Tampilkan postingan dengan label mengasihi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengasihi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

Memberi Adalah Bukti Kasih

Giving: How Each of Us Can Change the World 29 Gifts: How a Month of Giving Can Change Your Life


Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (Yohanes 15:13)

Ada sebuah pepatah yang mengatakan ‘Kita bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi tidak mungkin bisa mengasihi tanpa memberi.’ Memberi adalah bukti kasih. Ketika kita memberi kepada anak kita, atau kepada orang tua kita, atau kepada kekasih/suami/istri kita, maka kita melakukannya karena kita mengasihi mereka. Memberi adalah respon yang otomatis dari mengasihi.

Suatu pagi yang sunyi di Korea tiba-tiba dipecahkan oleh suara mortir yang jatuh di atas sebuah rumah yatim piatu. Atapnya  hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng berhamburan ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka. Ada seorang gadis yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Tim medis didatangkan dan mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan gadis itu secepatnya adalah darah.

Setelah melihat arsip di rumah yatim piatu itu, dokter mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu dan menanyakan, “Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya untuk gadis kecil ini?” anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter memohon, “Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya untuk teman kalian, karena jika tidak ia akan meninggal.” Akhirnya ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah.

Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah. “Tenang saja, tidak akan sakit kok,” kata perawat itu. Lalu dokter mulai memasukkan jarum, ia mulai menangis. “Apakah sakit?” tanya dokter itu. Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. “Aku telah menyakiti bocah ini.” Kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya.

Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu. “Apakah sakit?”
Bocah itu menjawab, “Tidak, tidak sakit.”
“Lalu kenapa kamu menangis?” tanya dokter itu.
“Karena aku sangat takut untuk meninggal.” Jawab bocah itu.
Dokter itu tercengang. “Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?”
Dengan air mata mengalir di pipinya, bocah itu menjawab, “Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku.”
Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, “Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu?”
Sambil tetap menangis ia berkata, “Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya.”

Memberi adalah bukti kasih. Ketika kita mengasihi, maka kita tidak akan tahan untuk tidak memberi. Sekalipun seluruhnya harus dikorbankan.

Memberi adalah bukti kasih. Memberi adalah respon otomatis dari mengasihi.

Bapa kami bersyukur Engkau sudah memberikan bukti kasih-Mu kepada kami dengan memberikan Anak-Mu yang tunggal untuk menebus dosa kami. Kami rindu membalas kasih-Mu dengan mengasihi Engkau lebih lagi dan memberikan yang terbaik bagi-Mu. Di dalam nama Tuhan Yeshua kami berdoa. Amin

Baca juga:
Kuasa Memberi: Tuhan yang Pertama dalam Keuangan
Pemberi yang Hebat
Memberi maka Akan Diberi

Giving to God: The Bible's Good News about Living a Generous Life The Art of Giving: Where the Soul Meets a Business Plan

Rabu, 23 Januari 2013

Mengutamakan YAHWE di Atas Segalanya

Jawan Yesus: "Hukum yang terutama ialah; Dengarlah, hai orang Israel, YAHWE Elohim kita, YAHWE itu esa. Kasihilah YAHWE, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu" (Markus 12:29-30)

Tuhan menetapkan hukum yang terutama adalah supaya kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita. Itu artinya, Tuhan menginginkan supaya kita mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya. Kalau kita mengutamakan Tuhan di atas segalanya, maka hidup kita akan terfokus kepada Tuhan, tidak ada yang lebih penting bagi kita selain Tuhan saja. Pengejaran hidup kita hanyalah bagaimana supaya kita bisa menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Sementara fokus hidup kita adalah mengutamakan Tuhan, maka urusan kehidupan kita yang lain akan menjadi tanggung jawab Tuhan. Tuhanlah yang akan menjadi penyedia segala kebutuhan hidup kita, karena hidup kita berkenan dan menyenangkan hati-Nya.

Seorang pengusaha dan juga seorang pengurus gereja di Solo mengalami betapa indahnya ketika ia hidup dan belajar untuk mengutamakan Tuhan. Ia seorang panitia dalam pembangunan gedung gereja. Suatu hari ia menerima telepon dari gereja untuk rapat pembuatan mimbar gereja, dan mengingat sudah mepetnya waktu dengan jadwal peresmian gereja, maka diharapkan semua panitia bisa hadir.

Saat itu pengusaha itu agak ragu, karena sebetulnya hari itu ia ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan. Tetapi ia belajar untuk menomorsatukan Tuhan terlebih dahulu. Ia percaya bahwa semua urusan pekerjaannya pasti akan ditolong Tuhan. Ia memutuskan untuk mengikuti rapat pembangunan tersebut.

Rapat berlangsung cukup lama, sampai hampir sore hari, sehingga praktis ia tidak bisa mengurusi pekerjaannya. Namun justru di situlah sesuatu yang sangat ajaib terjadi. Sepulang dari rapat di gereja, tiba-tiba teleponnya berdering, dan yang meneleponnya ternyata adalah seorang supplier besar yang ingin membeli produk dari pengusaha tersebut. Padahal sudah sejak lama pengusaha ini berusaha menjual produknya kepada supplier itu tetapi selalu ditolak. Sekarang ini justru tiba-tiba supplier itu sendiri yang menghubungi dn ingin membeli produk dari pengusaha tersebut dalam jumlah yang besar. Dan bukan hanya sampai di situ saja, pada sore yang sama, seorang supplier besar yang lain juga menghubunginya dan mengatakan ingin membeli produk dari pengusaha itu juga.

Sungguh ajaib sekali apa yang Tuhan kerjakan. Kalau Dia diutamakan, maka urusan hidup kita yang lain Dia yang akan menolong!

Bapa, ajar kami untuk mengutamakan Engkau lebih dari apa pun dalam hidup kami. Kami rindu menyenangkan hati-Mu dan mendapat perkenanan di hadapan-Mu. Kami percaya bahwa urusan hidup kami yang lain ada di dalam kendali-Mu sepenuhnya. Terimakasih Bapa. Di dalam nama Tuhan Yeshua kami berdoa. Amin


Baca juga:
YAHWE yang Dapat Diandalkan
YAHWE Sumber Berkat
Kornelius, Berkat bagi Orang yang Mencari YAHWE dengan Tulus
Yesus Segera Memberikan Pertolongan
Memulai Hari Baru Bersama Tuhan
Tuhanlah Perisaiku

 

Selasa, 22 Januari 2013

Melayani Karena Kasih

Karena begitu besar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Tuhan mengasihi, maka Ia memberikan Anak-Nya bagi kita. Tuhan Yeshua mengasihi, maka Ia melayani jiwa-jiwa. Ia bahkan rela memberikan nyawa-Nya bagi kita yang dikasihi-Nya. Melayani berarti mengasihi dan melayani berarti memberi. Memberikan waktu kita, perhatian kita, mengorbankan perasaan kita, bahkan apa yang kita ingini sendiri, untuk orang lain. Bukan karena terpaksa, tapi karena kasih. Melayani berarti memberikan apa yang kita sendiri butuhkan untuk orang lain karena kasih.

Dilihat dari usianya Pak Suyatno tidak muda lagi, 58 tahun. Kesehariannya ia merawat isrinya yang juga telah usia. Mereka menikah lebih dari 32 tahun. Mereka dikaruniai 4 orang anak. Lalu mulailah cobaan datang. Sesudah melahirkan anaknya yang keempat tiba-tiba kaki istrinya lumpuh, tidak bisa digerakkan lagi. Seluruh hidupnya jadi lemah, lidahnya pun tidak dapat digerakkan. Tiap-tiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia meletakkan istrinya di depan TV agar isrinya tidak jadi kesepian. Walaupun istrinya tidak dapat berbicara, namun ia senantiasa melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha pak Suyatno tida terlalu jauh dari rumahnya hingga sianghari ia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya ia pulang memandikan istrinya, mengganti baju dan menemani istrinya nonton TV sembari menceritakan apa-apa yang dia alami seharian. Meskipun istrinya sendiri hanya dapat memandang namun hati Pak Yatno sudah cukup senang. Kebiasaan ini dikerjakan pak Suyatno kurang lebih 25 tahun, namun dengan sabar ia merawat istrinya dan membesarkan keempat anak mereka.

Inilah yang namanya melayani keluarga. Inilah kasih yang sejati itu. Tanpa kasih Tuhan memenuhi hati kita, kita tidak mungkin mengasihi dan melayani seperti itu. Tanpa kasih Elohim, kita tidak akan mampu untuk berkorban dan mengalahkan ego kita sendiri.

Hari ini mintalah kasih Tuhan memenuhi hati Anda sehingga Anda dimampukan untuk mengasihi dan melayani keluarga Anda. Bukan dengan kasih kita yang terbatas, tapi dengan kasih Elohim yang tak terbatas. Seorang pria sejati, seorang imam dalam keluarga, bersedia melayani keluarga lebih dahulu. Dan teladan kita ialah Tuhan Yeshua. Dia terlebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita pun mengasihi Dia. Dia terlebih dahulu berkorban bagi kita, sehingga kita un juga rela berkorban bagi Dia. Dia terlebih dahulu melayani kita, sehingga kita pun juga melayani Dia.

Doa untuk hari ini
Bapa yang baik, beri kami kasih-Mu yang tak trbatas sehingga kami bisa mengasihi dan melayani keluarga kami dengan penuh ketlusan hati. Ajar kami juga untuk menghargai kasih dan perhatian yang orang lain berikan kepada kami. Mampukan kami melihat yang baik dari keluarga kami, bukan hanya melihat kelemahan mereka. Ajar kami bersyukur buat keluarga kami. Terima kasih untuk keluarga yang terbaik yang Tuhan berikan bagi kami. dalam nama Tuhan Yeshua kami berdoa. Amin.

Baca juga:
Dipanggil untuk Melayani
Hubungan yang Intim dengan YAHWE di dalam Pelayanan
Pelayanan kepada Janda-Janda dalam Jemaat Mula-Mula
Ketaatan kepada YAHWE vs. Pemimpin
The Story of Love: Mengasihi Tuhan