hanya untuk orang-orang percaya yang memenuhi kualifikasi tertentu. Pertama, "setiap orang" adalah mereka yang berasal dari Bapa. Mereka yang bukan anak-anak Tuhan tidak bisa datang kepada-Nya sebagai Bapa mereka.
Kedua, orang yang mengklaim janji ini harus hidup dalam ketaatan kepada Bapa-Nya. "Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." (1 Yohanes 3:22).
Ketiga, motivasi kita dalam meminta pasti benar. "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa," kata Yakobus, "karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yakobus 4:3). Tuhan tidak mewajibkan diri-Nya untuk menjawab permintaan daging yang egois dari anak-anak-Nya.
Akhirnya, kita harus tunduk pada kehendak-Nya. Jika kita berusaha untuk melayani Tuhan dan mamon (Matius 6:24), kita tidak bisa mengklaim janji ini. "Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya." (Yakobus 1:7-8).
Kualifikasi lain yang mungkin adalah ketekunan, seperti yang ditunjukkan oleh perintah untuk meminta, mencari, dan mengetuk. Maksudnya adalah ketekunan dan keteguhan: "Terus meminta; teruslah mencari; dan terus mengetuk."
Jika Saudara memenuhi kualifikasi-kualifikasi tersebut, pastikan Saudara mengambil keuntungan dari akses Saudara kepada Tuhan.
Tanyakan pada Diri Saudara Sendiri
Tak satu pun dari kita bisa memenuhi seluruh kualifikasi luhur itu, tapi Tuhan tahu jika hati kita lembut dan tulus di hadapan-Nya, benar-benar mencari kemuliaan-Nya di atas keuntungan pribadi kita. Dalam situasi apa pun di mana saudara paling membutuhkan bimbingan dan penyediaan-Nya hari ini, mintalah dalam iman sambil berserah diri.
Baca juga:
Bapa YAHWE Berkenan kepada Orang yang Tidak Tahu Malu
Mazmur 3: YAHWE Pasti Memberi Pertolongan
Meminta Percaya Menerima
Label:
berdoa,
bertekun dalam doa,
janji Bapa,
janji Tuhan,
meminta,
mencari,
menerima,
percaya
Jumat, 11 April 2014
Kakek/Nenek yang Berdoa: Berdoa untuk Cucu dan Calon Cucu
Diterjemahkan dari postingan FB Stormie Omartian pada tanggal 11 April 2014
Saudara tidak perlu menunggu sampai benar-benar memiliki cucu untuk mulai berdoa bagi mereka. Saudara dapat berdoa bagi mereka jauh hari sebelum mereka benar-benar terlahir di dunia. Itulah yang telah saya lakukan. Berikut adalah enam cara untuk berdoa bagi mereka yang sudah saudara miliki sekarang ini dan bagi mereka yang kelak akan dilahirkan di masa depan .
1. Berdoalah agar mereka akan menjadi sehat dan utuh dalam pikiran, tubuh, dan jiwa mereka, dan hidup bebas dari kecelakaan, cedera atau penyakit.
2. Berdoalah agar mereka akan selalu hidup dalam perdamaian, keamanan, dan cinta, dan dilindungi dari siapa saja dengan niat jahat untuk menyakiti mereka dengan cara apapun.
3. Berdoalah agar mereka akan mengenal YAHWE sejak awal kehidupan mereka secara tulus dan sungguh-sungguh, dan agar mereka belajar berjalan di jalan-Nya.
4. Berdoalah agar mereka menerima disiplin dan koreksi dengan tepat sehingga mereka memahami arti konsekuensi, dan agar mereka akan memiliki hati yang rendah hati dan penuh pertobatan.
5. Berdoa aga saudara memiliki hikmat dari YAHWE bagaimana berdoa untuk setiap cucu dan bagaimana menjadi kakek/nenek terbaik dan setia mendukung harapan-harapan orangtua mereka.
6. Berdoalah agar YAHWE memberikan orang tua cucu saudara kesehatan yang baik, stamina yang bagus, hikmat ilahi, dan kesabaran yang menakjubkan.
Saudara tidak perlu menunggu sampai benar-benar memiliki cucu untuk mulai berdoa bagi mereka. Saudara dapat berdoa bagi mereka jauh hari sebelum mereka benar-benar terlahir di dunia. Itulah yang telah saya lakukan. Berikut adalah enam cara untuk berdoa bagi mereka yang sudah saudara miliki sekarang ini dan bagi mereka yang kelak akan dilahirkan di masa depan .
1. Berdoalah agar mereka akan menjadi sehat dan utuh dalam pikiran, tubuh, dan jiwa mereka, dan hidup bebas dari kecelakaan, cedera atau penyakit.
2. Berdoalah agar mereka akan selalu hidup dalam perdamaian, keamanan, dan cinta, dan dilindungi dari siapa saja dengan niat jahat untuk menyakiti mereka dengan cara apapun.
3. Berdoalah agar mereka akan mengenal YAHWE sejak awal kehidupan mereka secara tulus dan sungguh-sungguh, dan agar mereka belajar berjalan di jalan-Nya.
4. Berdoalah agar mereka menerima disiplin dan koreksi dengan tepat sehingga mereka memahami arti konsekuensi, dan agar mereka akan memiliki hati yang rendah hati dan penuh pertobatan.
5. Berdoa aga saudara memiliki hikmat dari YAHWE bagaimana berdoa untuk setiap cucu dan bagaimana menjadi kakek/nenek terbaik dan setia mendukung harapan-harapan orangtua mereka.
6. Berdoalah agar YAHWE memberikan orang tua cucu saudara kesehatan yang baik, stamina yang bagus, hikmat ilahi, dan kesabaran yang menakjubkan.
Label:
berdoa,
bertekun dalam doa,
keturunan,
mendoakan orang sakit,
orang tua,
teladan orangtua,
warisan iman
Selasa, 25 Maret 2014
Berdoalah dan Tumpangkanlah Tangan untuk Orang-Orang yang Saudara Kasihi
Doterjemahkan dari postingan Victoria Osteen dalam dinding FB-nya, 26 Maret 2014
Sepanjang Kitab Suci kita melihat bahwa YESHUA pergi berkeliling dan menumpangkan tangan atas orang sakit. Kita melihat kuasa keluar dari-NYA ketika seorang wanita menyentuh ujung jubah-NYA. Kita diberitahu bahwa orang-orang percaya diminta untuk menumpangkan tangan pada orang sakit. Dan, saya secara pribadi belum pernah menemui orang yang menolak untuk didoakan. Bahkan jika mereka bukan orang percaya, bahkan jika mereka merasa aneh pada awalnya dan tidak mau ikut mengucapkan doanya, mereka tetap ingin didoakan.
Ada kuasa dalam doa, dan ada kuasa ketika kita menumpangkan tangan atas orang-orang. YESUA mengatakan, "Biarlah anak-anak datang pada-KU." Bisakah saudara bayangkan apa yang DIA taruh pada diri anak-anak itu melalui kuasa sentuhan-NYA? Aku percaya anak-anak itu tidak akan pernah sama lagi. Anak-anak itu pergi dalam keadaan terberkati.
Mungkin ada beberapa orang dalam keluarga saudara yang lelah berdoa. Mungkin saudara memiliki saudara atau sahabat dalam hidup saudara yang selalu saudara doakan tetapi tidak pernah menerima nasihat saudara. Kita semua mengenal orang-orang semacam itu. Tetapi YESHUA tidak pernah mengatakan, "Aku lelah berdoa untuk orang-orang semacam itu." Tidak, kita perlu berdoa untuk orang-orang tersebut. Kita perlu menjangkau mereka. Kita harus percaya untuk orang-orang lain sampai mereka bisa percaya untuk diri mereka sendiri.
Setiap hari sebelum anak-anakku pergi ke sekolah, aku selalu mengambil waktu untuk menumpangkan tanganku atas mereka dan berdoa bagi mereka. Saudara tahu apa yang lucu? Sekarang mereka sudah besar, mereka menyandarkan diri padaku ketika aku mulai berdoa. Mereka menyandarkan diri untuk merasakan sentuhan itu. Mereka merasakan kuasa itu dan berkat yang ada di dalamnya.
Mungkin saudara tidak melakukan hal yang demikian itu. Mungkin saudara tidak pernah berdoa untuk mereka sebelumnya, tetapi saudara bisa memulainya hari ini! Sekarang ini juga, saudara bisa memberkati mereka dan berdoa untuk mereka. Ketika saudara bertemu mereka, saudara bisa memeluk mereka dan berkata, "Aku memberkatimu dalam nama YESHUA." Daripada menghabiskan waktu untuk mengoreksi kelakuan anak-anak saudara atau orang-orang yang saudara kasihi, luangkan waktu untuk berhubungan dengan mereka. Jangan melihat apa yang salah, lihatlah apa yang benar. Jika saudara berhubungan dengan mereka dan anggota keluarga yang lain, aku percaya saudara akan melihat mereka menyandarkan diri pada saudara untuk merasakan sentuhan saudara. Mulailah hari ini. Ikuti teladan YESHUA dan tumpangkan tangan yang penuh kasih ketika saudara berdoa dan lihatlah apa yang bisa YAHWE kerjakan melalui kuasa sentuhan!
"Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka" (Matius 19:13)
Baca juga:
Mengandung dalam Roh
Kuasa Doa Mengatasi Ruang dan Waktu
Bapa YAHWE Berkenan kepada Orang yang Tidak Tahu Malu
Cuff yang Terus Berdoa
Sepanjang Kitab Suci kita melihat bahwa YESHUA pergi berkeliling dan menumpangkan tangan atas orang sakit. Kita melihat kuasa keluar dari-NYA ketika seorang wanita menyentuh ujung jubah-NYA. Kita diberitahu bahwa orang-orang percaya diminta untuk menumpangkan tangan pada orang sakit. Dan, saya secara pribadi belum pernah menemui orang yang menolak untuk didoakan. Bahkan jika mereka bukan orang percaya, bahkan jika mereka merasa aneh pada awalnya dan tidak mau ikut mengucapkan doanya, mereka tetap ingin didoakan.
Ada kuasa dalam doa, dan ada kuasa ketika kita menumpangkan tangan atas orang-orang. YESUA mengatakan, "Biarlah anak-anak datang pada-KU." Bisakah saudara bayangkan apa yang DIA taruh pada diri anak-anak itu melalui kuasa sentuhan-NYA? Aku percaya anak-anak itu tidak akan pernah sama lagi. Anak-anak itu pergi dalam keadaan terberkati.
Mungkin ada beberapa orang dalam keluarga saudara yang lelah berdoa. Mungkin saudara memiliki saudara atau sahabat dalam hidup saudara yang selalu saudara doakan tetapi tidak pernah menerima nasihat saudara. Kita semua mengenal orang-orang semacam itu. Tetapi YESHUA tidak pernah mengatakan, "Aku lelah berdoa untuk orang-orang semacam itu." Tidak, kita perlu berdoa untuk orang-orang tersebut. Kita perlu menjangkau mereka. Kita harus percaya untuk orang-orang lain sampai mereka bisa percaya untuk diri mereka sendiri.
Setiap hari sebelum anak-anakku pergi ke sekolah, aku selalu mengambil waktu untuk menumpangkan tanganku atas mereka dan berdoa bagi mereka. Saudara tahu apa yang lucu? Sekarang mereka sudah besar, mereka menyandarkan diri padaku ketika aku mulai berdoa. Mereka menyandarkan diri untuk merasakan sentuhan itu. Mereka merasakan kuasa itu dan berkat yang ada di dalamnya.
Mungkin saudara tidak melakukan hal yang demikian itu. Mungkin saudara tidak pernah berdoa untuk mereka sebelumnya, tetapi saudara bisa memulainya hari ini! Sekarang ini juga, saudara bisa memberkati mereka dan berdoa untuk mereka. Ketika saudara bertemu mereka, saudara bisa memeluk mereka dan berkata, "Aku memberkatimu dalam nama YESHUA." Daripada menghabiskan waktu untuk mengoreksi kelakuan anak-anak saudara atau orang-orang yang saudara kasihi, luangkan waktu untuk berhubungan dengan mereka. Jangan melihat apa yang salah, lihatlah apa yang benar. Jika saudara berhubungan dengan mereka dan anggota keluarga yang lain, aku percaya saudara akan melihat mereka menyandarkan diri pada saudara untuk merasakan sentuhan saudara. Mulailah hari ini. Ikuti teladan YESHUA dan tumpangkan tangan yang penuh kasih ketika saudara berdoa dan lihatlah apa yang bisa YAHWE kerjakan melalui kuasa sentuhan!
"Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka" (Matius 19:13)
Baca juga:
Mengandung dalam Roh
Kuasa Doa Mengatasi Ruang dan Waktu
Bapa YAHWE Berkenan kepada Orang yang Tidak Tahu Malu
Cuff yang Terus Berdoa
Senin, 17 Maret 2014
Cuff yang Terus Berdoa
Mrk 13:13 "Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat"
Seorang berkulit hitam bernama Cuff hidup sebagai budak belian pada jaman perbudakan sebelum perang dunia. Ia seorang Kristen yang sangat cinta Tuhan. Pada suatu waktu majikannya ada dalam kesukaran keuangan, maka Cuff dijual pada seorang pemilik perkebunan yang masih muda. Waktu Cuff hendak dibawa pergi, majikan yang lama berkata kepada majikan yang baru, "Anda akan menyaksian bahwa Cuff adalah seorang pekerja baik suka bekerja keras. Anda dapat mempercayakan segala hal kepadanya. Ia akan menyenangkan anda dalam segala hal, kecuali satu." "Dan apakah yang satu itu?" tanya majikan Cuff yang baru. "Ia akan berdoa dan anda tidak dapat menghentikannya." Saya akan menghapus kebiasaan itu dari dirinya dengan segera," kata majikan baru itu dengan penuh percaya diri.
Di tempat baru, Cuff menunjukkan kesetiaannya kepada majikannya, namun ia tidak menghilangkan kebiasaannya berdoa kepada Tuhan. Lalu Cuff dipanggil dan majikannya berkata, "Cuff, kamu dilarang untuk berdoa lagi, kami tidak suka melihat ada orang yang berdoa di tempat kami. Jangan sekali-kali saya dengar lagi perbuatanmu yang sia-sia itu." Cuff menjawab, "Tuan, saya suka berdoa pada Tuhan Yesus dan kalau saya berdoa, saya akan lebih banyak mengasihi tuan dan nyonya dan saya dapat bekerja lebih keras. Tuan, saya harus berdoa, saya tidak dapat hidup tanpa doa." Pada waktu tuannya mendengar pengakuan itu, ia sangat marah. Ia menyuruh orang untuk mengikat Cuff tanpa memakai baju, lalu ia mulai mencambuk Cuff hingga tubuhnya robek dan berdarah. Ia mencambuk Cuff hingga ia merasa lelah. Lalu a menyuruh orang mencuci punggung Cuff dengan air garam, dan menyuruh Cuff kembali pergi bekerja. Cuff pergi dengan menyanyi: "Penderitaan ku akan segera lalu dan aku tidak akan menangis lagi." Ia bekerja dengan setia sepanjang hari itu, meskipun ia merasakan sakit yang hebat pada seluruh tubuhnya.
Sementara itu Tuhan mulai bekerja dalam diri majikannya. Pada malam hari itu majikannya ada dalam kegelisahan yang begitu hebat, sehingga istrinya bertanya apakah ia boleh memanggil dokter untuk datang memeriksanya. "Tidak, saya tidak memerlukan seorang dokter. Apakah ada seorang di perkebunan kita ini yang dapat berdoa untuk saya." Singkat cerita, Cuff dipanggil untuk mendoakan majikannya yang sedang dalam kegelisahan yang hebat itu. "Cuff, apakah engkau dapat berdoa untuk saya?" ia bertanya pada budak belian itu. "Tentu sekali tuan, sebab memang sepanjang malam ini saya terus berdoa untuk tuan." Lalu Cuff berdoa untuk majikannya, memohon Tuhan memimpinnya kepada Anak Domba yang sudah menanggung dan melenyapkan segala isi dosa dunia ini. Akhirnya, malam itu majikannya dan istrinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup mereka. Dan tak lama kemudian seluruh perkebunan itu mendengar kabar Injil dan banyak jiwa diselamatkan. Cuff dimerdekakan, dan bersama-sama majikannya mereka berdua berjalan kemana-mana untuk menyaksikan cinta kasih Tuhan dalam Yesus Kristus.
Tuhan berjanji bagi kita semua yang sedang ada dalam pergumulan dan penderitaan yang sangat menyesakkan, bahwa Dia Yang Awal dan Yang Akhir yang telah mati dan hidup kembali, tidak akan pernah meninggalkan kita. Dia akan terus menyertai kita sehingga pada akhirnya, justru bukan hanya kita yang dibangkitkan, tapi orang-orang di sekeliling kita akan dijamah melihat pertolongan Tuhan yang luar biasa itu, dan mereka diselamatkan.
Baca juga:
Mengikuti Gembala
Pria Bertanggung Jawab Membawa Keluarganya pada Tuhan
Kuasa Doa Mengatasi Ruang dan Waktu
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati Berdoa Bersama
Seorang berkulit hitam bernama Cuff hidup sebagai budak belian pada jaman perbudakan sebelum perang dunia. Ia seorang Kristen yang sangat cinta Tuhan. Pada suatu waktu majikannya ada dalam kesukaran keuangan, maka Cuff dijual pada seorang pemilik perkebunan yang masih muda. Waktu Cuff hendak dibawa pergi, majikan yang lama berkata kepada majikan yang baru, "Anda akan menyaksian bahwa Cuff adalah seorang pekerja baik suka bekerja keras. Anda dapat mempercayakan segala hal kepadanya. Ia akan menyenangkan anda dalam segala hal, kecuali satu." "Dan apakah yang satu itu?" tanya majikan Cuff yang baru. "Ia akan berdoa dan anda tidak dapat menghentikannya." Saya akan menghapus kebiasaan itu dari dirinya dengan segera," kata majikan baru itu dengan penuh percaya diri.
Di tempat baru, Cuff menunjukkan kesetiaannya kepada majikannya, namun ia tidak menghilangkan kebiasaannya berdoa kepada Tuhan. Lalu Cuff dipanggil dan majikannya berkata, "Cuff, kamu dilarang untuk berdoa lagi, kami tidak suka melihat ada orang yang berdoa di tempat kami. Jangan sekali-kali saya dengar lagi perbuatanmu yang sia-sia itu." Cuff menjawab, "Tuan, saya suka berdoa pada Tuhan Yesus dan kalau saya berdoa, saya akan lebih banyak mengasihi tuan dan nyonya dan saya dapat bekerja lebih keras. Tuan, saya harus berdoa, saya tidak dapat hidup tanpa doa." Pada waktu tuannya mendengar pengakuan itu, ia sangat marah. Ia menyuruh orang untuk mengikat Cuff tanpa memakai baju, lalu ia mulai mencambuk Cuff hingga tubuhnya robek dan berdarah. Ia mencambuk Cuff hingga ia merasa lelah. Lalu a menyuruh orang mencuci punggung Cuff dengan air garam, dan menyuruh Cuff kembali pergi bekerja. Cuff pergi dengan menyanyi: "Penderitaan ku akan segera lalu dan aku tidak akan menangis lagi." Ia bekerja dengan setia sepanjang hari itu, meskipun ia merasakan sakit yang hebat pada seluruh tubuhnya.
Sementara itu Tuhan mulai bekerja dalam diri majikannya. Pada malam hari itu majikannya ada dalam kegelisahan yang begitu hebat, sehingga istrinya bertanya apakah ia boleh memanggil dokter untuk datang memeriksanya. "Tidak, saya tidak memerlukan seorang dokter. Apakah ada seorang di perkebunan kita ini yang dapat berdoa untuk saya." Singkat cerita, Cuff dipanggil untuk mendoakan majikannya yang sedang dalam kegelisahan yang hebat itu. "Cuff, apakah engkau dapat berdoa untuk saya?" ia bertanya pada budak belian itu. "Tentu sekali tuan, sebab memang sepanjang malam ini saya terus berdoa untuk tuan." Lalu Cuff berdoa untuk majikannya, memohon Tuhan memimpinnya kepada Anak Domba yang sudah menanggung dan melenyapkan segala isi dosa dunia ini. Akhirnya, malam itu majikannya dan istrinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup mereka. Dan tak lama kemudian seluruh perkebunan itu mendengar kabar Injil dan banyak jiwa diselamatkan. Cuff dimerdekakan, dan bersama-sama majikannya mereka berdua berjalan kemana-mana untuk menyaksikan cinta kasih Tuhan dalam Yesus Kristus.
Tuhan berjanji bagi kita semua yang sedang ada dalam pergumulan dan penderitaan yang sangat menyesakkan, bahwa Dia Yang Awal dan Yang Akhir yang telah mati dan hidup kembali, tidak akan pernah meninggalkan kita. Dia akan terus menyertai kita sehingga pada akhirnya, justru bukan hanya kita yang dibangkitkan, tapi orang-orang di sekeliling kita akan dijamah melihat pertolongan Tuhan yang luar biasa itu, dan mereka diselamatkan.
Baca juga:
Mengikuti Gembala
Pria Bertanggung Jawab Membawa Keluarganya pada Tuhan
Kuasa Doa Mengatasi Ruang dan Waktu
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati Berdoa Bersama
Label:
berdoa,
bertekun dalam doa,
kemenangan,
Kuasa Doa,
pertobatan,
setia
Selasa, 23 Juli 2013
Bapa YAHWE Berkenan kepada Orang yang Tidak Tahu Malu
Lukas 11:1-13
(1) Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya." (2) Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. (3) Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya (4) dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."
(5) Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, (6) sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; (7) masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. (8) Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.
(9) Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (10) Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (11) Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? (12) Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? (13) Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Perikopa ini mengajarkan sebuah prinsip berdoa. Pada bagian yang pertama (ayat 1-4), Tuhan Yeshua mengajarkan pokok-pokok doa apa saja yang semestinya kita sampaikan kepada Bapa, yaitu: (1) pujian: "dikuduskanlah nama-Mu", (2) tujuan hidup dalam kerangka kehendak Bapa: "datanglah kerajaan-Mu", (3) berkat rezeki: "berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya", (4) pengampunan dosa, dengan tetap menekankan mengampuni terlebih dahulu (5) perlindungan dari godaan dan cobaan.
Pada bagian yang kedua (5-13) Tuhan Yeshua mengajarkan sikap hati yang semestinya dimiliki pendoa dan sikap hati Bapa yang mendengarkan doa. Ayat 5-8 Yeshua menegaskan bahwa kita perlu bersikap tidak tahu malu di dalam berdoa. Hal ini mengingatkan kita akan sifat dasar manusia yang cenderung akan dosa dan sekaligus kesombongan manusia. Kita sering merasa tidak layak karena dosa-dosa kita dan hal itu sering membuat kita memutuskan diri sebagai tidak layak di hadapan Bapa YAHWE. Tidak jarang kita merasa tidak pantas untuk meminta sesuatu kepada Bapa karena kita ingat dan sadar betul akan dosa-dosa kita. Lalu kita menunggu saat baik: ketika saya sudah menjadi lebih baik maka saya akan berdoa dan memberanikan diri untuk meminta kepada Bapa. Kalau sekarang: tidak dulu ah. Aku sedang kotor.
Kita juga bisa belajar dari perikopa ini bahwa Bapa YAHWE itu Maha Pengampun, Maha Memaklumi, Maha Mengerti, Maha Memahami situasi kita. Jadi kalau kita sedang di dalam kebutuhan, dan sedang merasa tidak layak untuk datang kepada Bapa dan meminta, datanglah dan mintalah. Dia mengerti kita. Dia memahami. Yang penting: kita harus bersikap tidak tahu malu.
Ayat 9-13 menegaskan kembali bahwa Bapa itu Maha Baik dan kita diajarkan oleh Yeshua untuk memberanikan diri meminta, mencari, dan mengetok pintu. Yeshua meminta kita, memerintahkan kita untuk meminta, mencari dan mengetok. Yeshua mengajarkan kita bahwa Bapa itu amat baik. Dia akan memberikan yang baik kepada yang meminta. Dia akan memberikan Roh Kudus kepada yang meminta.
Tampaknya Paulus amat mengerti akan betapa besar kasih Bapa ini, sehingga ia mengajarkan kepada jemaat di Ibrani: ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:16).
(1) Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya." (2) Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. (3) Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya (4) dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."
(5) Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, (6) sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; (7) masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. (8) Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.
(9) Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (10) Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (11) Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? (12) Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? (13) Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Perikopa ini mengajarkan sebuah prinsip berdoa. Pada bagian yang pertama (ayat 1-4), Tuhan Yeshua mengajarkan pokok-pokok doa apa saja yang semestinya kita sampaikan kepada Bapa, yaitu: (1) pujian: "dikuduskanlah nama-Mu", (2) tujuan hidup dalam kerangka kehendak Bapa: "datanglah kerajaan-Mu", (3) berkat rezeki: "berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya", (4) pengampunan dosa, dengan tetap menekankan mengampuni terlebih dahulu (5) perlindungan dari godaan dan cobaan.
Pada bagian yang kedua (5-13) Tuhan Yeshua mengajarkan sikap hati yang semestinya dimiliki pendoa dan sikap hati Bapa yang mendengarkan doa. Ayat 5-8 Yeshua menegaskan bahwa kita perlu bersikap tidak tahu malu di dalam berdoa. Hal ini mengingatkan kita akan sifat dasar manusia yang cenderung akan dosa dan sekaligus kesombongan manusia. Kita sering merasa tidak layak karena dosa-dosa kita dan hal itu sering membuat kita memutuskan diri sebagai tidak layak di hadapan Bapa YAHWE. Tidak jarang kita merasa tidak pantas untuk meminta sesuatu kepada Bapa karena kita ingat dan sadar betul akan dosa-dosa kita. Lalu kita menunggu saat baik: ketika saya sudah menjadi lebih baik maka saya akan berdoa dan memberanikan diri untuk meminta kepada Bapa. Kalau sekarang: tidak dulu ah. Aku sedang kotor.
Kita juga bisa belajar dari perikopa ini bahwa Bapa YAHWE itu Maha Pengampun, Maha Memaklumi, Maha Mengerti, Maha Memahami situasi kita. Jadi kalau kita sedang di dalam kebutuhan, dan sedang merasa tidak layak untuk datang kepada Bapa dan meminta, datanglah dan mintalah. Dia mengerti kita. Dia memahami. Yang penting: kita harus bersikap tidak tahu malu.
Ayat 9-13 menegaskan kembali bahwa Bapa itu Maha Baik dan kita diajarkan oleh Yeshua untuk memberanikan diri meminta, mencari, dan mengetok pintu. Yeshua meminta kita, memerintahkan kita untuk meminta, mencari dan mengetok. Yeshua mengajarkan kita bahwa Bapa itu amat baik. Dia akan memberikan yang baik kepada yang meminta. Dia akan memberikan Roh Kudus kepada yang meminta.
Tampaknya Paulus amat mengerti akan betapa besar kasih Bapa ini, sehingga ia mengajarkan kepada jemaat di Ibrani: ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:16).
Label:
berdoa,
doa pujian,
doa radikal,
kasih Bapa,
kebaikan,
Kuasa Doa,
meminta,
mencari,
mengetok,
tak tahu malu
Rabu, 30 Januari 2013
Mengikuti Gembala
Disuruh-Nya umat-Nya berangkat seperti domba-domba, dipimpin-Nya mereka seperti kawanan hewan di padang gurun; dituntun-Nya mereka dengan tenteram, sehingga tidak gemetar, sedang musuh mereka dilingkupi laut (Mazmur 78:52-53)
Seekor domba memiliki sifat yang berbeda dengan bebek. Domba akan selalu berjalan di belakang Gembalanya, sedangkan bebek akan berjalan di depan Gembalanya. Artinya, domba suka mengikuti Gembalanya, sedangkan bebek suka mendahului Gembalanya.
Apakah selama ini kita seperti domba yang suka mengikuti Gembala Agung kita? atau kita seperti bebek yang berjalan mendahului Gembala Agung kita? Kita lebih suka mendapatkan petunjuk Tuhan terlebih dahulu, baru kemudian melangkah? atau kita lebih suka melangkah dulu, baru minta Tuhan untuk menyertai dan memberkati langkah yang kita ambil itu? Ingat, domba yang baik adalah mengikuti Gembalanya, dan bukan mendahului Gembalanya.
Seorang murid yang pandai namun berasal dari keluarga yang tidak mampu mendapat beasiswa untuk melanjutkan SMP ke Singapore. Mendengar kabar ini, tentu saja ia maupun keluarganya sangat senang sekali. Mereka tidak pernah menyangka bahwa anaknya bisa sekolah sampai ke luar negeri.
Namun setelah itu orang tua dari anak ini ingat bahwa mereka harus menghadapkan perkara ini kepada Tuhan terlebih dahulu, apakah Tuhan memang menghendaki anaknya berangkat ke Singapore atau tidak. Mereka tidak ingin mendahului Tuhan Sang Gembala Agung di dalam mengambil keputusan. Lalu mereka sekeluarga sepakat untuk berdoa puasa. Dalam doa puasa itu, setiap malam mereka membangun mezbah keluarga. Di akhir doa puasa itu, mereka mendapatkan peneguhan bahwa Tuhan tidak menghendaki sang anak untuk berangkat ke Singapore, karena usianya yang masih terlalu belia dan masih rentan untuk dibiarkan hidup sendiri tanpa bimbingan orang tua, dan karena tidak ada satu pun orang yang mereka kenal di Singapore yang bisa bertanggung jawab atas kerohanian anaknya ini.
Meskipun harus melepas berkat ini.namun semuanya merasa damai sejahtera. Dan ternyata Tuhan memang menyatakan rencana-Nya yang indah pada waktunya. Anaknya meskipun tidak jadi menerima beasiswa ke Singapore, tetapi ternyata juga bisa menerima beasiswa untuk bersekolah di salah satu SMP elite yang ada di kota tersebut. Bahkan di tahun-tahun itu, anak ini menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi dan dibaptis. Bukan hanya itu saja, anak ini mulai terlibat aktif di dalam pelayanan dan hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Orang tuanya sangat bersyukur, sekalipun dulu mereka harus melepaskan kesempatan anaknya mendapat beasiswa di Singapore, tetapi pengenalan pribadi anaknya akan Tuhan Yesus adalah jauh lebih penting, sebab itulah yang akan menentukan dasar di mana kehidupan anaknya akan dibangun.Mereka bersyukur, Sang Gembala Agung telah menuntun mereka mengambil keputusan yang terbaik.
Baca juga:
Yeshua Gembala yang Baik
Menjadi Domba yang Baik
YAHWE Adalah Gembalaku
Berkat bagi Orang yang Bergaul Akrab dengan YAHWE
YAHWE Sumber Berkat
Label:
berdoa,
berdoa bersama-sama,
bertekun dalam doa,
doa,
domba,
Gembala,
kehendak Tuhan,
ketaatan,
Puasa,
Rancangan Tuhan,
taat
Kamis, 24 Januari 2013
Pria Bertanggung Jawab Membawa Keluarganya pada Tuhan
Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbariing dan apabila engkau bangun. (Ulangan 6:6-7)
Tanggung jawab yang terpenting bagi seorang pria: membawa keluarganya kepada Tuhan. Lebih dari apa pun dan diapa pun, Tuhan harus menjadi nomor satu bagi keluarga kita. Kalau keluarga kita ada di tangan Tuhan, maka Tuhan sendiri akan menjadi pelindung, penolong, dan penuntun bagi keluarga kita. Keluarga kita akan aman di dalam tangan Tuhan. Yosua menjadi imam yang berhasil atas bangsa Israel karena sebelumnya berhasil menjadi imam atas keluarganya.
Ada sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak yang masih berusia 5 tahun. Setiap malam sebelum tidur, keluarga kecil ini akan berkumpul di lantai di sebelah tempat tidur untuk berdoa. Masing-masing anggota keluarga secara bergantian mendapat giliran untuk berdoa.
Namun sesudah tidur sang ayah sering memergoki anaknya diam-diam turun dari tempat tidur, duduk di lantai dan berdoa. Meski doanya pelan, namun suaranya masih terdengar jelas. Ayahnya yang tahu hal itu membiarkan anaknya itu berdoa singkat, hanya satu dua menit lalu tidur kembali.
Bagaimana bisa anak 5 tahun berinisiatif untuk berdoa sendiri? Ternyata anak ini sering melihat sang ayah terkadang turun dari ranjang dan berdoa di lantai malam-malam ketika semua sudah tidur. Sepertinya si anak memperhatikan kebiasaan ayahnya dan menirunya. "Like father like son" demikian bunyi pepatah lama.
Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan teladan hidup yang baik bagi anak-anak kita, seperti yang dilakukan oleh ayah ini. Jika kita benar-benar menghidupi apa yang kita katakan dan yakini maka anak kita akan dengan sendiriya meniru teladan kita. Kita tak bisa mengharapkan keluarga kita datang pada Tuhan jika kita sendiri tidak datang kepada Tuhan. Sebagai imam dalam keluarga, jadilah teladan untuk membawa keluarga anda datang kepada Tuhan.
Baca juga:
Dipanggil untuk Melayani
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Melayani Karena Kasih
Tanggung jawab yang terpenting bagi seorang pria: membawa keluarganya kepada Tuhan. Lebih dari apa pun dan diapa pun, Tuhan harus menjadi nomor satu bagi keluarga kita. Kalau keluarga kita ada di tangan Tuhan, maka Tuhan sendiri akan menjadi pelindung, penolong, dan penuntun bagi keluarga kita. Keluarga kita akan aman di dalam tangan Tuhan. Yosua menjadi imam yang berhasil atas bangsa Israel karena sebelumnya berhasil menjadi imam atas keluarganya.
Ada sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak yang masih berusia 5 tahun. Setiap malam sebelum tidur, keluarga kecil ini akan berkumpul di lantai di sebelah tempat tidur untuk berdoa. Masing-masing anggota keluarga secara bergantian mendapat giliran untuk berdoa.
Namun sesudah tidur sang ayah sering memergoki anaknya diam-diam turun dari tempat tidur, duduk di lantai dan berdoa. Meski doanya pelan, namun suaranya masih terdengar jelas. Ayahnya yang tahu hal itu membiarkan anaknya itu berdoa singkat, hanya satu dua menit lalu tidur kembali.
Bagaimana bisa anak 5 tahun berinisiatif untuk berdoa sendiri? Ternyata anak ini sering melihat sang ayah terkadang turun dari ranjang dan berdoa di lantai malam-malam ketika semua sudah tidur. Sepertinya si anak memperhatikan kebiasaan ayahnya dan menirunya. "Like father like son" demikian bunyi pepatah lama.
Tentu saja kita sebagai orang tua harus memberikan teladan hidup yang baik bagi anak-anak kita, seperti yang dilakukan oleh ayah ini. Jika kita benar-benar menghidupi apa yang kita katakan dan yakini maka anak kita akan dengan sendiriya meniru teladan kita. Kita tak bisa mengharapkan keluarga kita datang pada Tuhan jika kita sendiri tidak datang kepada Tuhan. Sebagai imam dalam keluarga, jadilah teladan untuk membawa keluarga anda datang kepada Tuhan.
Baca juga:
Dipanggil untuk Melayani
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Melayani Karena Kasih
Label:
berdoa,
berdoa bersama-sama,
bertekun dalam doa,
doa,
imam dalam keluarga,
mendengarkan Firman,
mengajar anak,
merenungkan Firman siang dan malam,
mezbah doa,
perintah Yahwe,
pria sejati,
teladan orangtua
Senin, 13 Agustus 2012
Gereja Perdana Adalah Sekumpulan Orang Yang Bertekun Sehati Berdoa Bersama
Kisah Para Rasul 1:9-26
Baca bagian sebelumnya.
Sebelumnya, dari Kisah 1:1-8, kita sudah belajar bahwa hidup Kristiani adalah hidup yang bersumber dan digerakkan oleh Roh Kudus. Sekarang pada bagian selanjutnya kita belajar bahwa hidup Kristiani adalah hidup yang bertekun dan sehati dalam doa.
Sesudah Yesus berpesan agar para murid menantikan janji Bapa, Yesus naik ke surga. Dan 2 malaikat berpesan bahwa "Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." (ayat 11). Kedatangan kembali Yesus menjadi bagian pokok iman Kristiani karena Dia, yang ditolak oleh umat-Nya, oleh bangsa Yahudi, dan sekarang ini juga masih ditolak oleh banyak orang, suatu saat akan datang dalam kemuliaan-Nya, menyatakan kuasa-Nya, dan membuktikan bahwa Dialah Tuhan yang berkuasa atas semesta ini. Dan tugas para rasul dan semua murid Kristus, orang Kristen, adalah menjadi saksi bahwa Yesus adalah Tuhan, Penyelamat, dan Raja yang akan datang ke dunia, menjadi Hakim atas seluruh umat manusia. Sebelum kedatangan-Nya kembali, kita, orang Kristen, setiap orang yang menyebut diri pengikut Kristus, apapun latar belajang denominasi kita, memiliki tugas yang sama, menjadi saksi, mewartakan Dia yang sudah datang ke dunia, disalib untuk menebus dosa manusia, naik ke sorga, namun suatu ketika akan datang sebagai Raja.
Sesudah itu para murid kembali ke kota, "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus." (ayat 14). Dikatakan di sini, "mereka semua" "bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama". Mereka diperintahkan untuk tinggal dan menantikan janji Bapa akan kedatangan Roh Kudus. Dan yang mereka lakukan untuk menantikan janji Bapa itu adalah bertekun berdoa, bersama-sama, tetapi tidak hanya bersama-sama, melainkan yang lebih penting adalah "sehati". Mereka menyatukan hati, fokus, seia sekata, sepakat, memohon satu hal yang sama, penggenapan janji Bapa.
Kita belajar di sini akan kekuatan doa yang dilakukan dengan bertekun bersama-sama dan sehati. Dalam ayat 15 diinformasikan bahwa jumlah mereka kira-kira seratus dua puluh orang. Dan mereka semua sehati, bertekun, bersama-sama berdoa, untuk satu permohonan yang sama. Jadi masing-masing dari mereka tidak sedang berdoa sendiri-sendiri, untuk permohonannya masing-masing, melainkan berdoa bersama-sama, bukan hanya bersama-sama namun masing-masing memikirkan pergumulannya sendiri-sendiri atau kepentingannya sendiri-sendiri, namun mereka sehati, satu tujuan, satu permohonan, yakni turunnya Roh Kudus atas mereka.
Baca juga:
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Sebelumnya, dari Kisah 1:1-8, kita sudah belajar bahwa hidup Kristiani adalah hidup yang bersumber dan digerakkan oleh Roh Kudus. Sekarang pada bagian selanjutnya kita belajar bahwa hidup Kristiani adalah hidup yang bertekun dan sehati dalam doa.
Sesudah Yesus berpesan agar para murid menantikan janji Bapa, Yesus naik ke surga. Dan 2 malaikat berpesan bahwa "Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." (ayat 11). Kedatangan kembali Yesus menjadi bagian pokok iman Kristiani karena Dia, yang ditolak oleh umat-Nya, oleh bangsa Yahudi, dan sekarang ini juga masih ditolak oleh banyak orang, suatu saat akan datang dalam kemuliaan-Nya, menyatakan kuasa-Nya, dan membuktikan bahwa Dialah Tuhan yang berkuasa atas semesta ini. Dan tugas para rasul dan semua murid Kristus, orang Kristen, adalah menjadi saksi bahwa Yesus adalah Tuhan, Penyelamat, dan Raja yang akan datang ke dunia, menjadi Hakim atas seluruh umat manusia. Sebelum kedatangan-Nya kembali, kita, orang Kristen, setiap orang yang menyebut diri pengikut Kristus, apapun latar belajang denominasi kita, memiliki tugas yang sama, menjadi saksi, mewartakan Dia yang sudah datang ke dunia, disalib untuk menebus dosa manusia, naik ke sorga, namun suatu ketika akan datang sebagai Raja.
Sesudah itu para murid kembali ke kota, "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus." (ayat 14). Dikatakan di sini, "mereka semua" "bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama". Mereka diperintahkan untuk tinggal dan menantikan janji Bapa akan kedatangan Roh Kudus. Dan yang mereka lakukan untuk menantikan janji Bapa itu adalah bertekun berdoa, bersama-sama, tetapi tidak hanya bersama-sama, melainkan yang lebih penting adalah "sehati". Mereka menyatukan hati, fokus, seia sekata, sepakat, memohon satu hal yang sama, penggenapan janji Bapa.
Kita belajar di sini akan kekuatan doa yang dilakukan dengan bertekun bersama-sama dan sehati. Dalam ayat 15 diinformasikan bahwa jumlah mereka kira-kira seratus dua puluh orang. Dan mereka semua sehati, bertekun, bersama-sama berdoa, untuk satu permohonan yang sama. Jadi masing-masing dari mereka tidak sedang berdoa sendiri-sendiri, untuk permohonannya masing-masing, melainkan berdoa bersama-sama, bukan hanya bersama-sama namun masing-masing memikirkan pergumulannya sendiri-sendiri atau kepentingannya sendiri-sendiri, namun mereka sehati, satu tujuan, satu permohonan, yakni turunnya Roh Kudus atas mereka.
Baca juga:
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana
Senin, 06 Agustus 2012
Doa Sepakat
Doa Sepakat
Matius 18:19-20 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.
Yesus mengatakan, bahwa jika ada dua orang sehati dan sepakat untuk meminta apapun kepada Bapa, maka Bapa akan mengabulkannya.
Doa sepakat, berarti dua orang atau lebih yang sedang berdoa, dalam satu keluarga, atau kelompok persekutuan, seia sekata, sehati sejiwa, memiliki satu pikiran dan satu kerinduan, dengan hati yang bulat, tanpa ragu dan bimbang, berdoa memohonkan sesuatu kepada Bapa. Sepakat, bukan hanya berkumpul secara fisik. Namun dengan seluruh keberadaan tubuh, jiwa, dan roh, kita memiliki satu permohonan yang sama.
Doa sepakat bisa ditunjukkan dengan mengamini apa yang dikatakan oleh orang yang sedang berdoa,
dengan penuh iman dan kemantapan serta dengan segenap keyakinan. Kata Amin yang saudara ucapkan, akan semakin memperbesar iman orang yang sedang berdoa.
Doa sepakat sangat baik dilakukan dalam sebuah keluarga. Berdoalah untuk suatu permohonan. Sebelum berdoa, bersepakatlah akan apa yang akan didodakan. Ketika salah seorang sedang mendoakannya, anggota keluarga lain mengamininya dengan suara mantap, dengan segenap hati dan jiwa. Maka rasakanlah iman itu akan tumbuh semakin besar, harapan akan semakin kuat.
Apapun yang baik yang didoakan oleh orang lain, aminilah itu. Amin, berarti anda setuju dan percaya kepada apa yang dikatakan. Dan percaya bahwa hal yang baik yang sedang dikatakan atau didoakan akan benar-benar terjadi.
Aminilah Setiap Hal Baik
Baca Juga:
Mukjizat Adalah Alami bagi Orang Percaya
Yahwe Sanggup Mengatur Suasana Hati Orang
Mengandung dalam Roh
Yahwe Sanggup Mengatur Suasana Hati Orang
Mengandung dalam Roh
Senin, 02 Juli 2012
Doa Radikal
Dalam Yosua 10 kita membaca, sesudah mengalahkan Yerikho dan Ai, dan mengadakan kesepakatan dengan penduduk Gibeon, Yosua harus menghadapi semua raja orang Amori yang menyerangnya, yakni raja Yerusalem, raja Hebron, raja Lakhis, dan raja Eglon. Pada kesempatan inilah kita membaca bagaimana Yosua berdoa untuk menghentikan matahari dan bulan. Karena permohonan seorang manusia, Tuhan berkenan menghentikan jalannya tata surya. Galaksi berhenti berkat doa seorang manusia.
Dalam kisa ini kita mengerti akan kekuatan doa. Kita sering mengecilkan arti doa. Padahal, "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16). Dari kisah Yosua kita belajar, bahwa tidak ada yang tidak bisa terjadi dalam hidup kita, kalau kita mau berdoa.
Banyak orang yang tidak mengalami mukjizat karena mereka merasa tidak layak dan berdoa dengan takut-takut. Mereka merasa bahwa doa mereka baru akan dijawab kalau mereka sudah layak. Padahal sebenarnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang layak di hadapan YAHWE. Yang sebenarnya diperlukan adalah keberanian untuk menghampiri TAHTA KARUNIA (Ibrani 4:16: Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.) Kalau urusan keselamatan saja YAHWE memberikannya kepada kia sebagai karunia, mengapa yang lain tidak? YAHWE mengabulkan doa kita, bukan karena kita layak, bukan karena doa kita lama, tetapi karena kerendahhatian kita untuk berani menghampiri TAHTA KARUNIA.
Yesus sudah mati buat kita, untuk menghapuskan semua dosa manusia, termasuk dosa-dosa yang belum dilakukan juga. Belajarlah dari kisah anak bungsu yang hilang. Ia benar-benar tidak layak, ia menghukum diri karenanya. Ia bisa terus memilih untuk menghukum diri, tetapi ia mau dan berani merendahkan diri utuk datang menghampiri tahta karunia Bapanya. Bapa tidak mempedulikan masa lalunya, tidak mengingat pengkhianatannya, tetapi Dia memberikan jubah terbaik, cincin terbaik, dan pesta terbaik untuk seorang anak yang tidak layak menerimanya. Demikian pula, Bapa YAHWE akan memberikan kepada kita jubah kebenaran ketika kita berani merendahkan diri dan mengakui kasih karunia-Nya dengan mau datang kepada-Nya.
Dalam kisa ini kita mengerti akan kekuatan doa. Kita sering mengecilkan arti doa. Padahal, "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16). Dari kisah Yosua kita belajar, bahwa tidak ada yang tidak bisa terjadi dalam hidup kita, kalau kita mau berdoa.
Banyak orang yang tidak mengalami mukjizat karena mereka merasa tidak layak dan berdoa dengan takut-takut. Mereka merasa bahwa doa mereka baru akan dijawab kalau mereka sudah layak. Padahal sebenarnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang layak di hadapan YAHWE. Yang sebenarnya diperlukan adalah keberanian untuk menghampiri TAHTA KARUNIA (Ibrani 4:16: Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.) Kalau urusan keselamatan saja YAHWE memberikannya kepada kia sebagai karunia, mengapa yang lain tidak? YAHWE mengabulkan doa kita, bukan karena kita layak, bukan karena doa kita lama, tetapi karena kerendahhatian kita untuk berani menghampiri TAHTA KARUNIA.
Yesus sudah mati buat kita, untuk menghapuskan semua dosa manusia, termasuk dosa-dosa yang belum dilakukan juga. Belajarlah dari kisah anak bungsu yang hilang. Ia benar-benar tidak layak, ia menghukum diri karenanya. Ia bisa terus memilih untuk menghukum diri, tetapi ia mau dan berani merendahkan diri utuk datang menghampiri tahta karunia Bapanya. Bapa tidak mempedulikan masa lalunya, tidak mengingat pengkhianatannya, tetapi Dia memberikan jubah terbaik, cincin terbaik, dan pesta terbaik untuk seorang anak yang tidak layak menerimanya. Demikian pula, Bapa YAHWE akan memberikan kepada kita jubah kebenaran ketika kita berani merendahkan diri dan mengakui kasih karunia-Nya dengan mau datang kepada-Nya.
Label:
berdoa,
doa,
doa radikal,
Tahta kasih karunia
Minggu, 22 Mei 2011
Masuk ke Ruang Maha Kudus
Ini adalah seri kedua dari posting: Mengobarkan Api Penyembahan kepada Yahwe. Dalam posting sebelumnya kita sudah membahas pentingnya mengobarkan api penyembahan kepada Yahwe. Dalam posting kali ini kita akan belajar bagaimana kita bisa masuk ke Ruang Maha Kudus di dalam penyembahan kita.
Ruang Maha Kudus adalah bagian paling dalam dari 3 bagian Bait Suci: pelataran, ruang kudus, dan Ruang Maha Kudus. Dan di dalam tempat Yang Maha Kudus itu ada sebuah tabut, yaitu kotak emas yang di dalamnya terdapat dua loh batu yang tertulis sepuluh perintah Yahwe (Keluaran 20, Ulangan 5). Hanya imam besar keturunan Harunah yang boleh memasuki Ruang Maha Kudus itu. Itupun hanya setahun sekali. Imam besar harus menyucikan dirinya dan kemudian mengenakan pakaian yang sangat khusus untuk masuk ke dalam tempat itu dan memercikan darah ke atas tutup tabut yang disebut "tutup pendamaian".
Bait Suci merepresentasikan kehadiran Yahwe di tengah-tengah Bangsa Israel. Dengan demikian, tiga bagian dari Bait Suci mewakili 3 tingkat penyembahan. Pelataran melambangkan penyembahan atau ibadah tanpa hadirat Tuhan. Ruang Kudus melambangkan tahap penyembahan di mana kita mulai merasakan hadirat Tuhan. Sedangkan Ruang Maha Kudus melambangkan hubungan yang sedemikian dekat dan intim dengan Yahwe.
Bagaimana caranya kita memasuki setiap tahap penyembahan dan beralih dari pelataran, ke ruang kudus dan akhirnya ke Ruang Maha Kudus?
1. Masuk ke Pelataran Tuhan
Mazmur 100:4 memberitahu kita cara untuk masuk ke pelataran Bait Suci: yakni dengan
(1) masuk melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur.
Dalam hal ini kita harus waspada setiap kali kita akan datang beribadah kepada Tuhan. Iblis pasti tidak senang kalau kita mendekat kepada Tuhan, ia akan mencari celah untuk menghambat kita datang kepada-Nya dengan memprovokasi lingkungan agar kita gagal masuk melalui pintu gerbang-Nya. Bisa jadi iblis akan menimbulkan sungut-sungut (lawan memuji) entah karena perilaku anggota keluarga kita (anak, suami, istri) atau situasi yang lain. WASPADALAH! Sungut-sungut itu akan menutup pintu gerbang Yahwe! Jadi bukalah pintu gerbang Yahwe dengan ucapan syukur.
(2) dengan puji-pujian, dengan bersyukur, dan memuji nama-Nya.
Seandainya iblis berhasil menimbulkan situasi yang memancing kita untuk bersungut-sungut atau kecewa, PILIHLAH untuk tidak kecewa dan untuk tidak bersungut-sungut! Kenapa? Karena kita tahu bahwa kita akan bertemu dengan Raja di atas segala raja! Karena Dialah pemilik hidup kita! Dialah pencipta kita dan seluruh alam semesta! Jadi tidak ada alasan untuk memperhatikan "gangguan kecil" karena sesuatu yang Maha Besar sedang menunggu kita! Datanglah ke ibadah dengan sudah menyanyikan puji-pujian dari rumah, selama perjalanan, dan ...
(3) Datang tepat waktu ke ibadah
Nah karena kita hanya bisa datang ke pelataran-Nya dengan memasuki melalui pintu gerbang-Nya dengan puji-pujian, sebab itu jangan sampai kita melewatkan puji-pujian dalam persekutuan dengan datang tepat waktu dalam ibadah. Ikut pujian penyembahan dari awal di gereja akan memastikan kita untuk masuk ke pelataran Yahwe!
2. Masuk Ruang Kudus
(1) Fokus kepada satu Penonton
Ketika kita datang ke ibadah, kita bukanlah penonton, melainkan "pemain." Hanya ada satu Penonton, yakni Tuhan. Tuhanlah yang menonton kita. Jadi bukan hanya para pelayan ibadah melainkan semua yang hadir dalam ibadah sedang bertugas untuk menjadikan ibadah menjadi ibadah yang benar-benar hidup. Menyanyilah dengan sepenuh hati. Berdoalah dengan sepenuh hati. Fokuslah pada satu-satunya Penonton, yakni Tuhan. Senangkan hati Penonton tunggal kita, dengan terlibat dalam ibadah dengan sepenuh hari dan segenap jiwa.
(2) Sikap menghormati Tuhan selama menyembah
Dalam Perjanjian Lama, kata menyembah berasal dari kata Ibrani "shachah," artinya menyembah, membungkukkan badan, melaksanakan penyembahan dengan membungkukkan badan, memberi hormat atau merebahkan diri di lantai.Dalam Perjanjian Baru kata menyembah berasal dari kata "proskuneo" yang artinya mencium tangan atau berlutut dan tersungkur sampai dahi menyentuh lantai dan dengan penuh penghormatan yang sungguh-sungguh. Jadi menyembahlah kepada Yahwe dengan sikap hormat yang sungguh-sungguh. Sadarlah bahwa kita sedang menghadap Raja di atas segala raja. Dengan sikap penuh hormat, kita menyadari bahwa segala puji, hormat, dan kemuliaan hanyalah milik Yahwe.
![]() |
| Bait Suci Salomo |
Ruang Maha Kudus adalah bagian paling dalam dari 3 bagian Bait Suci: pelataran, ruang kudus, dan Ruang Maha Kudus. Dan di dalam tempat Yang Maha Kudus itu ada sebuah tabut, yaitu kotak emas yang di dalamnya terdapat dua loh batu yang tertulis sepuluh perintah Yahwe (Keluaran 20, Ulangan 5). Hanya imam besar keturunan Harunah yang boleh memasuki Ruang Maha Kudus itu. Itupun hanya setahun sekali. Imam besar harus menyucikan dirinya dan kemudian mengenakan pakaian yang sangat khusus untuk masuk ke dalam tempat itu dan memercikan darah ke atas tutup tabut yang disebut "tutup pendamaian".
Bait Suci merepresentasikan kehadiran Yahwe di tengah-tengah Bangsa Israel. Dengan demikian, tiga bagian dari Bait Suci mewakili 3 tingkat penyembahan. Pelataran melambangkan penyembahan atau ibadah tanpa hadirat Tuhan. Ruang Kudus melambangkan tahap penyembahan di mana kita mulai merasakan hadirat Tuhan. Sedangkan Ruang Maha Kudus melambangkan hubungan yang sedemikian dekat dan intim dengan Yahwe.
Bagaimana caranya kita memasuki setiap tahap penyembahan dan beralih dari pelataran, ke ruang kudus dan akhirnya ke Ruang Maha Kudus?
1. Masuk ke Pelataran Tuhan
Mazmur 100:4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya
![]() |
| Pelataran Bait Suci |
(1) masuk melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur.
Dalam hal ini kita harus waspada setiap kali kita akan datang beribadah kepada Tuhan. Iblis pasti tidak senang kalau kita mendekat kepada Tuhan, ia akan mencari celah untuk menghambat kita datang kepada-Nya dengan memprovokasi lingkungan agar kita gagal masuk melalui pintu gerbang-Nya. Bisa jadi iblis akan menimbulkan sungut-sungut (lawan memuji) entah karena perilaku anggota keluarga kita (anak, suami, istri) atau situasi yang lain. WASPADALAH! Sungut-sungut itu akan menutup pintu gerbang Yahwe! Jadi bukalah pintu gerbang Yahwe dengan ucapan syukur.
(2) dengan puji-pujian, dengan bersyukur, dan memuji nama-Nya.
Seandainya iblis berhasil menimbulkan situasi yang memancing kita untuk bersungut-sungut atau kecewa, PILIHLAH untuk tidak kecewa dan untuk tidak bersungut-sungut! Kenapa? Karena kita tahu bahwa kita akan bertemu dengan Raja di atas segala raja! Karena Dialah pemilik hidup kita! Dialah pencipta kita dan seluruh alam semesta! Jadi tidak ada alasan untuk memperhatikan "gangguan kecil" karena sesuatu yang Maha Besar sedang menunggu kita! Datanglah ke ibadah dengan sudah menyanyikan puji-pujian dari rumah, selama perjalanan, dan ...
(3) Datang tepat waktu ke ibadah
Nah karena kita hanya bisa datang ke pelataran-Nya dengan memasuki melalui pintu gerbang-Nya dengan puji-pujian, sebab itu jangan sampai kita melewatkan puji-pujian dalam persekutuan dengan datang tepat waktu dalam ibadah. Ikut pujian penyembahan dari awal di gereja akan memastikan kita untuk masuk ke pelataran Yahwe!
2. Masuk Ruang Kudus
(1) Fokus kepada satu Penonton
Ketika kita datang ke ibadah, kita bukanlah penonton, melainkan "pemain." Hanya ada satu Penonton, yakni Tuhan. Tuhanlah yang menonton kita. Jadi bukan hanya para pelayan ibadah melainkan semua yang hadir dalam ibadah sedang bertugas untuk menjadikan ibadah menjadi ibadah yang benar-benar hidup. Menyanyilah dengan sepenuh hati. Berdoalah dengan sepenuh hati. Fokuslah pada satu-satunya Penonton, yakni Tuhan. Senangkan hati Penonton tunggal kita, dengan terlibat dalam ibadah dengan sepenuh hari dan segenap jiwa.
(2) Sikap menghormati Tuhan selama menyembah
Dalam Perjanjian Lama, kata menyembah berasal dari kata Ibrani "shachah," artinya menyembah, membungkukkan badan, melaksanakan penyembahan dengan membungkukkan badan, memberi hormat atau merebahkan diri di lantai.Dalam Perjanjian Baru kata menyembah berasal dari kata "proskuneo" yang artinya mencium tangan atau berlutut dan tersungkur sampai dahi menyentuh lantai dan dengan penuh penghormatan yang sungguh-sungguh. Jadi menyembahlah kepada Yahwe dengan sikap hormat yang sungguh-sungguh. Sadarlah bahwa kita sedang menghadap Raja di atas segala raja. Dengan sikap penuh hormat, kita menyadari bahwa segala puji, hormat, dan kemuliaan hanyalah milik Yahwe.
3. Masuk Ruang Maha Kudus
![]() |
| Tabut Perjanjian |
(1) Mengenakan kekudusan dan dengan Darah Anak Domba
Kalau dalam Perjanjian Lama, ada tabir yang memisahkan ruang kudus dengan Ruang Maha Kudus, dan hanya imam yang kudus yang berhak masuk ke dalamnya, dalam Perjanjian Baru, tabir itu sudah dikoyakkan saat Yashua atau Yesus menyerahkan nyawa-Nya dan menumpahkan darah-Nya di kayu salib (Matius 27:51). Terkoyaknya tabir itu telah membuka sekat yang memisahkan kita dari Ruang Maha Kudus. Darah Anak Domba telah melayakkan kita untuk masuk ke Ruang Maha Kudus. Jadi untuk masuk ke Ruang Maha Kudus, kita harus menjaga kekudusan kita: perkataan, pikiran dan perbuatan; dan kita berani memasuki hadirat-Nya yang kudus hanya dengan Darah Anak Domba.
(2) Menyembah Yahwe dalam Roh dan Kebenaran
Untuk masuk ke Ruang Maha Kudus, kita juga harus menyembah Yahwe dalam Roh dan Kebenaran.
Yohanes 4:23-24 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Yahwe itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Baca juga:
Label:
berdoa,
bersekutu,
fokus,
ibadah,
intim dengan Tuhan,
melayani,
memuji,
memuliakan,
penyembahan,
persekutuan,
sukacita,
syukur
Langganan:
Postingan (Atom)









