Tampilkan postingan dengan label kebebasan finansial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebebasan finansial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Februari 2011

Kebebasan Finansial (3): Muliakanlah Tuhan dengan Hartamu

Sebelumnya kita telah membahas 2 prinsip penting untuk meraih kebebasan finansial. Yang pertama adalah pola pikir kita; yang kedua adalah memiliki hati yang bijaksana. Sekarang kita akan membahas poin 3 dalam prinsip hidup berkebebasan secara finansial. Prinsip yang ketiga adalah:

Muliakanlah Tuhan dengan hartamu!

Amsal 3:9 Muliakanlah Yahwe dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, 10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. 

Itulah nasehat dari orang yang sangat kaya raya, yakni raja Salomo, berkaitan dengan harta kita. Kalau sekarang ini banyak di antara kita mau membayar mahal untuk ikut seminar tentang strategi menuju kebebasan finansial, hari ini kita mendapatkan nasehat gratis dari orang yang dicatat dalam Kitab Suci sebagai orang yang paling kaya yang pernah hidup di dunia. Salah satu bukti kekayaan Salomo dinyatakan dalam ayat berikut:

1 Raja-Raja 10:27 Raja membuat banyaknya perak di Yerusalem sama seperti batu, dan banyaknya pohon kayu aras sama seperti pohon ara yang tumbuh di Daerah Bukit. 


Beranggung jawabkah kita?

Bertanggung jawabkah kita?
Penyembahan yang sejati tidak hanya melalui doa penyembahan dengan mengangkat lagu penyembahan, tetapi melalui cara hidup kita dalam setiap aspek hidup kita: bagaimana kita mempergunakan waktu, tenaga, pikiran termasuk keuangan kita.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar kita bisa memuliakan Tuhan dengan harta kita.

1. Bertanggung jawab secara keuangan untuk hidup kita pribadi.
Bagaimana kita mempergunakan uang untuk kepentingan pribadi kita? Apakah kita menggunakan uang untuk semakin memperbaiki kesehatan kita? mempertumbuhkan iman kita? memperkembangkan pribadi kita? atau malah sebaliknya: memperlemah kesehatan?

2. Bertanggung jawab secara keuangan untuk keluarga kita.
Kebutuhan Pokok Keluarga
Selain kebutuhan pribadi kita, kita juga bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga kita: makanan, sandang, dan papan. Ini harus menjadi prioritas pertama di dalam keluarga.

3. Bertanggung jawab secara keuangan untuk orang lain.
Mother Teresa - Menjadi Berkat
Kita juga dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Kejadian 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
Amsal 19:17. Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Yahwe, yang akan membalas perbuatannya itu. 
Kita dipanggil untuk menjadi berkat, baik untuk orang yang sudah diberkati secara finansial (karena Tuhan akan memberkati orang-orang yang memberkati Abrahan, yang adalah orang yang sudah diberkati Tuhan), maupun untuk orang yang lemah, dan dengan demikian kita memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatan baik kita.


4. Bertanggung jawab secara keuangan untuk rumah Tuhan.

Kita bertanggung jawab untuk menjaga persediaan makanan di rumah Tuhan tetap ada, supaya pekerjaan Tuhan tetap bisa dilakukan, dan dengan demikian Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada kita.
Maleakhi 3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Yahwe semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Kita bahkan harus mengutamakan pekerjaan Tuhan di atas kebutuhan kita pribadi. Dari 1 Raja-Raja 17:8-16 kita belajar bagaimana Tuhan mencurahkan berkat kepada janda di Sarfat yang atas perintah Tuhan melalui Elia berani mengorbankan kebutuhan bagi keberlangsungan hidup anak dan dirinya sendiri bagi hamba Tuhan.
1 Raja-Raja 17:8. Maka datanglah firman Yahwe kepada Elia: 9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." 10 Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." 11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti." 12 Perempuan itu menjawab: "Demi Yahwe, Tuhanmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." 13 Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. 14 Sebab beginilah firman Yahwe, Tuhan Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu Yahwe memberi hujan ke atas muka bumi." 15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. 16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman Yahwe yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Pembangunan Rumah Tuhan
Dari kisah janda Sarfat kita juga belajar bagaimana Tuhan bisa memberi berkat kepada kita bahkan melalui orang yang sangat berkekurangan. Bagaimana Tuhan akan memelihara dan memberkati kita kalau kita terlebih dahulu mengutamakan pekerjaan Tuhan juga ditekankan oleh Yesus sendiri:
Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.  


Berikut ini adalah salam satu pedoman yang ideal bagaimana kita bisa mengelola keuangan kita untuk memuliakan Tuhan:
Pertama: 20% keuangan kita dipersembahkan untuk pekerjaan Tuhan, yang terdiri dari
10% untuk perpuluhan
10% untuk menabur

Kedua: 80% sisanya, kita bagi untuk kebutuhan kita yang lain, misalnya sebagai berikut:
10% untuk tabungan, atau membayar hutang
30% untuk tempat tinggal, untuk biaya kontrak rumah, biaya perawatan rumah
10% untuk biaya transport
30% untuk lain-lain: sandang, pangan, membayar tagihan-tagihan rutin, membayar sekolah, dll

Baca posting sebelumnya:
Kebebasan Finansial (1): Memiliki Pola Pikir yang Benar
Kebebasan Finansial (2): Memiliki Hati yang Bijaksana




Senin, 07 Februari 2011

Mencapai Kebebasan Finansial (2)

Sebelumnya kita telah belajar point pertama untuk mencapai kebebasan keuangan, yakni memiliki pola pikir yang benar, bahwa segala sesuatu di dalam hidup kita ini adalah milik Tuhan. Tuhanlah pemilik hidup kita dan segala sesuatu di dalam hidup kita.

Sekarang kita akan belajar point kedua: "Miliki hati yang bijaksama!"


Mazmur 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. 


Hati menentukan banyak hal di dalam hidup kita: kesuksesan hidup kita, kebahagiaan, dan keberhasilan keuangan kita. Hati yang bijaksana akan membuahkan keputusan yang bijaksana. Keputusan yang bijak akan membawa kepada tindakan yang bijak. Sebab itu kita harus menjaga hati kita, sebagaimana kata Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.


Kalau hati kita tidak dijaga, kita akan mudah tergoda oleh keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup.

Menurut penelitian pra profesor di California tahun 1993, hati manusia memiliki kemampuan berpikir sendiri. Bedanya dengan otak, hati manusia berpikir melalui emosi atau perasaan. Perusahaan-perusahaan yang sukses memanfaatkan kemampuan berpikir hati ini karena kebanyakan orang membuat keputusan bukan berdasarkan logika otaknya tetapi perasaan hatinya. Mereka membuat iklan-iklan yang menyentuh hati: menawarkan pola hidup yang lebih bergaya, lebih hebat, dsb.

Hati juga punya memori dengan mengingat kejadian dan menyertainya dengan jenis-jenis emosi tertentu. Dunia selalu berusaha untuk menanamkan memori-memori hati yang salah. Dan hati manusia cenderung menerima tawaran ini sementara sebenarnya otaknya tahu persis bahwa tawaran tersebut tidaklah baik bagi kehidupannya. Semua tahu bahwa merokok tidak baik bagi kesehatan tetapi manusia lebih mengikuti keinginan hati untuk menikmati gaya dan selera.

Dalam hal ini, banyak kehancuran keuangan dimulai dari tindakan yang tidak bijaksana, dari memori hati yang salah, dari kondisi hati yang tidak dijaga agar tetap bijaksana. Keinginan hati tidak akan pernah bisa dipuaskan: dari motor sederhana, ke motor baru, kemudian mobil sederhana, mobil yang lebih baik, dst.

Miliki hati yang bijaksana, syukuri apa yang sudah ada.

Jika kita berdoa dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan sungguh-sungguh, berpikir dengan sungguh-sungguh, kita akan menjadi lebih peka dengan sinyal berkat Tuhan. Kita akan dituntun kepada keputusan-keputusan yang tepat, tindakan yang tepat, dan berkat yang tepat. Dilandasi oleh syukur, menyadari bahwa semuanya milik Tuhan, berkat yang datangnya dari Tuhan akan membuat manusia semakin bersyukur.

Baca pembahasan sebelumnya: Mencapai Kebebasan Finansial (1)!
Baca juga:
Jika Dunia Ini Tidak Bisa Memberikan Ketenangan Hati 
Hati yang beracun

Minggu, 30 Januari 2011

Mencapai Kebebasan Finansial (1)

Kebebasan Finansial, financial freedom
Ayat emas:
2 Kor 8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. 

Kaya
Seberapa kaya agar seseorang bisa disebut orang kaya? Menurut survei, di dunia ini sangat jarang orang yang berani mengaku bahwa dirinya adalah orang kaya. Hanya 2% yang berani mengaku sebagai orang kaya. Padahal, Global Rich List London menampilkan data sebagai berikut:

Seandainya Anda memiliki penghasilan Rp 700.000 per bulan, Anda sudah termasuk dalam 50% orang terkaya di dunia.
Seandainya Anda memiliki penghasilan Rp 1 juta per bulan, Anda sudah termasuk dalam 30% orang terkaya di dunia.
Seandainya Anda memiliki penghasilan Rp 2 juta per bulan, Anda sudah termasuk dalam 15% orang terkaya di dunia.
Seandainya Anda memiliki penghasilan Rp 40 juta per bulan, Anda sudah termasuk dalam 1% orang terkaya di dunia.

Bebas Finansial
Artinya, kalau Anda memiliki penghasilan Rp 700.000 saja per bulan, Anda sudah mengalahkan separo penduduk dunia di dalam penghasilan. Kallau penghasilan Anda 1juta per bulan, penghasilan Anda sudah lebih tinggi dibandingkan 70% penduduk dunia lainnya. Kalau Rp 2 juta, Anda sudah lebih kaya daripada 85% penduduk dunia lainnya.

Pertanyaannya: bagaimana bisa orang tetap merasa belum kaya, padahal penghasilannya sudah lebih tinggi dibandingkan separo penduduk dunia, 70% penduduk dunia, bahkan 85% penduduk dunia? Kalau orang memiliki penghasilan Rp 1 jua per bulan, dan ditanya: apakah Anda orang kaya? Bisa dipastikan ia akan terperangah kaget: Ha! Saya orang kaya? Dan mungkin ia akan mengatakan: Kalau penghasilan saya 2 juta rp per bulan, mungkin saya bisa dikatakan kaya. Tetapi ketika kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka yang berpenghasilan Rp 2 juta per bulan, kita juga akan mendaatkan respon yang sama, dan orang itu akan mengatakan, mungkin kalau penghasilannya Rp 5 juta per bulan, ia bisa dikatakan kaya. Demikian seterusnya, bahkan yang berpenghasilan Rp 10 juta, 20 juta, 50 juta, dst.

Tuan atas Uang

Artinya apa: orang akan selalu merasa kebutuhannya jauh lebih besar daripada penghasilannya. Nah, lalu kapan kita bisa menikmati kebebasan finansial, berapa penghasilan yang dibutuhkan agar orang merasa kaya dan terbebas secara finansial? Firman Tuhan mengajarkan beberapa point agar kita bisa terbebas secara finansial. Untuk kali ini, kita akan belajar 1 poin saja.

Pola pikir:
"Sadari bahwa Tuhanlah sumber hidup kita, Tuhanlah pemilik segalanya di dalam hidup kita, Tuhanlah pemilik hidu kita."

Kebebasan Finansial
Cara kita memandang dan mengelola keuangan kita. Kita harus memiliki komitmen untuk memandang dan mengelola keuangan kita sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Kita harus mengubah cara berpikir kita mengenai keuangan.

Matius 9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.

Kanong anggur adalah cara berpikir kita, sedangkan anggur adalah berkat-berkat yang kita terima dari Tuhan. Agar bisa terbebas secara finansial, kita harus memandang keuangan kita sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Kalau kita sadar bahwa Tuhanlah pemilik hidup kita, maka:

1. Kita akan menikmati pemeliharaan Tuhan yang sempurna atas hidup kita. Tuhan menjamin hidup kita karena kita adalah biji mata-Nya.

Kantong Anggur
Matius 6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pulua akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."


Ulangan 32:10 Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. 


Mazmur 17:8. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu 


Zakharia 2:8 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu--sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya--: 

2. Kalau Tuhan sebagai pemilik hidup kita, kita akan gunakan keuangan kita sesuai dengan petunjuk Firman Tuhan. 
Di sini berbicara mengenai cara pengelolaan keuangan yang berkualitas. Manusia sifatnya terbatas, tetapi Tuhan tidak terbatas. Kita mungkin hebat daam mengelola keuangan kita, tetapi Tuhan jauh lebih hebat karena Dia tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dia bisa mengatur keuangan kita secara indah dan tepat. Kalau kita menggunakan keuangan kita sesuai dengan petunjuk Firman Tuhan, Tuhan bisa saja mendatangkan mujizat di dalam keuangan kita.

3. Kalau kita menempatkan Tuhan sebagai sumber hidup kita, kita akanmasuk kepada hubungan pribadi yang semakin intim dengan Tuhan.

Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 

Intim dengan Tuhan
Kalau hati kita menghamba kepada uang, kita akan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang. Dengan cara demikian, memang banyak orang bisa kaya raya di dunia ini. Tetapi apa gunanya semuanya itu kalau pada akhirnya kita kehilangan jiwa kita. Kalau sama-sama bekerja keras, sama-sama keluar keringat, namun pada akhirnya kita kehilangan semuanya itu, maka sia-sialah hidup kita.

Tetapi kalau kita mencari harta di sorga, dengan menempatkan Tuhan sebagai pemilik hidup kita, maka semakin hari kita akan semakin intim dengan Tuhan. Tuhan akan selalu memberkati dan mendatangkan kelimpahan di dalam hidup kita, mengerjakan mujizat di dalam hidup kita, dan pada akhirnya kita akan menerima kemuliaan di sorga.

Baca bagian selanjutnya .... Mencapai Kebebasan Finansial (2)

Baca juga:
Uang Alkitabiah
Pentingnya Merenungkan Firman Tuhan Siang dan Malam
Yahwe Memberiku Kekuatan