Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2013

Perwahyuan YAHWE bagi Jemaat di Efesus: Janganlah Idealisme Menghilangkan Kasih Mula-Mula

First Love: A HIstoric Gathering of Jesus Music Pioneers A New Kind of Love  1st Timothy - 'United in a Common Purpose' (First Love Discipleship Series)



Wahyu 2:2-3
Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.

Jemaat Efesus adalah jemaat yang memiliki standar yang tinggi. Mereka mau bekerja keras, tekun. Oleh karena standarnya yang tinggi ini, mereka tidak mentolerir orang yang jahat maupun orang yang menafik. Mereka tidak bisa sabar terhadap orang jahat dan menguji orang "yang baik" untuk mengetahui kemurnian orang tersebut. Dan mereka menemukan bahwa banyak orang yang menyebut diri rasul ternyata adalah pendusta. Jemaat Efesus juga sabar dalam penderitaan karena Nama YAHWE. Mereka bekerja dan melayani tanpa mengenal lelah.

Gambaran ini merupakan sebuah gambaran yang sempurna dari suatu jemaat. Sabar melayani, tabah menderita, tidak kenal lelah, tidak mau kompromi, dan menginginkan suatu kelompok jemaat yang tanpa cacat. Mereka tidak membiarkan orang jahat berada di tengah-tengah mereka dan tidak bisa mentolerir (tidak sabar terhadap) orang-orang yang demikian. Mereka juga tidak menerima begitu saja orang yang memiliki maksud baik (mengaku diri sebagai rasul) sebelum menguji ketulusan dan kesungguhan mereka dan tidak pernah membiarkan adanya pendusta di tengah-tengah mereka. Mereka menjadi saksi YAHWE dan pelayan yang setia. Mereka juga membenci ajaran sesat (pengikut Nikolaus, ayat 6), yang juga dibenti oleh YAHWE.

Tetapi ternyata terhadap jemaat yang "sempurna" ini YAHWE memiliki catatan negatif:

Wahyu 2:4-5
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

YAHWE menunjukkan bahwa jemaat yang memiliki standar tinggi ini ternyata menghadapi sebuah risiko yang cukup serius: mereka bisa meninggalkan kasih yang mula-mula. Dan ... ternyata, YAHWE mengingatkan, jemaat yang memiliki standar yang sangat tinggi ini bisa jatuh ... dan tidak sekadar jatuh ... mereka bisa jatuh amat sangat dalam.

Kehilangan kasih mula-mula bagi YAHWE merupakan suatu dosa yang serius, suatu kejatuhan yang cukup dalam,  sehingga orang yang mengalaminya harus segera bertobat. Dan kehilangan kasih mula-mula itu gampang menghinggapi orang-orang atau jemaat yang memegang standar yang tinggi. Kenapa? Karena jemaat yang demikian memiliki harapan yang tinggi. Orang yang memiliki harapan yang tinggi di sisi lain akan sangat mudah dibuat kecewa oleh harapannya sendiri. Kekecewaan terhadap orang lain yang mereka anggap memiliki banyak kelemahan dan yang kurang sempurna. Mereka gampang terfokus kepada kekurangan dan kelemahan dan bukannya kepada sesuatu yang baik dan yang positif. Mereka bisa menjadi terlalu peka terhadap setiap kelemahan dan menjadi terlalu kritis .... dan akibatnya mereka menjadi gampang sekali untuk kecewa.

Akibat lebih jauh dari kekecewaan ini adalah hilangnya kasih mula-mula. ... dan YAHWE tidak berkenan kepada jemaat yang meninggalkan kasih yang mula-mula. YAHWE mengingatkan kepada jemaat Efesus untuk segera bertobat .. untuk segera memulihkan kasih mula-mula ... untuk melakukan kembali apa yang semula mereka lakukan (ayat 5). YAHWE mengingatkan bahwa kekecewaan yang dibiarkan terlalu lama menguasai akan membuat jemaat kehilangan "kaki dian". Kaki dian berbicara mengenai hidup yang menjadi terang, hidup yang menjadi berkat, hidup yang menjadi saksi YAHWE. Dengan kata lain, kekecewaan bisa merenggut semuanya yang masih ada: kesetiaan dalam bersaksi dan melayani.



The Pastor's First Love: And Other Essays on a High and Holy Calling First Love



Baca juga:
The Story of Love: Mengasihi Tuhan
Memberi Adalah Bukti Kasih
Melayani Karena Kasih
Pembelaan Iman Stefanus di Hadapan Mahkamah Agama
Rahasia Keberhasilan Daud: Mengasihi dan Menaati Perintah Yahwe

 

 

 




Selasa, 23 Oktober 2012

Pembelaan Iman Stefanus di Hadapan Mahkamah Agama

Kisah Para Rasul 7

Baca bagian sebelumnya!

Pada bagian sebelumnya bagaimana Stefanus menjalankan pelayanan meja, yakni pembagian kebutuhan para janda, yang dipercayakan keadanya, namun juga sekaligus menjalankan tugas memberikan kesaksian serta melayani jemaat melalui tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Tindakannya itu mendatangkan iri dan dengki di kalangan jemaat Yahudi sehingga mereka menangkap Stefanus dan menghadapkannya ke Mahkamah Agama.

Stefanus membela imannya di hadapan imam-imam
Pembelaan Iman Stefanus
Pada bab 7 ini kita melihat bagaimana Stefanus melakukan pembelaan imannya di hadapan para imam dalam sidang Mahkamah Agama. Ia secara singkat mengutarakan sejarah keselamatan mulai dari bagaimana YAHWE memanggil Abraham sampai dengan zaman Salomo. Intinya Stefanus ingin membuat para imam sadar akan apa yang sedang terjadi, yang merupakan pengulangan sejarah kebodohan dan kebebalan bangsa Israel dalam menanggapi rencana keselamatan yang sudah selalu dan sekarang ini sedang dikerjakan YAHWE untuk bangsa Israel. Stefanus menunjukkan bahwa selama ini, selama berabad-abad, bangsa Israel telah menentang karya Roh Kudus. Ia memperingatkan dari sejarah bagimana nabi-nabi yang diutus YAHWE ditolak telah dan bahkan dibunuh oleh bangsa pilihan-Nya. Dan hal yang sama sekarang ini sedang dilakukan oleh bangsa Israel yang telah menolak dan membunuh Orang Benar, yakni YAHSHUA, yang diutus YAHWE untuk menjadi penebus dan mesias (ayat 52).

Kita tahu apa reaksi para imam terhadap kritik pedas yang disampaikan Stefanus. Stefanus berusaha menunjukkan warisan dosa yang sekarang ini juga sedang berkuasa atas bangsanya dan berharap agar mereka sadar akan warisan dosa tersebut namun usahanya itu tidak berhasil membukakan hati para imam. Sebaliknya, terhadap kebenaran yang diwartakan oleh Stefanus, mereka menutup telinga (ayat 57) dan menyeretnya keluar dan merajamnya.

Di sini kita belajar bahwa kebenaran yang kita sampaikan bisa disalahpahami dan membuat orang marah. Dalam kisah Stefanus, kemarahan tersebut berujung kepada kematian Stefanus yang setia melayani YAHSHUA.

Bapa, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka!
Stefanus Dirajam
Di akhir bab 7 Kisah Para Rasul, ada sebuah sikap yang sangat penting untuk kita pelajari dari saksi YAHSHUA yang berani dan setia ini. Terhadap para penganiayanya, para pembunuhnya, Stefanus berdoa kepada YAHWE agar YAHWE tidak menanggungkan dosa pembunuhan itu kepada para pelaku pembunuhan tersebut.

Hubungan intim Stefanus dengan YAHWE memberinya kekuatan untuk tetap setia dan berani bersaksi dan menyampaikan kebenaran. Hubungan yang intim dengan Roh Kudus memberikannya ketulusan dan kasih yang melimpah sehingga ia sanggup untuk selalu siap sedia memberikan pengampunan dan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang menyakiti, mengkhianati, dan menganiayanya.

Nyata bahwa keberanian Stefanus untuk membukakan dan menelanjangi kejahatan orang lain didorong oleh kasih yang tulus, kasih Agape, dengan doa dan harapan agar orang tersebut mau sadar dan berbalik dari kejahatannya. Keberaniannya dan kesetiaannya tidak didorong oleh kesombongan rohani melainkan oleh kasih yang tulus terhadap jiwa-jiwa yang terhilang.

Hendaklah setiap pelayanan dan kesaksian, serta teguran yang kita berikan kepada orang lain, benar-benar didasari oleh kasih yang tulus demi kebaikan orang yang kita layani, kita beri kesaksian, atau kita tegur. Sikap hati yang demikian bersumber dari kasih yang sejati kepada YAHWE dan hubungan yang intim dengan Roh Kudus-Nya. Dan YAHWE meneguhkan kasih yang demikian dengan menyatakan Diri-Nya kepada orang yang amat mengasihi-Nya (ayat 56).

Baca bagian selanjutnya!



Baca juga:
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Ketaatan Para Rasul Berhadapan dangan Otoritas Agama dan Dunia  

Senin, 15 Oktober 2012

Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin

Kisah Para Rasul 5:26-42

Baca bagian sebelumnya!

Pada bagian sebelumnya kita belajar bahwa tanda-tanda dan mukjizat dan perbuatan ajaib menyertai kehidupan para rasul. YAHWE secara ajaib ikut campur tangan di dalam kehidupan para rasul. Pada bagian ini kita akan belajar tentang ketaatan kepada YAHWE diperhadapkan dengan otoritas dunia, pemimpin agama.

Petrus dan para rasul sudah ditangkap dan dipenjara, namun dilepaskan secara ajaib oleh malaikat dan atas perintah YAHWE mereka mengajar di Serambi Salomo. Para rasul itu sebelumnya telah mendapat larangan dari Mahkamah Agama untuk tidak mengajar orang banyak dalam nama YAHShUA. Namun mereka taat kepada YAHWE yang menyuruh mereka untuk tetap mengajarkan firman yang hidup. Mereka kemudian ditangkap kembali dan Mahkamah Agama menegaskan bahwa mereka tidak boleh mengajar dalam nama YAHShUA. Terhadap larangan yang disampaikan Imam Besar itu Petrus mengatakan:

Kis 5:29 "Kita harus lebih taat kepada Elohim dari pada kepada manusia. 5:30 Elohim nenek moyang kita telah membangkitkan Yahshua, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. 5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Elohim sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. 5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Elohim kepada semua orang yang mentaati Dia."

Kita melihat sebuah keberanian yang luar biasa yang ditunjukkan oleh Petrus. Tentu kita masih ingat bagaimana Petrus pernah menyangkal YAHSHUA sebelum penyaliban itu t erjadi. Namun kini, Petrus bukan saja menolak larangan untuk memberitakan firman hidup namun juga mengungkapkan sebuah kebenaran di depan para imam dan Mahkamah Agama bahwa mereka telah bersalah karena telah membunuh YAHSHUA yang sebenarnya adalah Pemimpin dan Juruselamat yang diutus YAHWE untuk pertobatan Israel. Petrus juga mengatakan bahwa mereka adalah saksi. Petrus mengatakan "kami" artinya ia sendiri dan Roh Kudus. Kita menjadi tahu bahwa sumber keberanian yang luar biasa tersebut adalah kekuatan dari Roh Kudus yang menyertai Petrus.

Tentu saja perkataan Petrus itu amat menusuk hati para imam karena tanpa basa basi Petrus menuding kesalahan mereka. Jika bukan karena nasehat Gamaliel, seorang ahli Taurat yang dihormati, Petrus dan para rasukl yang lain pastilah sudah dibunuh oleh Mahkamah Agama. Akhirnya mereka disesah (ayat 40). Dan apa reaksi Petrus dan rasul-rasul yang lain?

5:41 Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama YAHSHUA. 5:42 Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang YAHSHUA yang adalah Mesias.

Terhadap penyesahan yang mereka terima, mereka merasa senang karena telah dianggap layak untuk ikut menderita penghinaan oleh karena nama YAHSHUA.Bukannya mengikuti apa yang diperintahkan oleh para imam dalam Mahkamah Agama, Petrus dan para rasul setiap hari mengajar orang banyak dan memberitakan Injil tentang YAHSHUA.

Hari ini kita belajar bahwa memberitakan firman hidup, memberitakan Injil tentang YAHSHUA, memberitakan nama YAHSHUA adalah wujud dari ketaatan kita kepada YAHWE. Kita akan dimampukan untuk taat ketika kita membiarkan hidup kita dituntun oleh Roh Kudus, ketika pengurapan YAHWE melalui Roh Kudus-Nya ada pada kita, ketika kita menjadi saksi bersama Roh Kudus. Kita juga harus sadar bahwa memberitakan nama YAHSHUA memiliki risiko langsung terhadap hidup kita. Petrus dan para rasul telah disesah, dan bahkan nyaris dibunuh, karena mereka memberitakan nama YAHSHUA.

Bersama Roh Kudus kita akan lebih bisa taat kepada YAHWE dan bahkan diberi kekuatan untuk menentang otoritas yang jahat yang jelas-jelas menghalangi kehendak YAHWE.

Baca bagian selanjutnya!

Baca juga:
Ketaatan Para Rasul Berhadapan dangan Otoritas Agama dan Dunia
Mukjizat Menjadi Unsur Utama dalam Pelayanan dan Penginjilan
Motivasi Pelayanan: Belajar dari Ananis dan Safira
Cara Hidup Jemaat Pertama: Semua Milik Semua
Cara Hidup Jemaat yang Pertama

Sabtu, 06 Oktober 2012

Cara Hidup Jemaat Pertama: Semua Milik Semua

Baca bagian sebelumnya


Pada bagian sebelumnya, kita belajar bagaimana jemaat pertama menghadapi dan menyikap tantangan dan ancaman yang muncul akibat pemberitaan Injil. Dalam bab ini, mengulang pasal 2:41-46, kita belajar bagaimana jemaat pertama itu hidup dalam kesehariannya. Kalau pada Kis 2:41-46 kita diberi tahu bahwa jemaat bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama, sekarang kita akan melihat penjelasan yang lebih detil dari gaya hidup jemaat perdana itu.

Kisah Para Rasul 4:32-37

:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. 4:34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa 4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. 4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. 4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Jemaat pertama atau gereja perdana adalah orang-orang yang memiliki ciri-ciri berikut:

  • orang yang telah percaya
  • sehati
  • sejiwa
  • segala sesuatu adalah kepunyaan bersama
  • memiliki kuasa yang besar
  • memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yahshua
  • semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah
  • tidak ada yang kekurangan
  • yang mempunyai tanah atau rumah menjualnya dan membawa uangnya kepada rasul-rasul
  • lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai keperluannya

Sebuah gambaran kehidupan bersama yang teramat sangat indah. Mereka adalah orang yang telah percaya, sehati dan sejiwa satu sama lain. Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Yang mempunyai, seperti Yusuf, yang juga disebut Barnabas, menjual miliknya, ladang, dan menyerahkan uang hasil penjualan tersebut kepada rasul-rasul. Selanjutnya uang tersebut dibagikan kepada setiap orang (bukan hanya orang tertentu) sesuai dengan kebutuhannya.

Jadi wajar apabila di antara mereka tidak ada yang berkekurangan karena yang kaya rela berbagi harta kepada yang lain. Dan karena mereka menerima sesuai dengan keperluannya, maka tidak ada yang kekurangan suatu apapun.

Para rasul juga dikatakan: mereka dengan kuasa yang besar memberi kesaksian tenang kebangkitan Tuhan Yahsua dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

Baca bagian selanjutnya!



Baca juga:
Cara Hidup Jemaat yang Pertama
Roh Kudus Menjadikan Hidup Kita Menjadi Berkat bagi Orang Lain
Nilai Strategis Mukjizat dalam Penginjilan
Penyembuhan Menjadi Bagian Integral Gereja Mula-Mula
Pola Kesaksian Gereja Mula-Mula


Jumat, 05 Oktober 2012

Penginjil Menghadapi Tantangan dan Ancaman Dunia Luar

Kisah Para Rasul 4:23-31

Baca bagian sebelumnya

Pada bagian sebelumnya, kita belajar bagaimana Roh Kudus mennjadikan hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Sekarang kita akan belajar bagaimana jemaat mula-mula menghadapi tantangan dan ancaman dari dunia luar sebagai reaksi terhadap penginjilan yang mereka lakukan.

Petrus dan Yohanes ditangkap dan dihadapkan ke depan sidang oleh para tua-tua setelah melakukan mukjizat, menyembuhkan orang lumpuh, dan berkotbah di serambi Salomo (Kis 3). Di sini ada fakta menarik, bahwa meskipun jelas-jelas bahwa para tua-tua dan ahli-ahli Taurat itu menyaksikan adanya mukjizat yang dikerjakan oleh para rasul itu, hal ini tidak menggerakkan ati mereka untuk bertobat. Sebaliknya, mereka memerintahkan dengan ancaman agar keduanya tidak mengajar dan berbicara lagi dalam nama Yashua (Kis 4:17-18,21).

Menghadapi pengalaman ini yang dilakukan para rasul adalah:

1. Petrus dan Yohanes menceriakan pengalaman itu kepada jemaat yang lain (Kis 4:23).
Hal ini berbicara mengenai sharing iman. Segala sesuatu yang dialami oleh penginjil diceritakan atau dibagikan kepada penginjil yang lain. Pengalaman yang dibagikan ini akan memperkaya anggota jemaat yang lain.

2. Jemaat berdoa memohon kekuatan (Kis 4:24-30)
Mendengar kesaksian Petrus dan Yohanes, jemaat berdoa dan berseru kepada YAHWE. Doa mereka berorientasi kepada pemenuhan kehendak YAHWE (ayat 28). Mereka menyerukan kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi kepada YAHWE dan memohon keberanian untuk tetap memberitakan Firman YAHWE (ayat 29).

3. Jemaat mengaitkan pengalaman mereka dengan nubuat yang ditemukan dalam Kitab Suci (Kis 4:25-27)
Di sini kita belajar bagaimana menghadapi situasi riil yang kita hadapi dengan nubuat Kitab Suci. Para rasul memberi kita teladan untuk selalu berpaing kepada Firman Kitab Suci di dalam memaknai setiap pengalaman hidup kita.

4. Mereka meminta YAHWE untuk mengerjakan lebih banyak tanda-tanda dan mukjizat oleh nama YAHSUA (Kis 4:30)
Jemaat mula-mula sadar akan arti penting tanda-tanda dan mukjizat dalam mendukung efektivitas penginjilan yang mereka lakukan. Mereka terus memohon terjadinya mukjizat menyertai setiap langkah penginjilan mereka.

Dan sebagai jawaban atas doa dan keungguhan hati mereka, YAHWE memenuhi mereka dengan Roh Kudus sehingga tempat di mana mereka berdoa menjadi bergoyang. Roh Kudus itulah yang membuat mereka memberitakan firman YAHWE dengan penuh keberanian.

Baca bagian selanjutnya!


Unlocking Heaven: Keys to Living Naturally Supernatural T.N.T.: Treasure-Hunters 'n Training: Empowered to Live a Dynamic Supernatural Life Walking in the Supernatural: Another Cup of Spiritual Java

Baca juga:
Roh Kudus Menjadikan Hidup Kita Menjadi Berkat bagi Orang Lain
Nilai Strategis Mukjizat dalam Penginjilan
Penyembuhan Menjadi Bagian Integral Gereja Mula-Mula
Pola Kesaksian Gereja Mula-Mula
Pentakosta, Ciri-Ciri Pekerjaan Roh Kudus

 

Sabtu, 15 September 2012

Roh Kudus Menjadikan Hidup Kita Menjadi Berkat bagi Orang Lain

Baca bagian sebelumnya

Pada bagian sebelumnya, dari Kisah 3:11-26, kita belajar mengenai nilai strategis mukjizat dalam pewartaan Injil, dan pada pasal selanjutnya kita tahu dampak dari mukjizat itu, yakni jumlah mereka yang percaya menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki (Kis 4:4).

Pada saat Pentakosta kita juga belajar bahwa Roh Kudus membuat para rasul itu menjadi berani untuk mewartakan kabar sukacita mengenai Tuhan Yesus Kristus yang telah disalibkan namun bangkit menjadi Tuhan dan Kristus. Keberanian Petrus dan Yohanes untuk berkotbah di tempat umum mengenai sesuatu yang baru bagi masyarakat Yahudi saat itu, yang berbeda dari apa yang selama ini diajarkan oleh kaum imam Yahudi, membawa keduanya kepada penahanan (Kis 4:1-3). Petrus dan Yohanes harus menghadapi sidang agama di hadapan para pemimpin, tua-tua dan ahli Taurat, dan Imam Besar dan para imam (ayat 5-6). Nah, kita sekarang melihat bagaimana kuasa Roh Kudus itu bekerja semakin dahsyat pada para rasul.

Keberanian untuk Menyatakan Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat.
Pertama, ketika ditanya mengenai kuasa atau nama yang membuat Petrus berani berkotbah dan melakukan mukjizat di hadapan sidang agama itu, dengan berani Petrus mengatakan sesuatu yang jelas akan membuat mereka semakin marah:

Kisah Para Rasul 4:8 "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, 4:9 jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan, 4:10 maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Elohim dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. 4:11 Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru. 4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." 

Kalau sebelumnya Petrus pernah menyangkal sebagai pengikut Yesus di hadapan hamba (bukan pemimpin atau pejabat) (Mat 26:75), sekarang ini, Petrus dengan berani bukan saja mengakui bahwa ia adalah murid Yesus, namun juga mengatakan di hadapan para pemimpin agama, orang-orang yang telah menyebabkan Yesus disalibkan, bahwa nama Yesus inilah yang menyebabkan terjadi mukjizat, bahwa Yesus yang telah mereka tolak dan salibkan, adalah Mesias yang dijanjikan, adalah Tuhan dan Penyelamat. Bahkan dengan tegas dikatakan oleh Petrus bahwa tidak ada keselamatan di bawah kolong langit ini selain di dalam nama Yesus, yang telah mereka salibkan.

Roh Kudus mentranformasi orang biasa menjadi luar biasa 
Kuasa Roh Kudus telah mengubah Petrus dan Yohanes, yang sebelumnya hanya pencari ikan, menjadi orang yang luar biasa, penuh keberanian dan hikmat dan sanggup mengubahkan orang lain. Perubahan ini tampak kepada orang lain, sampai-sampai para pemimpin agama Yahudipun mengakuinya.

Kis 4:13 Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.

Dari sini kita belajar bahwa menjadi pengikut Yesus yang diurapi Roh Kudus benar-benar mengubahkan. Petrus dan Yohanes, nelayan, sebelumnya penakut, kini diubahkan menjadi orang yang dipakai Tuhan untuk bersaksi di hadapan orang-orang, bahkan di hadapan para penguasa. Dan orang lain bisa mengamati adanya perubahan itu. Perubahan itu tampak dan bisa dirasakan oleh orang lain. Ada perubahan yang benar-benar nyata.

Roh Kudus mendorong orang percaya untuk menjadikan bersaksi sebagai cara dan gaya hidup
Para tua-tua dan pemimpin agama mengancam agar Petrus dan Yohanes tidak lagi mengajar dalam nama Yesus (ayat 18), namun Petrus mengatakan:

Kisah Para Rasul 4:19 Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Elohim: taat kepada kamu atau taat kepada Elohim. 4:20 Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." 

Kalau Roh Kudus ada di dalam diri kita, maka dorongan untuk bersaksi itu selalu ada dan bahkan tidak mungkin untuk tidak bersaksi. Roh Kudus memampukan kita untuk taat kepada YAHWE, yakni menceritakan kepada orang lain apa yang sudah dikerjakan YAHWE di dalam hidup kita.

Orang lain melihat kemuliaan YAHWE melalui kesaksian hidup kita
Kalau kita hidup akrab bergaul dengan Roh Kudus, hidup kita akan menjadi kesaksian yang hidup, yang menyatakan kemuliaan YAHWE. Kisah Para Rasul 4:21 orang banyak yang memuliakan nama Elohim berhubung dengan apa yang telah terjadi. Hidup orang percaya, apa yang dikatakan dan apa yang diperbuatnya, "menceritakan" kepada orang lain yang melihatnya akan kebesaran dan kemuliaan YAHWE.

Baca bagian selanjutnya

Baca juga:
Nilai Strategis Mukjizat dalam Penginjilan
Penyembuhan Menjadi Bagian Integral Gereja Mula-Mula
Pola Kesaksian Gereja Mula-Mula
Pentakosta, Ciri-Ciri Pekerjaan Roh Kudus