Tampilkan postingan dengan label penginjilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penginjilan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2013

Pelayanan Menurut Tuntunan YAHWE

Kisah Para Rasul 12:24-13:12

Baca bagian sebelumnya!

Firman Tuhan semakin tersebar dan makin banyak didengar orang (Kis 12:24) oleh karena pewartaan pewartaan dan pelayaan para anggota jemaat pertama dan kesaksian mereka. Disebutkan bahwa dalam jemaat ada beberapa nabi dan pengajar. Dalam Pasal 13 disebutkan bahwa di Anthiokia sendiri ada beberapa nabi dan pengajar, meskipun tidak dirinci siapa yang nabi siapa yang pengajar: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes dan Saulus. Menarik untuk dicatat bahwa salah seorang nabi atau pengajar itu adalah teman raja wilayah Herodes. Jadi pewartaan jemaat pertama menyentuh juga kalangan atas, teman sepengasuhan raja.

Paulus menghardik Baryesus
Paulus menghardik Baryesus
Ayat 2 pasal 13 disebutkan juga dan diulang kembali bahwa jemaat itu beribadah dan berpuasa. Ibadah dan puasa adalah salah satu gaya hidup jemaat pertama. Salah satu dampaknya adalah hubungan yang erat dengan Roh Kudus dan kehidupan jemaat selalu dituntun oleh Roh Kudus. Saat itu pula Roh Kudus menuntun mereka agar Barnabas dan Saulus dikhususkan bagi tugas yang sudah ditentukan oleh Bapa YAHWE. Dan sesudah mereka mendapat tuntunan itupun Kitab Suci mencatat bahwa mereka masih berpuasa dan berdoa kembali (ayat 3) dan setelah mereka meletakkan tangan atas dua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. Sebuah teladan hidup menggereja yang amat baik: berdoa dan berpuasa untuk tugas misi khusus anggota jemaat dan mereka semua membekali misionaris itu dengan “meletakkan tangan” sebelum utusan itu berangkat pergi.

Tujuan kepergian Barnabas dan Saulus pun ditentukan oleh Roh Kudus (ayat 4). Dicatat bahwa keduanya dibantu oleh Yohanes (ayat 5). Dan dalam kisah selanjutnya ditunjukkan bagaimana tugas penginjilan berhadapan dengan kekuatan kegelapan yang berusaha menghalang-halangi orang untuk mengenal YAHWE, Tuhan yang benar. Di Pafos Barnabas dan Saulus, yang juga disebut Paulus (untuk pertama kalinya Saulus disebut dengan Paulus - ayat 9) dituntun untuk menginjili gubernur. Namun roh jahat, lewat tukang sihir yang bernama Baryesus, atau yang disebut Elimas, berusaha menghalang-halangi agar gubernur mereka agar gubernur itu tidak sampai beriman kepada YAHWE. Dikatakan bahwa Baryesus ini adalah kawan gubernur tersebut, Sergius Paulus. Tentu saja karena ia teman pasti memiliki pengaruh yang besar dan bisa benar-benar menjadi penghalang bagi Barnabas dan Paulus untuk mengenalkan Yeshua kepada gubernur.

Namun di sini kita melihat bagaimana orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh dan bergaul akrab dengan YAHWE menang berhadapan dengan musuh. Penuh dengan Roh Kudus (ayat 9), Paulus menelanjangi kerja iblis yang penuh dengan tipu muslihat dan kejahatan dan oleh kuasa Roh Kudus Paulus menimpakan kebutaan sementara pada Baryesus. Roh Kudus membuat pekerjaan Paulus dan Barnabas menjadi berhasil dengan menyatakan pekerjaan ajaib di hadapan gubernur. Melihat kuasa yang menyertai Paulus, gubernur menjadi percaya dan takjub akan ajaran YAHWE (ayat 12).

Dari penggalan kisah perjalanan Barnabas dan Paulus ini kita bisa belajar:
1. Pentingnya doa dan puasa dalam kehidupan jemaat. Doa dan puasa menjadi praktik hidup sehari-hari dan hal itu membuat hubungan jemaat dengan YAHWE menjadi intim.
2. Hubungan yang intim dengan YAHWE membuat mereka peka dengan tuntungan YAHWE melalui Roh Kudus-Nya.
3. Hubungan yang intim dengan YAHWE membuat Barnabas dan Paulus mengetahui isi hati YAHWE sehingga Paulus tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan musuh. Paulus dimampukan YAHWE untuk melakukan nubuat dan diberi kuasa untuk melakukan pekerjaan ajaib termasuk untuk menghajar musuh.
4. Hubungan yang intim dengan YAHWE dan ketaatan dengan YAHWE membuat setiap pekerjaan nabi dan pengajar menjadi berhasil.

Baca bagian selanjutnya.

Baca juga:
Keterlibatan YAHWE dalam Penginjilan Jemaat Mula-Mula
Karya Roh Kudus Tidak Terkungkung Oleh Tradisi dan Hukum
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Roh Kudus Menjadi Daya Penggerak Gaya Hidup Jemaat Perdana

 

 

 

 



  

Minggu, 11 November 2012

Keterlibatan YAHWE dalam Penginjilan Jemaat Mula-Mula

Kisah Para Rasul 8:26-40

Baca bagian sebelumnya

Pada bagian sebelumnya kita belajar beberapa aspek kehidupan jemaat mula-mula berkaitan dengan mujizat, penginjilan, pembaptisan air dan pembaptisan Roh Kudus, dan pertobatan. Pada bagian ini kita akan melihat bahwa YAHWE turut campur tangan secara ilahi dalam karya penginjilan.

Bagian ini mengisahkan bagaimana YAHWE menuntun Filipus untuk menginjili seorang sida-sida Etiopia yang akhirnya menyerahkan dri untuk dibaptis. Campur tangan ilagi itu dalam hal berikut ini:

1. A: yat 26Kemudian berkatalah seorang malaikat YAHWE kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Dikatakan di sini "seorang malaikat" yang "berkata-kata" kepada Filipus. Malaikat itu menyuruh Filipus untuk berjalan ke selatan ke Gaza. Mengapa? Tidak dikatakan. Dalam ayat selanjutnya kita mengerti bahwa ternyata di jalan tersebut seorang sida-sida sedang pulang dari ibadahnya di Yerusalem dan sedang membaca kitab nabi Yesaya.Setelah menuruti perintah YAHWE melalui malaikat-Nya Filipus akhirnya menemukan sida-sida tersebut. Selanjutnya YAHWE memberi perintah kepada Filipus:

2. Ayat 29: Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" Perintah YAHWE selanjutnya amat sangat jelas: Filipus diperintahkan untuk mendekati kereta di mana sida-sida itu berada. Dan filipus menemukan bahwa sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya.Selanjutnya, tanpa petunjuk langsung dari YAHWE, Filipus sudah mengerti apa yang dikehendaki YAHWE karena kebetulan apa yang dibaca sida-sida itu persis mengenai YAHSHUA, inti dari karya penginjilan yang sedang diembannya. Filipus tahu bahwa YAHWE menghendaki agar ia menginjili sida-sida tersebut dan Filipus tahu bahwa YAHWE menghendaki agar sida-sida itu menerima keselamatan.

Nah, menarik untuk memperhatikan bagaimana Filipus bisa masuk ke dalam penginjilan terhadap sida-sida tersebut. Filipus memulai dengan sebuah pertanyaan: Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" (ayat 30). Dari sini kita belajar bagaimana menjalankan tugas penginjilan. Pertama, kita harus peka dan taat kepada tuntunan YAHWE. Kedua, kita harus peka terhadap keadaan orang yang akan kita injili, sehingga kita bisa menentukan jalan masuk yang paling tepat. Kita bisa memulai dengan pertanyaan yang mengena dengan situasi yang dihadapi oleh orang yang bersangkutan. Kita juga bisa membangkitkan rasa ingin tahu orang tersebut. Dalam kisah ini sida-sida itu akhirnya ganti bertanya: Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?" (ayat 34). Nah ketika orang mulai terbuka dan ingin tahu, maka jalan penginjilan sudah terbuka dengan lebar. Dan sebagai hasil dari pekerjaan penginjilan ini, sida-sida itu akhirnya minta untuk dibaptis (ayat 36-38).

3. Ayat 39: Dan setelah mereka keluar dari air, Roh YAHWE tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Pada ayat ini kita tahu bahwa keterlibatan YAHWE tidak hanya melalui tuntutan dengan perantaraan malaikat, Roh-Nya, atau suara-Nya, namun keterlibatan YAHWE dalam ayat ini sudah sangat "fisik": YAHWE melarikan Filipus, YAHWE membuat Filipus tiba-tiba menghilang dari hadapan sida-sida. Pada ayat 40 kita diberitahu bahwa YAHWE membawa Filipus ke Asdod untuk tugas yang sama: penginjilan.

Dari bagian kisah para rasul ini kita belajar bahwa kita perlu membangun hubungan yang intim dengan YAHWE agar semakin peka dengan tuntutan YAHWE. Kita perlu membuka diri kepada-Nya dan membiarkan Dia melakukan apa pun yang Dia mau atas hidup kita.

Baca bagian selanjutnya.

Baca juga:
Pemberitaan Injil dalam Masa Penganiayaan
Pembelaan Iman Stefanus di Hadapan Mahkamah Agama
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
 

Rabu, 24 Oktober 2012

Pemberitaan Injil dalam Masa Penganiayaan

Kisah Para Rasul 8:1-25

Baca bagian sebelumnya!

The illustrated Christian martyrology; being an authentic and genuine historical account of the principal persecutions against the church of Christ, ... parts of the world, by pagans and papists The Illustrated Christian Martyrology: Being An Authentic And Genuine Historical Account Of The Principal Persecutions Against The Church Of Christ, ... Parts Of The World, By Pagans And Papists...
Pemberitaan Injil dan Mujizat
Pada bagian sebelumnya Stefanus memberikan teladan kesaksian iman yang luar biasa yang memperlihatkan eratnya hubungan pribadinya dengan Bapa YAHWE dan Putera-Nya YAHSHUA serta persekutuannya dengan Roh Kudus, di mana kasihnya akan YAHSHUA mendorongnya dan memberinya keberanian untuk bersaksi dan menegur orang lain, yang membawa kepada kematiannya. Kematiannya menjadi permulaan penganiayaan yang menimpa jemaat mula-mula. Semua jemaat kecuali rasul-rasul tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (Kisah 8:1), sambil memberitakan Injil (ayat 4).

Salah satu anggota jemaat yang dilaporkan Kisah adalah Filipus. Kemungkinan ia adalah rekan sekerja Stefanus dalam "pelayanan meja" (Kis 6:5). Di Samaria ia memberitakan Mesias sambil melakukan tanda-tanda. Ia mengusir banyak roh jahat dan menyembuhkan orang-orang lumpuh dan timpang. Di sini kita sekali lagi melihat bahwa tanda-tanda dan mujizat, dalam bentuk kesembuhan dan pengusiran roh-roh jahat menyertai penginjil. Janji YAHSHUA dalam Markus 16:17-18 terpenuhi dalam diri orang yang percaya kepada YAHSHUA: mengusir setan demi Nama YAHSHUA, menumpangan tangan atas orang sakit dan orang itu akan sembuh, berbahasa baru, dan tidak akan celaka karena racun. Dan sebagai buah dari karya tersebut adalah: "Mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu" (ayat 6)..."Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu" (ayat 8).

Salah satu orang yang "bertobat" karena pemberitaan Filipus adalah Simon (Kis 8:913). Diceritakan bahwa Simon telah lama melakukan sihir dan orang menganggapnya memiliki kuasa Elohim atau Kuasa Besar (ayat 10) dan berhasil memikat hati semua orang. Namun kini orang-orang mengikuti Filipus dan memberi diri dibaptis, demikian pula Simon, karena mereka heran akan tanda-tanda yang diperbuat Filipus.

Pembaptisan Air v.s. Pembaptisan Roh Kudus
Berita keberhasilan pelayanan Filipus sampai kepada para rasul di Yerusalem sehingga diutuslah Petrus dan Yohanes untuk meninjau. Keduanya berdoa dan menumpangkan tangan pada jemaat agar mereka menerima Roh Kudus. Di sini kita belajar bahwa pembaptisan dalam Nama YAHSHUA perlu dilengkapi dengan penerimaan Roh Kudus (ayat 16-17). Dalam Alkitab Terjemahan Baru dikatakan bahwa "mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan". Kata hanya secara implisit mengandung arti bahwa pembaptisan saja belumlah cukup. Pembaptisan perlu dilengkapi dengan penerimaan Roh Kudus. Selanjutnya kita diberitahu bahwa penerimaan Roh Kudus bisa dilakukan dengan doa (ayat 15) dan kemudian diikuti dengan penumpangan tangan oleh Petrus dan Yohanes (ayat 18-19).

Simon: Dibaptis Namun Masih Terjerat Kejahatan
Melihat bahwa pemberian Roh Kudus terjadi melalui penumpangan tangan oleh para rasul, Simon, mantan penyihir itu memberikan uang agar ia juga menerima kuasa untuk bisa menyalurkan pemberian Roh Kudus dengan penumpangan tangan. Tindakan Simon ini dihardik keras oleh Petrus (Kis 8:20-23):

8:20 Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Elohim dengan uang. 8:21 Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Elohim. 8:22 Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; 8:23 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan."

Pemberian Roh Kudus melalui Penumpangan Tangan
Baptisan Roh Kudus
Yang bisa kita pelajari dari perkataan Petrus ini adalah:
1. Pembaptisan Simon belum sepenuhnya melepaskannya dari kejahatannya. Ia belum sepenuhnya bertobat dan Petrus menyuruhnya untuk bertobat.
2. Cara pandang seseorang terhadap uang dan karunia bisa membuat seseorang tidak berkenan di hadapan YAHWE. Simon menyangka bahawa ia bisa membeli karunia dan sikapnya itu dikecam keras oleh Petrus
3. Karunia Roh bisa menjadi bagian atau milik seseorang, namun tidak bagi orang lain. Dan kriteria yang membedakannya adalah "hati yang lurus" di hadapan YAHWE.
4. Meskipun sudah dibaptis, Simon ternyata masih terjerat oleh kejahatan. Dan itu membuat hatinya pahit seperti empedu.
5. Namun kabar baiknya, Petrus memberitahu kita bahwa kita bisa mengubah keadaan kita yang terjerat oleh kejahatan dengan cara bertobat dan berdoa.

Baca bagian selanjutnya!

Baca juga:
Pembelaan Iman Stefanus di Hadapan Mahkamah Agama
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin



Rabu, 17 Oktober 2012

Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula

Kisah Para Rasul 6:1-7


Baca bagian sebelumnya!

Pada bagian sebelumnya kita belajar mengenai penginjilan dan risiko yang harus dihadapi orang percaya berhadaan dengan penolakan dunia. Pada bagian ini Kisah Para Rasul menampilkan sisi lain dari gaya hidup jemaat mula-mula, di mana mulai timbul masalah, yakni pelayanan terhadap para janda, dan bagaimana masalah tersebut diselesaikan.

6:1 Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.6:2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Elohim untuk melayani meja. 6:3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, 6:4 dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." 6:5 Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. 6:6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. 6:7 Firman Elohim makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Bertambahnya jemaat, bertambah pula tanggung jawab karena jumlah yang harus dilayani juga bertambah. Nah, terkait dengan bagian sebelumnya berkenaan dengan pembagian hasil penjualan kekayaan dari anggota jemaat kepada semua orang sesuai kebutuhannya, janda-janda orang Yahudi yang berbahasa Yunani merasa terabaikan. Dalam hal ini "pelayanan meja", yakni pembagian kebutuhan jasmani kepada jemaat yang membutuhkan, menjadi kurang beres sehingga para rasul harus ikut terlibat dalam pelayanan tersebut. Sebagai akibatnya, pelayanan Firman (pembagian berkat rohani) menjadi terabaikan.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari.
1. Jemaat mula-mula disamping berdoa dan menginjil, mewartakan Firman dan kabar gembira keselamatan rohani, juga melayani meja, artinya membagi-bagikan berkat kepada orang yang membutuhkan. Salah satu contoh riil yang diungkap di sini adalah pelayanan kepada janda-janda. Baik sekiranya pelayanan yang demikian ini juga diterapkan di gereja-gereja sekarang.
2. Pelayanan meja ini oleh par rasul dianggap penting, sehingga ketika pelayanan ini terabaikan, mereka ikut terjun langsung di dalam pelayanan tersebut. Hal ini menyiratkan bahwa pelayanan meja ini harus diutamakan, mengingat bahwa para rasul ikut terlibat dan untuk sementara bahkan melalaikan doa dan pelayanan Firman. Dengan kata lain, pelayanan Firman hanya akan efektif jika pelayanan meja juga beres. Kalau pelayanan meja beres, kemungkinan pelayanan doa dan Firman tidak akan efektif.
3. Pelajaran selanjutnya adalah: agar semua pelayanan bisa dilakukan dengan baik, perlu ada pembagian tugas. Perlu ditunjuk orang-orang yang melakukan pelayanan meja secara khusus agar para rasul bisa fokus kepada pelayanan Firman.
4. Fokus. Fokus penting untuk keberhasilan pelayanan. Ada orang yang fokus kepada pelayanan meja, sementara para rasul fokus kepada pelayanan Firman.
5. Untuk ditunjuk menjalankan fungsi pelayanan meja orang tersebut haruslah dipilih oleh jemaat. Tentu ada kriteria dan bukan sembarangan orang yang dipilih. Bahkan dikatakan bahwa salah satu dikenal penuh dengan Roh Kudus.
6. Dan orang-orang yang dipilih itu harus didoakan terlebih dahulu sebelum memulai pelayanan.

Hal-hal tersebut di atas merupakan poin-poin yang bisa dipelajari dari pelayanan jemaat mula-mula. Sebuah pola pengelolaan jemaat yang perlu kita teladani, karena pada ayat terakhir (ayat 7) ada laporan bahwa Firman YAHWE semakin tersebar dan jumlah murid semakin bertambah. Bahkan, yang luar biasa, para imam, yang sebelumnya dilaporkan menentang mereka, ikut menjadi percaya kepada YAHSHUA.

Baca bagian selanjutnya!


Baca juga:
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
Ketaatan Para Rasul Berhadapan dangan Otoritas Agama dan Dunia
Mukjizat Menjadi Unsur Utama dalam Pelayanan dan Penginjilan
Motivasi Pelayanan: Belajar dari Ananis dan Safira
Cara Hidup Jemaat Pertama: Semua Milik Semua

Jumat, 05 Oktober 2012

Penginjil Menghadapi Tantangan dan Ancaman Dunia Luar

Kisah Para Rasul 4:23-31

Baca bagian sebelumnya

Pada bagian sebelumnya, kita belajar bagaimana Roh Kudus mennjadikan hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Sekarang kita akan belajar bagaimana jemaat mula-mula menghadapi tantangan dan ancaman dari dunia luar sebagai reaksi terhadap penginjilan yang mereka lakukan.

Petrus dan Yohanes ditangkap dan dihadapkan ke depan sidang oleh para tua-tua setelah melakukan mukjizat, menyembuhkan orang lumpuh, dan berkotbah di serambi Salomo (Kis 3). Di sini ada fakta menarik, bahwa meskipun jelas-jelas bahwa para tua-tua dan ahli-ahli Taurat itu menyaksikan adanya mukjizat yang dikerjakan oleh para rasul itu, hal ini tidak menggerakkan ati mereka untuk bertobat. Sebaliknya, mereka memerintahkan dengan ancaman agar keduanya tidak mengajar dan berbicara lagi dalam nama Yashua (Kis 4:17-18,21).

Menghadapi pengalaman ini yang dilakukan para rasul adalah:

1. Petrus dan Yohanes menceriakan pengalaman itu kepada jemaat yang lain (Kis 4:23).
Hal ini berbicara mengenai sharing iman. Segala sesuatu yang dialami oleh penginjil diceritakan atau dibagikan kepada penginjil yang lain. Pengalaman yang dibagikan ini akan memperkaya anggota jemaat yang lain.

2. Jemaat berdoa memohon kekuatan (Kis 4:24-30)
Mendengar kesaksian Petrus dan Yohanes, jemaat berdoa dan berseru kepada YAHWE. Doa mereka berorientasi kepada pemenuhan kehendak YAHWE (ayat 28). Mereka menyerukan kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi kepada YAHWE dan memohon keberanian untuk tetap memberitakan Firman YAHWE (ayat 29).

3. Jemaat mengaitkan pengalaman mereka dengan nubuat yang ditemukan dalam Kitab Suci (Kis 4:25-27)
Di sini kita belajar bagaimana menghadapi situasi riil yang kita hadapi dengan nubuat Kitab Suci. Para rasul memberi kita teladan untuk selalu berpaing kepada Firman Kitab Suci di dalam memaknai setiap pengalaman hidup kita.

4. Mereka meminta YAHWE untuk mengerjakan lebih banyak tanda-tanda dan mukjizat oleh nama YAHSUA (Kis 4:30)
Jemaat mula-mula sadar akan arti penting tanda-tanda dan mukjizat dalam mendukung efektivitas penginjilan yang mereka lakukan. Mereka terus memohon terjadinya mukjizat menyertai setiap langkah penginjilan mereka.

Dan sebagai jawaban atas doa dan keungguhan hati mereka, YAHWE memenuhi mereka dengan Roh Kudus sehingga tempat di mana mereka berdoa menjadi bergoyang. Roh Kudus itulah yang membuat mereka memberitakan firman YAHWE dengan penuh keberanian.

Baca bagian selanjutnya!


Unlocking Heaven: Keys to Living Naturally Supernatural T.N.T.: Treasure-Hunters 'n Training: Empowered to Live a Dynamic Supernatural Life Walking in the Supernatural: Another Cup of Spiritual Java

Baca juga:
Roh Kudus Menjadikan Hidup Kita Menjadi Berkat bagi Orang Lain
Nilai Strategis Mukjizat dalam Penginjilan
Penyembuhan Menjadi Bagian Integral Gereja Mula-Mula
Pola Kesaksian Gereja Mula-Mula
Pentakosta, Ciri-Ciri Pekerjaan Roh Kudus

 

Minggu, 09 September 2012

Nilai Strategis Mukjizat dalam Penginjilan

Kisah 3:11-26

Baca bagian sebelumnya

Dalam bagian sebelumnya kita belajar bahwa mukjizat kesembuhan adalah bagian integral dari orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Sekarang kita akan belajar bagaimana kesaksian atau penginjilan bisa menjadi lebih efektif melalui mukjizat.

Orang yang disembuhkan itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes sehingga semua orang yang ada di tempat itu mengerumuni mereka karena heran (ayat 1). Jadi mukjizat itu menjadikan orang-orang heran. Dalam keadaan heran orang menjadi lebih terbuka karena mereka membutuhkan penjelasan mengenai apa yang tidak bisa mereka pahami. Di saat itulah Petrus menjelaskan bahwa kesembuhan itu terjadi bukan karena kuasanya atau kesalehannya melainkan karena kepercayaan dalam Nama Yesus (ayat 16)

Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua.

Keheranan kerumunan juga dimanfaatkan Petrus untuk bersaksi, menginjil, untuk menceritakan hakikat Yesus (ayat 13-15), yang adalah Mesias yang dijanjikan (ayat 18), yang telah dinubuatkan oleh Musa (ayat 22).

Selanjutnya keheranan dan keterbukaan kerumunan juga dimanfaatkan Petrus untuk mengajak mereka bertobat dan untuk menerima Yesus sebagai penyelamat (ayat 19).

Petrus juga menyampaikan risiko kalau menolah Yesus, yakni dibasmi (ayat 23).

Petrus menegaskan bahwa mereka adalah pewaris nubuat dan perjanjian (ayat 25), bahwa YAHWE amat mengasihi mereka karena telah mengutus Putera-Nya untuk mati dan namun dibangkitkan bagi mereka, bahwa YAHWE ingin memberkati mereka (ayat 26).

Langkah terakhir yang dilakukan Petrus adalah menubuatkan masa depan mereka, bahwa mereka akan dipakai YAHWE untuk menjadi berkat bagi orang lain (ayat 25).

Baca bagian sesudahnya

Baca juga:
Penyembuhan Menjadi Bagian Integral Gereja Mula-Mula
Pola Kesaksian Gereja Mula-Mula
Pentakosta, Ciri-Ciri Pekerjaan Roh Kudus
Gereja Mula-Mula Mendasarkan Diri pada Kitab Suci